
Pak Ratno yang sudah menjemput keempat temannya sang majikan, segera untuk memberitahunya.
"Sebentar ya, Bapak mau panggilkan Tuan Elang dulu." Ucap pak Ratno saat sudah berada di ruang tamu.
"Ya, Pak, silakan." Jawab semuanya dengan serempak. Saat itu juga, pak Ratno segera memanggil Elang untuk menemui keempat temannya yang sudah datang sesuai janjinya.
Setelah itu, Ayun dan ketiga temannya termasuk Burnan, tengah memperhatikan isi dalam ruang tamu yang begitu mewah sambil menunggu Elang keluar untuk menemuinya.
Sambil memperhatikan isi ruang tamu, Dinda tak lepas dari khayalannya yang mengharapkan menjadi istri dari teman sekolahnya dulu.
'Andai saja aku yang menjadi istrinya Elang, hidupku pasti sangat beruntung. Sayangnya, semua ini gara-gara kehadiran Anin yang sudah menjadi penghalangku. Lihat saja, apapun caranya, aku harus mendapatkan Elang, titik.' Batin Dinda penuh harap, dan tidak peduli baginya jika dirinya sudah di tolak akan pengakuan cintanya oleh Elang.
Sambil menunggu Elang keluar dari kamarnya, Ayun dan ketiga temannya memperhatikan isi ruang tamu yang penuh desain dan ukiran yang begitu bagus.
Sedangkan Anin yang sudah merasa lega dan tidak ada lagi beban pikiran mengenai teman-temannya, dirinya tak begitu penat untuk memikirkannya lagi.
Seketika, terdengar suara ketukan pintu tengah mengagetkan keduanya yang hendak keluar dari kamar.
"Kamu duduk aja disini, biar aku yang akan bukakan pintu." Ucap Elang saat mendengar ketukan pintu kamarnya, Anin mengangguk.
"Pak Ratno, ada apa, Pak? apakah mereka sudah datang?" tanya Elang menebak.
"Sudah, Tuan. Sekarang mereka sudah ada di ruang tamu menunggu Tuan." Jawab pak Ratno yang tengah berdiri di depan pintu.
"Oh, baiklah. Suruh mereka duduk ya, Pak. Ah ya, sampaikan sama Bi Narsih untuk menyuguhkan minuman dan menyiapkan makan siang untuk mereka nanti." Perintah Elang pada pak Ratno.
"Baik, Tuan, permisi." Jawab pak Ratno dan pergi dari hadapan majikannya.
Anin yang dapat mendengar pembicaraan suaminya dengan pak Ratno, ia langsung bangkit dari posisinya dan mendekati sangat suami.
"Mereka sudah datang, ya?" tanya Anin memastikan.
Elang mengangguk dan tersenyum pada istrinya.
__ADS_1
"Ya, sayang, kata pak Ratno mereka sudah pada datang. Kamu mau ikut menemuinya langsung bersamaku, atau nanti setelah aku banyak mengobrol dengan mereka."
"Aku nanti aja ya, keluarnya. Aku belum siap untuk bertemu dengan mereka, mendingan kamu duluan aja yang menemuinya. Biarkan mereka mengobrol banyak denganmu agar lebih leluasa." Jawab Anin yang masih ada rasa takut.
"Yakin nih, kamu tidak mau menemui mereka langsung?" tanya Elang mencoba untuk memastikannya lagi.
Anin mengangguk dengan keputusannya.
"Baiklah. Kalau gitu, aku keluar duluan ya, sayang. Nanti kalau sudah mengobrol sama mereka, aku akan mengajakmu untuk keluar dan memperkenalkan bahwa kamu adalah istriku." Kata Elang sambil memegangi kedua tangan milik istrinya.
"Maafkan aku ya, sayang. Janji, setelah kamu mengobrol dengan mereka, aku siap untuk bertemu dengan mereka." Jawab Anin sambil menatap wajah suaminya sendiri.
Elang mengangguk, dan memeluk istrinya. Setelah melepaskan pelukannya, sebuah ciu_man mendarat di kening istrinya.
"Aku keluar dulu, ya. Jangan panik, karena tidak ada yang perlu kamu takutkan." Ucap Elang meyakinkan istrinya, Anin mengangguk.
Karena tidak ingin keempat temannya menunggu lama, Elang segera keluar dari kamar dan menemui mereka.
Kini, sosok Elang benar-benar terlihat sempurna dimata perempuan yang mengaguminya. Dengan perawakan yang tinggi dan badan yang berisi, membuat setiap perempuan yang melihatnya akan jatuh hati dan terpesona karena ketampanannya.
