Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Bersenda gurau


__ADS_3

Banyaknya obrolan yang di ceritakan satu sama lain, tidak terasa sudah waktunya untuk makan siang.


Elang yang juga sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan dengan Burnan, ia mengajaknya untuk makan siang bersama.


"Bro, kita makan siang dulu yuk. Oh ya, untuk penjelasan dariku mengenai pernikahan aku dengan Anin, aku percayakan sama kamu untuk menceritakan kepada Ayun, Dinda, dan Nilam, jika mereka mendesak kamu." Ajak Elang untuk makan siang, tak lupa juga memberi pesan kepada Burnan, teman yang dipercayakannya.


"Ya, Lang. Kamu tenang aja, dan tidak usah khawatir. Jika mereka mendesak ingin tahu, nanti akan aku jelaskan ke mereka mengenai pernikahan kamu dengan Anin." Jawab Burnan.


"Makasih ya, Bro. Kamu orang satunya teman aku yang aku percaya. Aku hanya tidak ingin istriku disangka perempuan yang tidak tidak menikah denganku. Kamu tahu sendiri kan, aku sangat mencintai Anin dari dulu." Kata Elang berterus terang, Burnan mengangguk.


"Terus, bagaimana dengan Dinda? dia juga menyukaimu. Ditambah lagi dia bekerja di kantor kamu, apa tidak tambah khawatir?" tanya Burnan mengingatkan.


"Tidak apa-apa soal itu, lagi pula hanya karyawan biasa, bukan sekretarisku. Makanya, aku memberi tawaran sama kamu untuk menjadi sekretarisku." Jawab Elang kembali menyarankan kepada Burnan.


"Bukannya aku tidak mau, Lang. Ada pamanku, dan aku juga tidak yakin jika aku bisa menjadi sekretaris kamu. Aku tidak mempunyai pengalaman dan juga tidak punya kemampuan atau keahliannya." Kata Burnan yang merasa bingung, antara menerima tawaran atau menolaknya.


"Kamu tidak perlu khawatir, nanti kalau kamu sudah di ajari, nanti juga bakal bisa sendiri. Sudahlah, kamu tidak perlu pusing, nanti aku yang akan berbicara dengan paman kamu. Sekarang mendingan kita makan siang dulu, nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya." Ucap Elang dan mengajaknya untuk makan siang.


"Ya, Lang." Jawab Burnan, dan nurut dengan ajakannya.


Sedangkan di taman belakang, Anin masih ditemani ketiga temannya. Keempatnya tengah berbagi cerita satu sama lain, tetapi tidak membicarakan akan hubungan Anin dengan Elang.


Dinda yang merasa gagal mendapatkan Elang, hatinya terus merasa panas. Ditambah lagi melihat penampilan Anin yang sudah berbeda bak majikan.


Tidak hanya itu saja, Dinda merasa iri saat mengetahui nasib Anin yang lebih mujur darinya.


Nilam yang teringat dengan sosok Didit, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Nin, kalau bole tahu, adik kamu tinggal dimana? perasaan aku tidak melihat Didit."

__ADS_1


"Didit tidak tinggal disini, Nil. Adik aku tinggal bersama orang kepercayaan ayah mertuaku, dan diajak kerja di kantornya. Kata ayah mertuaku, Didit dijadikan sekretarisnya." Jawab Anin sambil menikmati buah segar yang baru metik dari pohonnya.


"Wah, beruntung banget ya Nin. Sekarang kamu dan adik kamu akhirnya menikmati hasil dari kesabaran kamu untuk melewati masa-masa sulit dulu." Kata Nilam.


"Ya, Nin, yang dikatakan Nilam ada benarnya. Ibarat kata nih, berakit-rakit dahulu, berenang renang ke tepian." Timpal Ayun ikut berkomentar.


"Tapi jangan lupa juga, kamu dan Didit harus hati-hati. Siapa tahu aja, kamu dimanfaatkan oleh keluarga Elang. Orang kaya kan, gitu, suka manfaatkan keadaan." Kata Dinda ikut bicara.


Ketiganya langsung menoleh pada Dinda.


"Kok kamu ngomongnya gitu sih, Din. Bukannya ikut senang, kamu menakut-nakuti." Ucap Nilam yang merasa sedikit kesal dengan apa yang diucapkan oleh Dinda barusan.


