
Masih berada di gedung, tempat acara resepsi pernikahan Elang dan Anin. Keduanya nampak serasi dengan penampilan yang sangat serasi, pepaduan warna yang sangat cocok untuk keduanya.
Setelah mendapatkan ucapan selamat dari Dinda dan Tian, dilanjutkan dengan Ayun bersama Nilam.
Saat mau naik panggung, Ayun dan Nilam berpapasan dengan Dinda. Dengan wataknya yang mulai sombong dengan orang yang tidak ia sukai, Dinda tak menyapanya sama sekali.
"Sudah deh, Nil, kamu tak perlu memperhatikan dia. Dinda sudah berubah, biarkan saja." Kata Ayun yang sedari tapi memperhatikan Dinda yang tengah berjalan bergandengan dengan Tian.
"Tau gak sih, Yun. Aku tuh pingin banget tampar dia, biar sadar dengan kelakuannya itu." Jawab Nilam dengan geram, juga mulai emosi.
"Percuma, gak bakalan mau terima nasehat dari kita. Sudahlah, abaikan saja." Kata Ayun.
"Ya, tapi bikin kesel, tau." Jawab Nilam dengan kesal.
"Sudahlah, mendingan kita temui Elang dan Anin, kita beri ucapan selamat untuk mereka berdua." Ajak Ayun yang tidak ingin menambah masalah, pikirnya.
__ADS_1
Nilam yang tidak ingin berantem dan membuang-buang waktunya, nurut dengan ajakan Ayun.
"Selamat ya, Nin, Elang, semoga bahagia, dan selalu diberi keberkahan, juga segera diberi momongan. Soalnya kita sudah tidak sabar ingin punya keponakan baru, ya gak Yun." Ucap Nilam memberi ucapan selamat kepada kedua teman gengnya di kampung dulu.
Kemudian, dilanjutkan oleh Ayun yang juga memberi ucapan selamat untuk kedua mempelai. Meski sudah memberi ucapan selamat, tetap memberi ucapan lagi di acara resepsi pernikahan.
"Terimakasih banyak ya, atas doa dari kalian. Kita doakan juga, semoga kalian berdua segera menyusul." Jawab Anin.
"Ya, Nin. Do'ain aja, semoga segera ditemukan dengan jodoh kita masing-masing." Kata Nilam.
"Ngomongin apaan kalian ini, sepertinya bau-bau nyebut namaku." Sahut Burnan saat udah berada di sekeliling ke empat temannya.
Sedangkan Dinda hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan, yakni duduk ditemani Tian.
Hatinya terasa panas, juga merasa kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi, hatinya yang mudah terbakar dengan rasa iri, membuat sosok Dinda sulit untuk diajaknya berteman.
__ADS_1
Semua kelima temannya yang berada di atas panggung sambil bersenda gurau, rasanya sangat membosankan harus melihatnya.
'Kalian semua boleh tertawa dengan sepuasnya, tetapi setelah ini, kalian akan menangis sejadi-jadinya.' Batin Dinda dengan tatapan penuh kebencian.
Sedangkan di atas panggung, satu persatu diantara teman-temannya, turun secara bergantian.
Setelah itu, acara akan dimulai secara live.
"Gimana Yen, suami kamu sudah sampai mana?" tanya Ibu kandungnya Anin yang sebenarnya sudah tidak sabar.
Takut, jika suaminya akan melakukan sesuatu hal buruk yang dapat menghalangi acara live pertemuan dan pengakuan tentang putrinya, dan juga tentang kebenaran.
"Sudah sampai perempatan sini, sebentar lagi sampai kok. Jadi, lebih baik kita bersiap-siap untuk menyambut kehadiran Kakek Pratama." Jawab ibunya Elang.
"Syukurlah, semoga acaranya berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan apapun. Karena aku sangat takut, jika akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Ucap Ibu kandungnya Anin dan Didit.
__ADS_1
"Mama jangan bicara seperti itu, tidak baik. Kita doakan, semoga acaranya lancar sampai selesai." Timpal Didit ikut bicara.