
Selesai menikmati makan siangnya bersama, Ayun dan ketiga temannya termasuk Burnan berpamitan untuk pulang.
"Lang, Nin, kita pamit pulang ya. Makasih banyak atas traktiran makan siangnya. Oh ya, jika kalian berkenan, jangan lupa untuk main ke rumah kosan kita." Ucap Nilam mewakilkan untuk berpamitan.
"Ya, makasih juga sudah berkenan main ke rumahku. Aku gak bisa janji, tapi akan aku usahakan mengajak istriku untuk sempatkan main ke rumah kosan kalian." Jawab Elang, Nilam maupun Ayun mengiyakan.
Sesudah berpamitan, satu persatu memeluk Anin, kecuali Burnan.
"Aku pulang ya, Nin. Sampai ketemu lagi di lain waktu." Ucap Dinda sehabis pelukan.
"Hati-hati dijalan, sampai ketemu lagi." Jawab Anin dan tersenyum ramah.
Setelah itu, mereka semua pulang bersama dan di antar oleh pak Ratno. Dan kini, tinggallah Anin dan Elang yang masih berada di teras rumah.
Tidak ada lagi bayangan yang tertinggal, Elang mengajak istrinya untuk masuk ke rumah sambil merangkul pinggangnya.
Sedangkan dalam perjalanan, Dinda terdiam sambil melihat jalanan yang dilewati oleh mobil yang di tumpanginya.
'Seharusnya ini mobil menjadi milikku, tapi kenyataannya aku hanya seorang penumpang. Lihat saja nanti di kantor, aku akan terus mendekatinya. Secara, Anin tidak mungkin akan ikut suaminya di kantor.' Batin Dinda yang masih terus dengan tujuannya.
"Din!"
"Aw! apaan sih, Nil?"
"Kamu ini ngelamun aja dari tadi, sampai-sampai gak sadarkan diri kalau kita ini sudah di depan rumah kos-kosan." Ucap Nilam sehabis menepuk punggung Dinda.
"Maaf, tadi tuh aku ngantuk banget." Jawab Dinda beralasan.
"Hem. Bilang aja kalau kamu tuh sedang melamun dan menghayal, udah deh ngaku aja." Timpal Ayun ikut komentar.
Sedangkan Dinda sendiri memilih segera turun dari mobil, dan langsung masuk kedalam rumah kos-kosannya.
__ADS_1
"Maafin teman kita yang satu itu ya, Pak. Sebelumnya kami Ucapkan banyak terimakasih atas kebaikan Bapak yang sudah bersedia mengantarkan kami." Ucap Nilam sebelum turun dari mobil.
"Ya, Non, sama-sama. Ini semua sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang supir." Jawab pak Ratno.
"Kalau gitu, kami turun ya, Pak. Untuk Burnan, sampai ketemu lagi di lain waktu ya, Bro." Kata Nilam, Burnan tersenyum ramah sambil mengangguk.
"Ya, Nil, sampai ketemu lagi di lain waktu. Untuk kalian berdua, jangan suka berantem, apalagi rebutan cowok, jangan sampai." Jawa Burnan yang tak lupa mengingatkan kedua temannya.
"Ya, tenang aja. Ya udah ya, sampai jumpa." Ucap Nilam dan segera turun dari mobil, dan diikuti oleh Ayun sampai di dalam rumah.
Sedangkan di lain tempat, Anin yang sudah berada di dalam kamar, segera menggosok giginya setelah suaminya keluar dari kamar mandi. Setelah ritualnya di dalam kamar mandi selesai, Anin ikutan duduk di sofa, tepatnya di sebelah suaminya yang tengah sibuk dengan layar laptopnya.
"Sedang sibuk, ya?" tanya Anin sambil memperhatikan suaminya yang tengah fokus pada layar lebarnya.
Dengan kilat, Elang langsung menoleh ke samping, dan tersenyum melihat istrinya sambil mengangguk pelan.
"Ya, aku sedang sibuk, kenapa dan ada apa, sayang?"
"Tidak ada apa-apa, hanya basa-basi ingin bertanya aja. Ya udah, lanjutkan saja kerjaan kamu." Kata Anin dan memilih untuk pindah posisi, agar tidak mengganggu suaminya yang tengah disibukkan dengan pekerjaannya.
