
Anin yang benar-benar terkejut mendengarnya, berulang kali menepuk kedua pipinya.
"Nak Anin sedang tidak bermimpi, memang benar, Den Andika yang datang." Ucap Pak Tejo.
"Tapi, saya sedang tidak ingin bertemu dengannya, Pak." Jawab Anin yang terasa enggan untuk bertemu dengan kekasihnya.
"Kasihan Den Andika, sepertinya ingin bertemu denganmu, Nak. Temui walau sebentar saja, setidaknya tidak kecewa pada Nak Anin." Ucap Pak Tejo membujuk.
"Ada apa ini?" tanya Didit yang baru saja keluar dari kamar, dan mendapati sang kakak yang tengah bicara dengan Pak Tejo.
"Ada yang ingin bertemu dengan Nak Anin." Jawab Pak Tejo.
"Siapa, Pak?" tanya Didit penasaran.
"Den Andika, sekarang sedang menunggu Nak Anin di ruang sebelah." Kata Pak Tejo sambil menunjuk pada ruangan yang dimaksudkan.
Kemudian, Didit menoleh pada sang kakak.
"Kakak boleh kok, jika ingin menemui Kak Andika. Mungkin akan ada keputusan yang akan diberikan sama Kak Andika untuk Kakak." Ucapnya pada sang kakak, Anin mengiyakan saat mendapatkan kode anggukan dari sang adik.
"Baik, Pak. Saya akan menemuinya, tapi hanya sebentar." Kata Anin, Pak Tejo tersenyum lega.
"Mari, Bapak antar kamu untuk menemui Den Andika." Jawab Pak Tejo, dan mengajak Anin ke ruangan yang dimaksudkan.
Saat sudah berada di ambang pintu, Anin menunduk. Takut, jika keputusan yang akan diterima akan menyakitkan untuk dirinya.
Pak Tejo mengetuk pintu, isyarat memanggil Andika yang terlihat tengah duduk sambil melamun.
Andika langsung menoleh ke belakang, dan dilihatnya sang kekasih yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Anin." Panggil Andika yang langsung bangkit dari posisi duduknya, dan berjalan mendekatinya.
Sedangkan Pak Tejo memilih untuk pergi dan menemani Didit yang sendirian. Sambil menunggu, Pak Tejo membuatkan kopi untuk temani Didit ngobrol.
__ADS_1
Andika yang sudah berada di hadapan sang kekasih, lalu mengajaknya untuk masuk kedalam ruangan tersebut.
Kemudian, Andika memeluknya.
"Jangan tinggalkan aku, dan aku akan tepati janjiku." Ucap Andika sambil memeluk kekasihnya, Anin.
Anin masih diam, haruskah dirinya bersedih atau senang, benar-benar sulit untuk diungkapkan.
Andika melepaskan pelukannya, dan menatap wajah ayu dengan penampilan sederhana kekasihnya.
"Aku akan memilih pulang bersamamu, menikah denganmu dan menjalani kehidupan bersama di kampung. Aku akan tinggalkan kota ini, dan pastinya ini demi cintaku padamu. Cukup sudah aku menuruti kemauan orang tuaku, tapi tidak semena-mena menindasku." Ucapnya lagi pada Anin.
"Tapi, aku takut." Jawab Anin sambil menatap wajah tampan kekasihnya.
"Kamu tidak perlu takut, kita akan ciptakan kebahagiaan bersama di kampung. Dengan kesederhanaan, kita bisa menciptakan kebagian." Ucap Andika meyakinkan kekasihnya.
"Tapi, kalau orang tua kamu murka, bagaimana?"
"Orang tua egois namanya, jika tidak ingin melihat anaknya bahagia dengan pilihannya. Aku sudah pasrah, yang terpenting aku akan perjuangkan cintaku padamu. Tidak peduli, jika aku harus menyumbangkan nyawaku sekalipun." Kata Andika sambil menggenggam tangan milik Anin.
Tapi, dilain sisi, Anin tidak bisa melepaskan begitu saja. Rasa yang sudah terjaga, tidak mudah untuk ia lepaskan.
Andika yang masih menyimpan rekaman tentang orang tuanya di rumah sakit, langsung menunjukkannya pada Anin. Berharap, sang kekasih akan mempercayai dirinya.
"Apa ini?" tanya Anin penasaran.
