
Didit dan Anin yang baru saja selesai sarapan pagi, keduanya mulai bersiap-siap untuk berangkat.
Ketika tidak ada yang tertinggal, Anin dan Didit segera keluar dari kamarnya dengan membawa tas bawaan yang berisi pakaiannya masing-masing.
"Dit, kebon kita, bagaimana?" tanya sang kakak yang baru saja keluar dari kamar dan meletakkan tasnya yang berisi dua setel pakaian lengkap, beserta berkas penting untuk mendaftar kerja.
"Semalam aku sudah menghubungi Dani dan Edi, maupun Ucup. Aku minta kepada mereka bertiga untuk mengelolanya, terserah mau di tanami apa, sayuran kek, buah-buahan kek, atau ternak ayam sekalipun, aku tidak melarangnya." Jawab Didit sambil mengenakan jaketnya.
"Syukurlah kalau mereka mau, sayang kalau lahannya nganggur. Memang sih tidak luas, setidaknya jika dikelola juga bakalan ada hasilnya." Ucap Anin yang juga tengah merapikan pakaiannya.
"Ya, Kak, benar. Ngomong-ngomong, bawaan Kak Anin tidak ada yang kurang nih? coba diingat lagi, takutnya ada yang ketinggalan."
"Tidak ada, Kakak sudah mengeceknya dua kali. Alamat rumah Andika juga sudah Kakak bawa, dan tidak ada yang tertinggal." Kata Anin.
"Kalau gitu, sudah siap untuk berangkat nih?" tanya Didit memastikannya lagi.
"Ya, Dit, Kakak sudah siap untuk berangkat ke kota." Jawab Anin.
"Baiklah, kalau gitu kita berangkat sekarang juga. Jangan lupa untuk berdoa keselamatan dan kebaikan kita." Ucap Didit mengingatkan, dan ia meraih dua tas miliknya dan milik kakaknya sampai di depan rumah.
"Wah, mau pergi ke kota nih. Asik bener hidup kalian berdua ini, bosan di kampung langsung pindah ke kota." Ucap Ucup yang kebetulan baru saja datang bersama kedua temannya, Dani dan Edi.
"Jangan lupa ya, nanti pulangnya bawa calon istri, Dit." Timpal Edi ikut bicara.
"Hem, kamu ini. Tenang aja lah, nanti kalau sudah waktunya juga bakal punya istri. Sudahlah, ayo anterin aku dan Kakakku ke Terminal. Oh ya sampai lupa, ini kunci gudang dan kunci rumah. Ingat, jaga rumah ini dengan baik. Awas loh, kalau sampai ada yang bawa perempuan di rumah ini." Jawab Didit yang tak lupa memberi pesan untuk ketiga temannya sebelum berangkat ke kota.
__ADS_1
"Ya, Dit, ya. Kamu tenang aja, rumah kamu akan tetap aman bersama kami bertiga." Kata Dani meyakinkan.
"Sip, aku percayakan semuanya sama kalian bertiga. Kalau gitu, ayo cepetan antar aku dan kakakku sampai ke Terminal." Perintah Didit yang tidak ingin terlambat, dan juga kehilangan jadwal keberangkatan.
Cukup lama menuju Terminal Bus, akhirnya sampai juga di tempat yang dituju.
"Dit, Hati-hati ya di perjalanan. Kita doakan, semoga kamu dan kakakmu selamat sampai tujuan. Sukses buat kalian berdua, sampai bertemu lagi nanti." Ucap Dani mewakilkan kedua temannya.
"Ya, Dit, sukses pokoknya buat kamu dan kakak kamu. Semoga selamat sampai tujuan, hati-hati di manapun kalian berada, dan jaga diri kalian dengan baik. Semoga pulang dengan membawa keberhasilan, dan bertemu lagi." Timpal Edi ikut memberi doa untuk temannya.
"Semangat ya Dit, semoga apa yang menjadi tujuan kamu, semoga berhasil dan menjadikan kamu sukses. Ingat, ketika sudah sukses, jangan lupa dengan kampung halaman." Ucap Ucup yang juga ikut memberi doa untuk Didit.