Seperti drama lainnya, kini tubuh Anin tengah tengkurap di atas tubuh suaminya yang mengakibatkan keduanya saling menatap satu sama lainnya.
Meski keduanya sudah melakukan hubungan suami-istri, tetap saja masih menyisakan rasa canggung dan juga malu.
Tanpa ragu-ragu dan malu, Elang menc_ium bibir manis dan lembut milik istrinya dengan penuh naf_su dan gai_rah.
Dengan tidak sabar, Elang langsung bangkit dari posisinya dan menggendong istrinya sampai di atas tempat tidur.
Saat posisi Anin dibawah suaminya, Elang menatapnya begitu lekat. Kemudian, dilanjutkan kembali ciu_mannya. Anin yang tidak bisa berkutik dan menolak, melayani suaminya dengan pasrah.
Elang yang sudah dikuasai dengan sesuatu yang tertahan, secepatnya membuka kancing baju istrinya tanpa menyisakan sehelai benang pun yang melekat pada tubuh polosnya. Dengan balutan selimut, tubuh Anin tertutup.
__ADS_1
Setelah itu, Elang menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat pada tubuh polosnya. Hingga keduanya sudah dalam satu balutan selimut tanpa sehelai benang apapun yang melekat pada tubuh polos keduanya.
Sesuatu yang sudah tidak bisa untuk dikendalikan lagi, Elang maupun Anin melakukan ritual panjangnya di atas tempat tidur dengan penuh gai_rahnya masing-masing.
Tidak peduli dengan waktu yang dilewatinya bersama di atas tempat tidur dengan segala kenik_matan, tetap meluapkan apa yang tengah dirasakannya dan tidak bisa untuk dikendalikan sama sekali.
Sampainya pada titik pun_cak kenik_matan, keduanya terkulai lemas hingga tak berdaya. Lelah dan letih, telah membuat Anin dan Elang memilih untuk tidur setelah melakukan ritualnya.
Lain lagi di tempat yang sudah di janjikan, Tuan Mawan dan istrinya tengah menunggu seseorang yang sudah diajaknya untuk bertemu.
"Hai, Nyonya Vitton, apa kabarnya?" sapa ibunya Elang, yakni Yenizar Xandria.
"Kabarku sangat baik, kalian berdua bagaimana kabarnya?" jawabnya dan balik menyapa.
"Kabar kami seperti yang kamu lihat, kami baik-baik saja." Kata ibunya Elang, sedangkan Tuan Mawan memilih untuk diam.
"Syukurlah. Aku dengar, kalian sudah mempunyai menantu."
"Benar, aku sudah mempunyai menantu." Jawab ibunya Elang dengan senyumnya yang ramah.
Sedangkan perempuan paruh baya yang ada di hadapan ibunya Elang, tiba-tiba tertunduk sedih.
"Maafkan kami, bukan maksud untuk pamer." Ucap ibunya Elang yang merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku turut bahagia mendengarnya. Mungkin, andai saja tidak ada masalah, aku pun sama seperti kamu yang juga mempunyai menantu. Tapi, takdir berkata lain." Kata Nyonya Vitton.
"Yang sabar ya, semoga semua kekecewaan kamu akan tergantikan dengan kabar bahagia." Ucap ibunya Elang mencoba untuk memenangkan.
"Semoga saja, aku tidak begitu berharap yang berlebihan, setidaknya aku akan berusaha untuk membahagiakan kedua anakku. Oh ya, kalau boleh tahu, kamu mengajakku pertemuan seperti ini, untuk apa? gak seperti biasanya sih, biasanya kamu main ke rumah, tapi kok ini lain?"
"Aku ada sesuatu yang penting, mengenai masa lalu kamu." Jawab ibunya Elang yang akhirnya berterus terang.
__ADS_1
"Mengenai masa laluku, maksudnya apa?"
"Bentar, aku mau ambilkan sesuatu padamu." Jawab ibunya Elang sambil membuka tasnya, dan mengambil dua buah kotak kecil yang sangat berharga.