Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Akhirnya datang


__ADS_3

Dinda sama sekali tidak meresponnya, meski kedengarannya bikin kesal hatinya.


Elang yang tengah berjalan, akhirnya melewati di depan Dinda.


"Dinda, kok tidak bareng Ayun dan Nilam?"


"Mereka udah masuk duluan, kebetulan aku jalannya santai. Oh ya, kamu berangkat?" jawabnya dan balik bertanya.


"Ya, aku baru aja sampai. Kalau gitu, aku duluan, selamat bekerja." Jawab Elang dan segera menghindar dari Dinda.


Meski ada rasa dongkol di hati Dinda, tidak ada kata menyerah baginya untuk mendekati lelaki yang di sukainya.


"Dih, senyum senyum gitu, kamu Din. Kamu sedang tidak merencanakan sesuatu, 'kan?" tanya Nilam tanpa ada yang ditutupi.


"Tentu saja, aku banyak rencana untuk mendapatkan apa yang aku inginkan." Jawabnya dengan senyum penuh percaya diri.


Ayun yang mendengar jawaban dari Dinda, hanya menggelengkan kepalanya atas apa yang diucapkan oleh temannya sendiri.


"Kamu ini ya, gak ada capeknya sama sekali. Ya udah lah, terserah kamu aja. Kalau ada apa-apa, jangan libatkan aku ataupun Ayun." Kata Nilam yang tidak mau terlibat dengan urusan Dinda, pikirnya.


"Tenang aja, aku tidak akan melibatkan kalian berdua. Aku sendiri bisa melakukannya tanpa bantuan kalian, jadi tenang aja." Jawab Dinda dengan penuh percaya diri.


Karena sudah waktunya untuk memulai bekerja, Ayun maupun yang lainnya tengah mendapatkan tugasnya masing-masing.


"Ingat ya, hari ini juga harus selesai pekerjaan kalian masing-masing. Kalau ada yang tidak mengerti, bisa tanya langsung kepada saya." Ucap salah satu karyawan yang menjadi kepercayaan di setiap ruang kerjaan.


"Ya, Pak." Jawab semuanya dengan serempak.


Kemudian, semua karyawan yang ada di dalam ruangan tersebut, tengah disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing.


Sesuai peraturan, tidak ada satupun yang mengobrol. Bahkan, didalam ruangan tersebut begitu hening. Semua tengah fokus dengan dengan layar lebarnya masing-masing.

__ADS_1


Begitu juga dengan Elang, dirinya sama seperti karyawan lainnya yang tengah disibukkan dengan pekerjaannya. Sambil mengerjakan pekerjaan, Elang tak lepas melihat foto istrinya yang berada di atas meja kerjanya.


"Sekarang, kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya. Mulai sekarang, aku akan giat untuk bekerja, semua untuk masa depan kita bersama anak-anak kita kelak nantinya." Gumamnya sambil menatap foto ayu milik istrinya.


Saat itu juga, Elang mendengar ada bunyi bel pintu yang tengah mengagetkannya, dan langsung menekan tombol pintu otomatis lewat meja kerjanya. Pintu pun terbuka dengan sendirinya.


"Papa, ada apa Papa kemari?"


"Papa hanya ingin tahu, apakah kamu sudah mendapatkan sekretaris baru?"


Elang menggelengkan kepalanya.


"Belum, Pa. Kemarin sih, Elang sudah memberi tawaran kepada teman sekolah, tapi belum mendapatkan konfirmasi darinya sampai sekarang." Jawab Elang.


"Jangan lama-lama, karena sekretaris lama akan Papa pindahkan ke kantor yang satunya. Sedangkan Didit, akan Papa angkat menjadi direktur utama di perusahaan milik orang tuanya sendiri. Sudah saatnya Papa menyerahkan amanah dari mendiang Tuan Rahtair." Ucap Tuan Mawan sambil memberitahu akan kebenaran tentang keluarga istrinya.


"Ya, Pa, nanti Elang akan menghubungi Burnan untuk dimintai jawaban. Semalam sih sudah Elang kirimi pesan, coba ditunggu sampai nanti jam sembilan. Jika tidak juga datang, akan segera dihubungi." Jawab Elang, sang ayah mengangguk.


