Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Memberi arahan


__ADS_3

Tidak harus menunggu lama, ketiga temannya kini sudah datang tepat waktu.


"Dit, gimana? beneran ada pekerjaan kan, buat kita bertiga."


"Tentu saja, yuk ikut aku sebentar." Ajak Didit yang baru aja ngeluarin motornya.


"Kemana?" tanyanya.


"Ya ampun, Edi, Edi. Masih tanya juga kau ini, kita ke kebon lah. Memangnya kemana lagi? ke mall, gitu. Udah ah, ayo kita ngikuti Didit aja." Sahut teman yang satunya merasa geram.


"Oh ya ya, aku lupa." Katanya sambil nyengir kuda.


"Astaga! Di, benar-benar bikin emosi aja kau ini." Sahut yang satunya lagi, Edi hanya mentertawakan dirinya sendiri.


"Sudah ah, ayo ikut aku." Ajak Didit untuk pergi ke kebon milik mendiang ibunya.


"Dit, aku dibonceng kamu aja ya. Pegel tau, motor satu dinaiki tiga orang." Ucapnya.


"Ya sudah cepetan naik." Jawab Didit.


Dalam perjalanan, Didit mengendarai motornya dengan kecepatan yang tidak begitu kencang menuju kebon milik mendiang ibunya.


"Dit." Panggil temannya yang dibonceng.


"Ya, Cup, ada apa?" jawab Didit sambil mengendarai motornya.


"Tuh Dit, anaknya Pak Lurah yang cewek cakep banget ya." Ucapnya sambil menunjuk ke rumah Pak Lurah.


Sekilas, Didit ikut menoleh sambil menyetir setang motornya.


"Ya, terus kenapa kalau cantik? Elu naksir?" tanya Didit setelah melihat anak Pak Lurah yang terlihat hendak pergi kuliah.


"Menghayal terlalu tinggi kalau buat aku, Dit. Kalau kamu kan, sepadan. Kamu anak kuliahan, dan juga mempunyai pekerjaan. Aku yakin kalau anaknya Pak Lurah pasti mau menerima kamu, Dit." Ucapnya.


"Hem. Bukankah aku sudah bilang sama kamu, bahwa aku itu belum kepikiran untuk mengarah ke sana, aku masih banyak tanggungan. Salah satunya membahagiakan Kakakku dulu, itu tujuanku." Jawab Adit dengan fokus menatap jalanan.

__ADS_1


"Hem. Mau sampai kapan, Dit, Dit."


"Tenang aja sih Cup, nanti aku bakal kabari kamu kalau aku mau menikah. Sudahlah, jangan membicarakan hal itu lagi. Hari ini rencanaku mau mengajak Kak Anin liburan, jangan menambah PR untukku." Kata Didit, dan menambahkan kecepatannya agar segera sampai dan tidak terus-terusan ngobrol yang tidak penting, pikirnya.


"Ya Dit, ya." Jawabnya.


Tidak lama dalam perjalanan, Didit telah sampai di kebun milik mendiang ibunya.


"Nih, kita dah sampai. Ayo Cup, kita turun." Ucap Didit dan mengajak temannya untuk turun.


"Ini toh Dit, kebon milik ibu kamu. Wah, luas banget ya. Pantas aja kamu bisa kuliah, orang pendapatannya juga banyak."


"Ya, luas banget ya Cup." Timpal Edi ikut berkomentar.


"Ya, sangat luas." Komentar teman satunya lagi.


"Nggak kok, punya mendiang ibuku hanya sedikit, tidak luas. Selebihnya milik Pak Bupati, kebetulan waktu dulu itu ada lowongan untuk perkebunan. Nah, Ibuku mendapatkan izin untuk mengolah kebon ini."


"Oooh, aku kira milik keluarga kamu sendiri. Tapi tetap lumayan lah, dari pada tidak diambil kesempatan emasnya. Sukses deh buat kamu, memang pekerja keras keluarga kamu, Dit."


"Pekerjanya sudah banyak gitu loh Dit, kamu masih membutuhkan pekerja?" tanya Edi yang melihat sudah ada pekerja yang lainnya tenga sibuk mulai memetik buahnya.


