
Burnan yang mendengar cerita dari Elang, mengangguk pelan.
"Ooh, jadi begitu ceritanya. Tidak masalah sih menurut aku, jika kamu menikahinya. Lagian juga, kalian berdua itu sudah saling mengenal. Aku doakan, semoga hubungan kalian berdua langgeng sampai maut memisahkan kalian." Ucap Burnan.
"Makasih doanya ya, Bro. Aku doakan kamu juga, semoga kamu segera menyusul. Kalau soal untuk plihanku, hanya Anin seorang yang aku cintai." Kata Elang dengan jujur.
"Aku sih tidak mau terlalu menggebu untuk mengejar perempuan, biarlah aku ikutin seperti air mengalir." Ucap Burnan.
"Cakep. Eh, ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya Ayun, Dinda, dan Nilam?"
"Memangnya kalian berdua tidak pernah saling komunikasi?" bukannya menjawab, Burnan balik bertanya.
"Kan, tadi aku udah bilang, aku tidak pernah menggunakan media sosial apapun setelah kecelakaan." Jawab Elang.
"Ah, ya. Kalau Anin? kalian berempat kan, selalu kompak."
"Aku tidak pernah berkomunikasi sejak ponselku hilang." Jawab Anin.
"Ah ya, lupa lagi akunya. Aku terakhir komunikasi dengan mereka bertiga itu, katanya bekerja di kota. Untuk kerja di mananya, aku sendiri tidak tahu. Karena aku tidak menanyakannya kepada mereka." Kata Burnan.
"Semoga aja, kita dipertemukan kembali di kota ini. Sudah lama loh, kita tidak pernah bertemu." Ucap Elang.
Sambil mengobrol bertukar cerita, Elang maupun istrinya dan juga Burnan, ketiganya menyeruput minumannya masing-masing.
"Gak nyangka ya, serius. Ternyata kalian berdua itu berjodoh, aku kaget awalnya loh tadi. Tapi, setelah mendengar pengakuan dari kalian, aku percaya." Ucap Burnan.
"Aku sendiri juga tidak menyangka kok, Bro. Tenyata aku masih diberi kesempatan untuk hidup bersama dalam satu atap dengan perempuan yang sangat aku cintai." Jawab Elang sambil merangkul istrinya.
Sebenarnya Anin merasa risih saat di rangkul oleh suaminya didepan teman gengnya, sebisa mungkin untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Maaf nih, sudah malam banget sepertinya. Aku pulang dulu ya, Bro, Anin. Sampai ketemu lagi di lain waktu, jang lupa untuk saling komunikasi, agar pertemanan kita tetap terjaga." Ucap Burnan berpamitan.
__ADS_1
"Ya, Bro. Nih, alamat rumahku. Jika kamu ada waktu luang, mainlah ke rumahku. Sekalian, jika kamu bertemu dengan Ayun, Dinda, dan Nilam, ajak juga ke rumah. Tenang aja, istriku selalu di rumah. Untuk hubunganku dengan Anin, jangan kamu beritahu dulu pada mereka. Takutnya, istriku yang jadi bahan pergunjingan." Jawab Elang, tak lupa juga memberi pesan kepada Burnan.
"Kamu tenang aja, aku akan merahasiakannya sama mereka. Biarkan mereka mengetahuinya sendiri saat bertemu dengan kalian berdua. Tapi, apa kalian sudah siap, jika diantara mereka, bahkan mereka bertiga akan marah besar kepada kalian." Ucap Burnan yang juga mencoba untuk mengingatkannya.
"Aku sudah siap, tapi gak tau dengan istriku."
"Aku siap menerima akibatnya jika mereka bertiga akan marah besar kepadaku. Karena aku menikah dengan Elang adalah keputusanku sendiri, maka aku siap menanggung segala resikonya." Sahut Anin yang langsung menyambar.
"Ya udah kalau gitu, aku pulang duluan. Kalau untuk kabar tentang Andika, bagaimana? bolehkah aku mengatakannya dengan jujur kepada mereka?"
"Boleh aja, katakan saja yang sebenarnya, jika Andika sudah pergi untuk selama-lamanya." Jawab Anin dan langsung memberitahu alamat makam mendiang kekasihnya, yakni Andika.
