
Waktu sudah dilewati beberapa hari, tak terasa sudah tiba waktunya dihari resepsi pernikahan yang sudah dinanti-nanti.
Meski belum ada pertemuan sama sekali dengan Kakek Pratama, Anin dan Didit tidak begitu mempermasalahkannya. Setidaknya, hari pernikahannya akan menjadi momen paling berharga untuk keluarga Pratama, walaupun hanya tinggal kakek bersama kedua cucunya.
Didalam ruang ganti, ada Lara yang tengah menemani Anin saat sedang di make-up oleh MUA yang handal.
Kemudian, disusul oleh Ibu kandung dan juga ibu mertuanya. Selain itu, ada Elang yang juga tengah bersiap-siap dengan penampilannya.
Sedangkan Tuan Mawan, keberadaannya sedang menjemput kakek Pratama di temani oleh orang kepercayaannya beliau.
"Kamu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja? aku tidak ingin kedua cucu akan menjadi incaran saat resepsi nanti."
"Tidak, Paman. Saya sudah menjamin mengenai keamanan, sudah saya kerahkan beberapa anak buah untuk menjadi pengintai di setiap sudutnya." Jawab Tuan Mawan meyakinkan Kakek Pratama.
"Aku trauma dengan kepergian putraku, Rahtair. Kematiannya benar-benar membuatku tak mampu mengingatnya lagi, terlalu sakit dan juga sedih. Bahkan, aku sendiri tak mampu untuk bertemu dengan kedua cucuku, Anindita dan Aditya." Kata Kakek Pratama.
"Paman tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja. Percayalah dengan saya. Sekarang juga, Paman harus hadir di acara resepsi pernikahan cucu Paman. Anin dan Didit sangat ingin bertemu dengan Paman Pratama." Jawab Tuan Mawan penuh harap, agar beliau mau ikut ajakan darinya.
Tidak ada pilihan lain, meski takut akan kembali terjadi pada kejadian masa lalu, Kakek Pratama mencoba untuk yakin dan percaya. Bahwa, apa yang dikatakan oleh putra Alexander adalah benar. Yakni, Kakek Pratama akan berkumpul dan bertemu dengan kedua cucunya.
"Kakek tenang, segala strategi sudah saya atur dengan baik." Ucap Tuan Mawan mencoba untuk meyakinkan Beliau.
"Baiklah, aku percayakan sama kamu. Aku akan datang diacara resepsi pernikahan cucuku dengan putramu." Jawab Kakek Pratama.
Sedangkan di tempat kos-kosan, Ayun bersama Nilam tengah sibuk dengan dandanannya.
__ADS_1
"Yun, serius nih, kita di salon gratis nih."
"Ya, Nil. Elang emang benar-benar tajir banget ya, gak pelit juga. Bayangin loh, pakaian sama make-up aja gratis dengan cuma-cuma. Satu lagi, kita di jemput pakai mobil sama Burnan. Benar-benar ya, kita dijadikan teman baik oleh Elang dan Anin." Kata Ayun memuji.
"Ya, Elang tetap menjadi sosok yang baik dan tidak pernah berubah akan kepribadiannya. Bayangkan saja, kalau yang jadi istrinya itu si Dinda. Keknya kita gak bakal dianggap teman, diundang aja mungkin dengan gaya kesombongannya. Ah, pokoknya makan ati. Untung istrinya si Anin, kita dianggapnya seperti saudara sendiri. Pantas lah, jika mereka berjodoh, sama-sama baiknya." Ucap Nilam sambil membedakan mana teman yang baik dan yang sombong, pikirnya.
Tiba-tiba, Ayun teringat dengan keberadaan Dinda yang entah tinggal dimana. Setiap ditanya, selalu mengabaikan dan juga mengelak.
"Ngomong-ngomong, Dinda berangkat ga ya? soalnya dari tadi aku gak lihat dia datang ke salon ini."
"Aku gak tahu, orang dianya aja kalau ditanya selalu mengelak dan pergi gitu aja. Dah ah, ngapain kita harus memikirkan dia. Toh, dia sudah besar, juga udah dewasa. Lebih baik tuh, kita mikirin bagaimana caranya kita menjadi sukses. Ah, buruan siap-siap, nanti keburu Burnan datang. Soal Dinda, abaikan saja." Jawab Nilam, tak lupa mengingatkan Ayun.