"Mereka hanya memetiknya saja, nanti diantara kalian ada yang memeriksa di setiap pohonnya. Cukup kalian perhatikan saja pohon dan disekitarnya, jangan sampai ada buah yang busuk yang berserakan. Tenang saja, nanti akan ada yang mendampingi dan mengambil buah yang sudah busuk untuk dikumpulkan dan dijadikan pupuk." Jawab Didit dengan berbagai macam penjelasan.


"Kamu memang benar-benar hebat, Dit. Aku salut dengan kamu, atas kerja keras dan kegigihan mu." Ucap Ucup memuji hasil kerja keras temannya.


"Ya, aku juga ikutan bangga dengan kehebatan Didit dalam pekerjaannya." Timpal Edi ikut memuji keberhasilan Didit dalam mengembangkan usahanya meski lewat jalur pinjam lahan.


"Di, kamu aku tugaskan di kebon ini, mau 'kan? atau diantara kalian berdua, Ucup Dani."


"Edi aja juga tidak apa-apa." Jawab Ucup.


"Bagaimana menurutmu, Di?" tanya Didit pada Edi.


"Ya, ok lah, tidak apa-apa. Namanya juga kerja, ada sisi baik dan juga capeknya." Jawab Edi tanpa pilih-pilih.

__ADS_1


"Sip, baguslah kalau gitu. Dan kamu Cup, kamu akan memeriksa keluarnya barang dari kebon ini, berapa petinya, serta timbangannya juga."


"Siap, Dit." Jawab Ucup dengan semangat.


"Untuk Dani, kamu di rumah aja nunggu di gudang. Untuk pengemasan setiap kardusnya, nanti kamu akan di bantu dua orang atau tiga orang untuk mengemasi serta memisahkan barang yang super dan standar." Ucap Didit memberi perintah pada temannya.


"Siap dah, apapun tugas yang kamu berikan padaku, aku akan menerimanya. Kenapa tidak dari dulu-dulu kita diajak bekerja, Dit." Jawab Dani.


"Karena aku kira kalian itu sudah sibuk dengan pekerjaan kalian, mana aku tahu kalau kalian mau bekerja denganku." Ucap Didit.


"Ya nih, tau gini mah, dari dulu ikut kamu aja kerjanya." Timpal Ucup ikut komentar.


"Ya udah, mulai sekarang kalian akan ikut bekerja denganku. Nih, kunci gudangnya, awas hilang." Ucap Didit sambil menyerahkan kunci gudang yang ada di rumah.


Dani menerimanya.


"Ya, Dit, makasih banyak pekerjaannya. Selamat berlibur, semoga hari-harimu semakin jaya." Jawab Dani berterimakasih atas kebaikan dari Didit.


"Kek sama siapa aja, kamu ini. Udah ya, aku berangkat dulu. Yuk Dan, kamu ikut aku pulang." Ucap Didit berpamitan dan mengajak Dani ikut dengannya.


"Hati-hati ya, Dit. Selamat berlibur, makasih sudah memberi kita luang waktu untuk bekerja." Ucap Ucup mewakilkan kedua temannya.


"Ok, sama sama, selamat bekerja untuk kalian." Jawab Didit dan segera pulang ke rumah.


Karena tidak ingin sang kakak menunggunya lama, Didit menambahkan kecepatannya. Cukup memakan beberapa menit dari kebon, Didit telah sampai di halaman rumahnya. Motornya berhenti tepat di didepan gudang.


"Ini motor beserta kuncinya, kamu yang pegang. Aku percayakan semuanya sama kamu. Jika ada kesulitan, kamu bisa hubungi aku." Ucap Didit menyerahkan kunci motornya pada Dani.


"Ya, Dit, makasih. Hati-hati di perjalanan, utamakan keselamatan. Selamat berlibur dan menikmati liburannya." Kata Dani.


"Ya, Dan, makasih. Aku tinggal ya, selamat bekerja untuk kamu." Ucap Didit dan segera masuk ke rumah.


"Kak Anin, sudah siap atau belum?"


"Baru aja pulang, sudah tanya siap atau belum. Apa tidak salah, kamu bertanya sama Kakak seperti itu? seharusnya tuh, kamu cepetan mandi dan siap-siap. Kakak udah siapkan sarapan pagi untuk kamu, roti dan susunya sudah ada di meja makan." Jawab Anin yang baru saja keluar dari kamar.

__ADS_1


"Ya, Kak, aku mau mandi dulu." Kata Didit dan segera membersihkan diri.


__ADS_2