"Baiklah kalau gitu, aku permisi. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan ya, Bro, Anin." Ucap Burnan berpamitan.
"Ya Bro. Hati-hati dijalan." Jawab Elang.
Kemudian, Burnan segera bergegas pergi dari hadapan kedua temannya. Sedangkan Elang sendiri, mengajak istrinya untuk mengelilingi danau tersebut sambil bergandengan tangan.
Anin melihat pantulan cahaya lampu yang begitu terang lewat danau yang ia lewati, kenangan yang sudah begitu lama, kini kembali dalam ingatannya.
Meski pernah di manjakan Andika, Anin sama sekali tidak berani menggunakan uangnya sepersen pun. Takut, jika keluarganya akan menuntut.
Anin merasa takut untuk menggunakan uang milik kekasihnya itu, sejak mengetahui sikap ayahnya saat menjemput Andika untuk pulang ke kota. Disitulah Anin sama sekali merasa takut untuk menggunakan pemberian dari kekasihnya, dan lebih memilih menggunakan pemberian dari Elang.
"Kamu sedang mikirin apa, sayang?" tanya Elang sambil berjalan mengitari danau.
"Aku teringat dengan kenangan bersama kamu, selalu ada waktu untukku." Jawab Anin berterus terang.
Elang tersenyum mendengarnya.
"Yakin sedang mengingat kenangan kita dulu?" tanya Elang mencoba untuk memastikan.
__ADS_1
Anin mengangguk pelan.
"Ya, aku serius. Aku ingat banget, saat kamu mengantarkan aku daftar kuliah. Tidak hanya itu aja sih, aku ingat semuanya tentang kebaikan kamu. Makasih banyak ya, kamu begitu baik denganku."
"Hem tahu ya, kalau aku ini baik. Nggak, nggak, aku cuma bercanda. Aku belum merasa baik kepadamu, aku masih banyak kekurangan untuk mencintai kamu." Ucap Elang merendah.
"Nggak kok, kamu tidak mempunyai kekurangan apapun." Kata Anin.
Seketika, Elang menghentikan langkah kakinya dan menatap wajah ayu istrinya yang mendapatkan sinar lampu yang begitu terang.
"Tetap saja, aku masih merasa banyak kekurangan untuk mencintai kamu, serta membahagiakan kamu." Ucap Elang sambil memegangi kedua lengan milik istrinya.
Anin menggelengkan kepalanya. Kemudian, langsung memeluk suaminya.
"Aku tidak butuh yang sempurna untuk menjadi teman hidupku, aku hanya membutuhkan teman hidup yang akan mengerti dengan keadaanku." Kata Anin yang masih memeluk suaminya.
Elang segera melepaskannya.
"Kita berjuang bersama, ya. Kita jadikan hubungan pernikahan kita yang langgeng, dan saling menerima kekurangan satu sama lain. Aku berjanji, hidupmu adalah bagian nyawaku." Ucapnya, dan kedua tangannya naik ke atas sambil memegangi tengkuk lehernya.
Tanpa basa-basi dan juga tanpa malu, Elang menc_ium bibir istrinya dengan lembut. Untung saja, suasana mulai sepi, meski pencahayaan lampunya cukup terang.
"Sudah hampir larut malam, kita kembali ke penginapan untuk istirahat. Karena besok, kita harus pulang." Ajak Elang setelah melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu untuk beristirahat.
"Ya, aku juga sudah mengantuk." Jawab Anin sambil menguap karena badan mulai terasa pegal dan juga capek, karena sudah melewati ritualnya.
Sampainya di dalam kamar, Anin segera mencuci mukanya, serta menggosok gigi dan buang air kecil. Selesai itu, giliran Elang.
Karena mata yang sulit untuk diajaknya bergadang, Anin langsung bersembunyi dibalik selimut karena merasa dingin.
Elang yang melihat istrinya kedinginan, ia langsung mengubah posisinya agar bisa leluasa memeluk tubuh istrinya sendiri.
__ADS_1
Tentu saja, membuat Anin gugup. Meski sering dipeluk suaminya saat tidur, tetap saja membuatnya canggung. Pasalnya, Anin dan Elang sudah menikmati surga du_nia bersama sang suami.
Elang yang tidak bisa melepaskan kendalinya, susah payah untuk menahannya.