Ketika sudah selesai di make-up, datanglah sosok perempuan yang berlenggak lenggok memasuki salon.
Ayun dan Nilam yang melihatnya separuh badan karena posisi duduknya. Kemudian, keduanya mendongak untuk melihat siapa orangnya.
"Bagaimana dengan penampilanku? jauh banget kan, sama penampilan kalian berdua. Ya iyalah, secara punya kalian itu gratisan. Makanya modal, malu banget sih, mau datang ke acara gak modal. Baju dari Elang, make-up dari Elang, di jemput sama mobilnya, duh duh, bikin malu aja."
"Sombong banget kamu sekarang, palingan juga ju_al diri."
"Aw!" pekik Dinda saat tangannya langsung ditahan oleh Burnan.
"Jaga sikap kamu, kalau tidak ingin mendapat masalah lebih besar lagi." Ucap Burnan dengan berani.
Tidak peduli bagi Burnan, jika dirinya mulai berani tegas kepada temannya sendiri. Benar kata Elang, pikirnya. Jika tida tegas dan terlalu dekat, kita bagai alat yang di peralat.
__ADS_1
"Ternyata, kamu sama saja dengan Ayun dan Nilam." Jawab Dinda dengan tatapan penuh kebencian, dan pandangannya tertuju pada kedua temannya secara bergantian.
Dari awal hendak menunjukkan kesombongannya, ternyata mendapatkan kesialan sendiri. Merasa gagal untuk mengejek Ayun dan Nilam, memilih segera pergi dari tempat tersebut.
Sedangkan di luar, ada lelaki yang sedari tadi menunggu Dinda.
"Kenapa kamu cemberut? pasti lelaki yang bernama Burnan itu, dia juga perlu disingkirkan." Ucapnya saat Dinda baru saja masuk ke mobil.
"Ya, nomor satu Burnan yang harus disingkirkan. Setelah itu, Ayun dan Nilam. Selanjutnya, Didit, dan dilanjut kakeknya, kemudian baru Anin." Jawab Dinda yang tidak sabar menunggu kemenangannya.
Lelaki yang tengah duduk di tempat kemudi, tersenyum puas saat dirinya mampu menaklukkan sosok Dinda yang begitu ingin menyingkirkan teman-temannya sendiri.
'Sekali dayung, dua pulau bisa aku lampaui tanpa susah payah untuk menjalankan misiku. Kau menginginkan Elang, sedangkan aku menginginkan kekayaan.' Batinnya sambil memperhatikan Dinda yang tengah terbakar api kekesalannya.
"Jadi berangkat atau tidak? aku tuh sudah tidak sabar untuk membalaskan dendam pada Anin. Karena aku tidak menginginkan Anin bahagia, dia harus menderita."
Dinda yang sudah dikuasai emosinya, sungguh dirinya sudah tidak sabar untuk membuat Anin menderita.
"Sabar dikit, acara juga belum dimulai. Setidaknya kamu rileks dulu, jangan terburu-buru. Percaya denganku, kamu akan mengganti kedudukan Anin. Tidak memakan waktu lama, kamu akan menjadi istrinya Elang. Tapi ingat, separoh yang akan kamu dapatkan nanti, bayar bulanan denganku."
"Da_sar! sudah kaya masih mata duitan." Tuduh Dinda.
"Mata duitan itu sangat perlu, karena setelah kau menjadi istrinya Elang, aku tidak bisa menikmati tu_buh kamu ini. Jadi, kamu harus membayarnya." Ucapnya sambil memegangi sesuai milik Dinda, hingga membuatnya terpancing karena ulah tangan lelaki yang ada disebelahnya tengah aktif.
'Tentu saja tidak ada gratisan untuk meminta bantuanku, juga harus membayarku, walaupun aku yang minta untuk melayaniku. Benar kata Papa, jangan mau rugi.' Batinnya sambil memperhatikan Dinda, yang mana kecantikannya dan juga tubuh se_ksinya dapat dinik_mati dengan gratis, justru dirinya yang dibayar.
__ADS_1
Karena tidak ingin terlambat untuk menghadiri acara pernikahan Anin dan Elang, secepatnya untuk berangkat.