Dinda yang sedari dulu mengagumi sosok Elang, tak pernah menyerah untuk mendapatkannya. Tapi siapa sangka, jika Elang ternyata sudah menjadi suami temannya sendiri.
Begitu juga dengan Ayun dan Nilam, keduanya tidak pernah menyangka sama sekali, jika Elang bak harta karun yang tak terlihat, pikirnya.
"Maaf ya, sudah membuat kalian menunggu lama. Silakan duduk, jangan malu." Ucap Elang dan mempersilakan keempat temannya untuk duduk.
"Lang, ini seriusan rumah kamu?" tanya Ayun yang masih setengah mimpi dan setengah nyata, pikirnya.
"Ya iya lah, Yun. Kamu itu kalau mau kasih pertanyaan sama Elang tuh, yang beratan dikit, kenapa. Sudah tahu ini rumahnya Elang, pakai tanya segala, kamu ini mah." Sahut Nilam ikut menimpali.
"Siapa tahu aja, aku ini sedang bermimpi, Nil." Kata Ayun sambil nyengir kuda.
"Kamu mah sukanya mimpi, segala kenyataan aja dianggap mimpi." Ucap Nilam.
__ADS_1
"Hem. Gak juga sih, aku kan cuma gak nyangka aja kalau Elang seorang Bos. Secara, dia kan tinggal di kampung selama enam tahun, aku pikir memang ikut kakek dan neneknya di kampung, gitu." Jawab Ayun.
Sedangkan Dinda sendiri, sedari tadi hanya diam dan memperhatikan sosok Elang yang tengah duduk di hadapannya.
'Sudah tampan, kaya, Bos lagi. Siapa coba yang tidak jatuh hati dengannya.' Batin Dinda yang terus memperhatikan Elang yang penuh kharisma.
"Oh ya Lang, istri kamu dimana? katanya kamu sudah menikah, kok gak kelihatan." Tanya Nilam yang penasaran dengan istrinya Elang.
"Istriku sedang di kamar, katanya malu, nanti aku perkenalkan pada kalian." Jawab Elang dengan santai.
Bahkan, tidak menunjukkan kecurigaan apapun kepada keempat temannya.
"Oh ya, kalian bertiga sudah berapa lama berada di kota ini?" tanya Elang basa-basi.
"Sejak lulus kuliah, kita langsung mendaftar kerja untuk mencari pengalaman di kota. Eee gak tahunya kita ketagihan untuk tinggal di kota ini. Awalnya sih mau pilih berhenti kerja, tapi ternyata ada lowongan, ya udah kita langsung daftar aja. Dan ternyata, kamu Bosnya." Jawab Nilam mewakili kedua temannya.
"Bener loh, aku gak nyangka kalau kita bisa bertemu lagi seperti ini, sedihnya sudah tidak ada Andika." Kata Elang yang tiba-tiba teringat dengan mendiang temannya yang sudah pergi untuk selamanya.
"Anin gak ke sebut nih, padahal aku tuh kangen banget loh sama dia. Gimana ya, kabarnya? kamu serius nih, gak punya nomor ponselnya? kalau ada, aku minta dong, Lang." Ucap Ayun ikut menimpali, serta meminta nomor ponselnya.
Saat itu juga, Elang mengarahkan pandangannya pada Burnan. Seakan, dirinya meminta pendapat darinya.
Burnan yang mengerti maksud dari Elang, ia mengangguk pelan sebagai isyarat.
"Aku ada kok nomornya Anin, tapi aku tidak pernah menghubunginya. Kalau kalian ingin bertegur sapa dengannya, nanti aku berikan nomornya pada kalian."
Jawab Elang yang memang benar, jika dirinya tidak pernah menghubungi istrinya, lantaran sudah satu atap dan satu tempat tidur dengannya. Lantas, untuk apa dirinya menghubungi istrinya, pikir Elang yang merasa konyol dengan jawabannya sendiri.
"Aku kira kamu tidak punya nomornya Anin. Terus, kenapa kamu tidak pernah menghubungi Anin? apakah kamu ada masalah dengannya?"
"Tidak, aku tidak ada masalah apapun dengan Anin. Bentar ya, aku mau ambilkan ponselku dulu, sekalian mau memperkenalkan istriku pada kalian."
Jawab Elang dengan santai, sedangkan Dinda tersenyum mengembang saat mendengar pengakuan Elang yang tidak pernah menghubungi Anin. Perempuan yang selalu menjadikan rasa cemburu bagi Dinda.
__ADS_1