"Bukannya aku nakut-nakutin, aku bicara secara dengan fakta yang ada di jaman sekarang. Memangnya kalian sudah yakin, jika Elang hanya mempunyai istri satu? orang kaya loh, kebanyakan kurang puas kalau mempunyai istri satu. Aku mah bukannya ingin mencampuri urusan Anin, aku hanya mengingatkan aja." Kata Dinda tanpa merasa bersalah apapun.


Justru, Dinda begitu semangat untuk menjadi kompor. Tidak peduli jika nantinya akan mendapatkan marah dari Ayun dan Nilam, yang terpenting tujuannya tercapai, pikir Dinda dengan akal pikirannya.


"Aku percaya kok dengan suamiku, dia tidak akan pernah berpaling dariku. Aku tahu siapa Elang, dia tidak akan mungkin tega melakukannya padaku." Ucap Anin dengan percaya diri.


Ayun dan Nilam tersenyum mendengarnya. Tanpa disadari oleh keempatnya, bahwa sedari tadi obrolannya tengah di perhatikan dan di dengarkan Oleh Elang dengan Burnan.


Elang yang mendengar istrinya berbicara mengenai dirinya, tersenyum bahagia. Kemudian berdehem, semua menoleh ke sumber suara.


Seketika, tidak ada satupun yang melanjutkan obrolannya.


"Kedengarannya sangat seru, kalian semua sedang ngobrolin apaan?" tanya Elang sambil duduk di sebelah istrinya.


Anin mencoba menggeser posisi duduknya, tetapi ditahan oleh suaminya.


Bukan karena merasa risih, Anin sedikit tidak enak hati harus duduk bersebelahan dengan sang suami. Ditambah lagi sambil merangkulnya, tentu saja membuat Anin menjadi malu dan juga salah tingkah.

__ADS_1


Berbeda dengan Elang, justru dengan terang-terangan menunjukkan kemesraannya di depan teman-temannya.


"Cie ... yang sudah sah, maunya nempel terus nih ya ...." Ledek Nilam saat memperhatikan sepasang suami-istri yang ada di hadapannya.


"Makanya, buruan kalian menikah. Nih, Burnan masih sendirian." Jawab Elang, dan menepuk punggung Burnan yang tengah duduk di sebelah kirinya.


"Diam, kamu Lang. Jangan jadi kompor, cukup Nilam yang menjadi kompornya kamu." Kata Burnan.


"Cie cie ..., main kompor komporan nih." Timpal Ayun ikut-ikutan.


"Sudah sudah sudah, waktunya kita makan siang. Ngobrolnya nanti di lanjutkan lagi, sekarang kita makan siang dulu." Ucap Elang mengajak keempat temannya untuk makan siang.


"Gak usah repot-repot lah, Lang. Sudah bisa ngobrol kek gini aja udah seneng kok, akunya." Jawab Nilam yang tidak ingin merepotkan.


"Ya nih, Lang. Nilam mah gini modelannya, padahal tuh, memang lapar dia." Timpal Burnan ikut bergurau.


"Burnan, apa-apaan sih kamu ini, aku tuh sedang tidak lapar, tapi memang benar lapar sih, Lang." Jawab Nilam tanpa malu ketika bersenda gurau, meski terkadang bikin malu sendiri, pikirnya.


"Kamu mah memang gitu orangnya, sudah ah, ayo kita makan siang dulu." Kata Elang, dan segera bangkit dari posisi duduknya.


Dinda yang malas bersenda gurau, hanya diam dan ikutin ajakan pemilik rumah.


Saat sudah berada di ruang makan, semua mata teman Anin dan Elang tengah tertuju pada meja makan yang dipenuhi dengan masakan yang tak kalah bedanya dengan restoran.


"Lang, ini seriusan untuk makan siang?" tanya Ayun seperti tidak percaya saat melihat menu masakan yang berbeda-beda jenis masakannya.


"Ya lah, Yun, masa ya ini mimpi." Sahut Nilam yang sebenarnya juga ikutan seperti tidak percaya.


"Ayun mah kebanyakan mimpi, jadinya oleng." Kata Dinda yang mulai ikutan berkomentar, Nilam yang mendengarnya hanya tersenyum getir tanpa ada yang mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2