"Lihatlah, nanti kamu akan tahu betapa kejinya orang tuaku." Jawab Andika sambil membuka layar ponselnya.
Kemudian, Anin menatap layar ponsel milik kekasihnya dengan seksama. Durasi yang mulai ditunggu-tunggu, kini sudah memutar di bagian yang mulai menegangkan.
Cukup jelas rekamannya, hingga Anin memasang pendengarannya dengan seksama. Alangkah terkejutnya saat video tersebut memutar di bagian tawa dengan pengucapan yang begitu jelas.
Anin langsung menutup mulutnya tidak percaya, bahwa orang tua Andika selalu menghalalkan segala cara untuk memisahkan dirinya dengan lelaki yang dicintainya.
__ADS_1
"Bagaimana, kamu sudah mendengarnya sendiri, 'kan? lalu untuk apa aku meneruti permintaan ayahku? sama halnya, aku mengorbankan diriku sendiri dan kamu."
Anin langsung memilih untuk duduk, antara pergi dan mempertahankan hubungannya dengan kekasihnya.
"Percuma saja aku meminta restu dengan orang tuaku, karena mata hatinya sudah dibutakan dengan harta, dan juga tahta." Kata Andika, Anin sendiri masih diam.
Tidak disadari, lagi-lagi Didit sudah berada di ambang pintu sambil menyaksikan obrolan dari kakaknya bersama pacar kakaknya.
"Jika Kak Andika dan Kak Anin sudah bulat dengan keputusan yang sama, kenapa tidak? tapi ... apakah kalian siap menanggung resikonya? semua pilihan akan ada resikonya di kedua pihak." Ucap Didit yang akhirnya ikut bicara, karena dirinya juga memiliki tanggung jawab pada kakak perempuannya.
Andika dan Anin saling menatap satu sama lain, seakan berat bagi Anin jika menikah tanpa restu, pikirnya. Apalagi pacarnya adalah bagian keluarga yang berada, bahkan setara dengan majikannya.
Andika memegang erat tangan milik Anin dan dibarengi dengan anggukan, yang berarti untuk tetap bersama apapun resikonya.
Anin yang masih dilema, dirinya kembali menoleh ke arah Didit, terlihat seperti meminta bantuan untuk memilih keputusan yang tepat.
"Kak Anin tidak perlu bingung, karena Kakak yang akan menjalaninya. Jika Kakak meminta pendapatku, tinggalkan Kak Andika. Karena resiko buat Kakak sangat berat, ancaman juga besar. Mungkin saat ini aku masih bisa memantau Kakak, tapi tahun ke tahun, kehidupan kita bisa berbeda. Sifat alami dari seseorang, tidak akan bertahan dalam rencana awal, akan berubah dengan seiringnya waktu. Pikirkan dengan matang, dan jangan menyangkal, jika aku awal perusak hubungan kalian. Aku tegaskan, tidak." Ucap Didit yang berbicara panjang lebar.
Andika yang mendengarnya ingin sekali memarahi Didit, tetapi dirinya tahan, agar emosi tidak meluap.
Begitu juga Anin, mendengar kata tinggalkan, seakan meminta dirinya untuk melepaskan Andika.
"Anin, ini sudah malam, kita tidak mempunyai pilihan lain, aku tunggu sampai pagi hari. Jika kamu sudah mendapatkan keputusan, temui aku." Ucap Andika yang siap menerima keputusan dari Anin, kekasihnya.
Anin yang merasa sudah bosan menunggu dan menunggu, akhirnya memberi keputusan sesuai apa yang sudah dipikirkannya.
"Aku akan menikah denganmu, dan menjalani hubungan pernikahan di kampung. Aku siap menerima segala resikonya, dan aku percaya jika kita melewatinya dan akan hidup bahagia." Ucap Anin dengan tatapan serius.
Didit yang mendengarnya, pun terkejut. Alangkah terburu-buru untuk menentukan pilihan yang akan dijalani oleh kakaknya itu, pikir Didit.
"Kakak yakin?" tanya Didit untuk memastikan.
Anin mengangguk.
__ADS_1
"Ya, Kakak sudah yakin dengan keputusan Kakak sendiri." Jawab Anin, Andika tersenyum bahagia mendengarnya.
Walaupun ada rasa kecewa pada Didit, karena ucapannya yang meminta kakaknya untuk meninggalkan dirinya.