"Ya, Pa. Papa tenang aja, semua akan teratasi dengan baik. Ya ... walaupun Elang sendiri masih harus belajar, tapi tidak menyudutkan untuk pesimis." Jawab Elang meyakinkan ayahnya.


"Ya udah, Papa pergi dulu. Ingat, jangan malas-malasan untuk bekerja. Satu lagi, jaga jarak dengan teman-teman kamu yang bekerja di kantor ini." Ucap sang ayah yang tak lupa mengingatkan putranya agar tidak kebablasan dalam berteman di kantor, pikir sang ayah.


"Ya, Pa, tenang aja." Jawab Elang.


Setelah itu, Tuan Mawan segera bergegas pergi meninggalkan ruangan kerja putranya.


Kini, Elang kembali sendirian di dalam ruang kerjanya. Sambil bekerja, Elang melihat jam tangannya. Belum juga jam sembilan, dirinya mulai gelisah ketika tidak mendapati Burnan yang belum juga datang.


Ketukan pintu dan suara bel pintu, tengah mengagetkan Elang yang tengah menatap layar komputernya.


"Apakah Burnan yang datang?" gumamnya penuh tanda tanya.

__ADS_1


Saat itu juga, Elang langsung menekan tombol pintu agar terbuka dengan sendirinya.


Dan benar saja, Elang mendapati Burnan yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Ngapain masih berdiri di situ, Bro, buruan masuk." Ucap Elang meminta Burnan untuk masuk ke ruang kerjanya.


Dengan senyum ramah, Burnan berjalan menuju Elang yang tengah duduk di kursi kerjanya. Pintunya pun menutup dan mengunci sendiri setelah Burnan masuk ke ruang kerja milik temannya.


"Duduklah, aku sudah menunggu kamu dari tadi." Ucap Elang mempersilakan duduk.


"Maaf, jika sudah membuatmu menunggu. Soalnya tadi jalanan macet lama, dan membuatku harus mengantri." Jawab Burnan sambil menarik kursi, dan segera duduk di hadapan Elang.


"Tidak apa-apa, yang terpenting kamu sudah datang. Oh ya, kita langsung pada topik utamanya ya, Bro." Ucap Elang yang tidak menyukai basa basi saat ingin membicarakan hal yang menurutnya penting.


"Ya, Lang, maksudnya aku, Bos." Jawab Burnan yang baru menyadari jika Elang akan menjadi Bosnya.


"Jangan panggil aku Bos, jika kita hanya berdua tanpa ada karyawan lainnya. Panggil saja sesuai yang sering kamu memanggilku dengan sebutan seperti biasanya." Ucap Elang yang merasa risih saat temannya memanggil dengan sebutan yang menurutnya tak pantas untuk disebut oleh temannya sendiri.


"Tapi kan, ini di kantor." Kata Burnan.


"Tetap saja, aku tidak menyukainya. Ah sudahlah, tidak perlu membahas yang tidak penting. Sekarang kita akan membicarakan sesuatu yang lebih serius lagi, yakni tentang pekerjaan." Ucap Elang, Burnan mengangguk.


"Jadi, keputusan kamu sudah bulat nih, mau menjadi sekretaris ku? tidak ada paksaan sama sekali, 'kan? aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak enak hati, dan memaksa diri untuk bekerja di kantorku ini." Sambungnya lagi.


"Gak kok, aku sudah mendapatkan persetujuan dari paman. Bahwa aku diizinkan untuk bekerja di kantor milikmu. Jadi, tidak ada perdebatan apapun antara aku dengan paman." Jawab Burnan berterus terang.


"Benar ya, kamu sedang tidak membohongiku. Karena aku tidak ingin, kamu dan paman kamu bertolak belaka. Kalau memang sudah mendapatkan persetujuan dari paman kamu, tentunya aku merasa lega dan tidak khawatir akan persoalan paman kamu." Kata Elang yang sedikit ada rasa khawatir.


"Kapan aku bohong sama kamu, tidak pernah." Jawab Burnan.


"Ya deh ya, aku percaya kok sama kamu. Ya udah kalau gitu, kita langsung saja untuk membahas mengenai pekerjaan kamu menjadi sekretarisku di kantor ini." Ucap Elang.

__ADS_1


__ADS_2