"Terima kasih ya, atas semangat dari kalian, dan juga doa doa dari kalian. Buat kalian bertiga juga, semoga kita sukses bareng, meski kita tidak dalam satu pekerjaan. Aku akan selalu ingat kalian, dan juga bakal pulang ke kampung, entah kapan waktunya. Sampai bertemu lagi, semoga kita masih diberi kesehatan dan dapat bertemu serta berkumpul bersama." Jawab Didit berpamitan sebelum naik ke Bus.
Karena waktu yang sudah tidak bisa untuk berlama-lama, Anin dan Didit segera naik mobil Bus yang begitu bagus fasilitasnya.
"Kakak sudah yakin, 'kan? kalau kita akan pergi ke kota. Aku minta sama Kakak untuk memikirkannya lagi, sebelum Bus ini melaju. Karena yang aku takutkan, bahwa Kakak masih berat untuk pergi ke kota." Tanya Didit yang mencoba untuk memastikannya.
Anin menoleh kepada adiknya, lalu menganggukkan kepalanya yang berarti mengiyakan.
"Kakak sudah yakin untuk berangkat ke kota, segala resikonya sudah Kakak persiapkan sebelum Kakak memutuskan untuk pergi ke kota." Jawab Anin meyakinkan adiknya, bahwa dirinya sudah bertekad untuk berangkat mencari keberadaan sang kekasih.
"Baiklah, jika keputusan Kakak sudah bulat. Jadi, fix ini ya. Berdoa, semoga kita selamat sampai tujuan."
"Semoga," sambung Anin.
__ADS_1
Tidak lama menunggu, akhirnya mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Lambat laun saat memasuki jalan tol, kecepatan mulai meninggi dan sampailah di Dermaga penyebrangan menuju ke kota melalui Kapal besar.
"Sudah cukup lama sejak tidak kuliah, Kakak tidak pernah menyebrang lautan ini, Dit. Dulu aja karena ada tugas kuliah. Kalau tidak karena tugas, sepertinya belum pernah menyebrang." Ucap Anin saat sudah berada di dalam kapal, tepatnya menikmati hembusan angin dan melihat pemandangan di laut.
"Sama aja lah, Kak, aku juga karena tugas kuliah. Selama masa muda, aku tidak pernah kepikiran untuk liburan atau nyari pekerjaan di kota sebrang, yang ada aku tuh sibuk di perkebunan." Jawab Didit sambil menikmati hembusan angin.
"Dan sekarang kita akan memulainya dari nol, kita tinggalkan kampung halaman kita. Meski berawal lewat mecari rumah Andika, semoga akan ada peluang emas untuk kita." Ucap Anin dengan percaya diri, bahwa semuanya akan baik-baik saja dan sesuai harapan.
Didit mengangguk.
"Semoga yang kita harapkan akan tergapai ya Kak, dan kebahagiaan akan menghampiri Kakak. Tetap optimis dan percaya diri, itu kuncinya Kak." Jawab Didit dan tersenyum.
"Ya, benar katamu. Semoga saja, Andika tidak membohongi Kakak. Bikin tidak sabar saja untuk bertemu dengannya, mungkin dianya sedang sibuk dengan dunia kerjanya." Kata Anin yang selalu berprasangka baik kepada orang dicintainya.
Seperti janji Anin, tetap percaya jika bukti tidak dilihat lewat kedua matanya. Janji untuk setia dan tidak untuk ingkar, selalu dipertahankan oleh Anin.
"Sabar, Kak. Bentar lagi kapalnya juga menyandar di Dermaga, kita nikmati dulu pemandangan di laut yang begitu luas, seluas harapan kita menjadi orang yang sabar." Ucap Didit.
Cukup lama dalam perjalanan menyebrang lautan, tidak terasa kapal yang dinaikinya sudah sampai di Pelabuhan.
"Kak, kita sudah sampai. Ayo, kita naik Bus lagi." Ucap Didit saat melihat banyak kapal.
"Ya, Dit, kita sudah sampai. Yuk, kita naik Bus. Kakak sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Andika." Jawab Anin dengan semangat, dan segera kembali naik ke Bus bersama Didit.
Waktu yang sudah ditunggu-tunggu sedari tadi, akhirnya sampai juga. Tinggal beberapa jam lagi, sampailah di kota tujuan.
__ADS_1