
Tidak ada pilihan lain selain ngikuti apa kata sang adik, Anin hanya bisa pasrah degan nasibnya.
Selama perjalanan, Anin tengah bersandar di jendela kaca sambil melihat jalanan yang dilewatinya.
"Pak, berhenti sebelum lampu merah itu ya, Pak." Ucap Didit pada Pak Supir mobil.
"Ya, Mas." Jawabnya dengan fokus menyetir.
Sedangkan Anin sendiri masih saja melamun, pikirannya terus tertuju pada kekasihnya. Harapan yang hampir saja bertemu, seakan harapannya hilang begitu saja tanpa memberi kode padanya.
Tidak lama kemudian, mobil yang ditumpanginya telah berhenti sesuai yang diminta Didit.
"Kak, kita sudah sampai, ayo kita turun." Panggil Didit sambil menggoyangkan badannya, dan tentu saja mengagetkan sang kakak.
"Yang benar saja kamu ini, pasti bohong."
"Aku serius, Kak, kalau kita ini sudah sampai. Tapi bukan do tempatnya kak Andika, melainkan kita sudah sampai di dekat lampu merah. Setelah turun, kita akan jalan kaki menyusuri jalanan sambil mencari pekerjaan dan tanya-tanya."
"Oh ya, Kakak baru sadar, kalau tas Kakak hilang karena di jambret."
"Sudahlah Kak, ayo kita turun. Jangan terlalu dipikirkan, yang ada nantinya Kak Anin akan pusing sendiri. Kalau memang masih milik Kakak, pasti akan kembali pada pemiliknya lagi nanti." Ucap Didit.
Anin sendiri hanya menganggukkan kepalanya, karena tak tahu harus berkata apa dengan adiknya.
Ketika sudah turun dari mobil, Didit tak pernah lepas untuk menggandeng tangan milik kakaknya sambil menyusuri jalanan.
"Dit, Kakak haus nih. Kamu masih ada air minum, 'kan?"
"Ada, Kak, ada kok. Bentar ya Kak, aku ambilkan dulu didalam tasku." Jawab Didit, dan segera mengambilkannya untuk sang kakak.
"Nih Kak, air minumnya." Sambungnya lagi, saat memberikan air minumnya.
Sejenak, Anin berjongkok terlebih dahulu sebelum menenggak air mineral dalam wadah botol. Selesai minum, Anin kembali berdiri dan mengembalikannya pada Didit.
"Untuk sementara ini, kita jalan kali dulu ya Kak. Tidak apa-apa, 'kan? soalnya kita harus mencari penginapan."
"Tidak apa-apa, ini semua salah Kakak yang tidak hati-hati."
Jawab Anin sambil berjalan menyusuri jalanan yang tengah dipadati oleh lalu lalang pengendara sepeda motor maupun mobil kecil dan juga besar.
"Di kota rame banget ya Dit, padat banget penduduknya. Rumah Andika dimana ya? Kakak jadi penasaran."
__ADS_1
"Ya Kak, padat banget penduduknya. Berdoa saja, Kak. Semoga kita bisa bertemu dengan orangnya, dan tidak susah payah kita harus mencarinya. Sangat sulit dan tidak memungkinkan untuk mencari keberadaan kak Andika dengan kondisi kita yang seperti ini." Jawab Didit sambil berjalan beriringan.
"Jambret! tolong! ada jambret." Teriak seorang ibu-ibu meminta tolong berulang-ulang meminta tolong.
BUG!
BUG!
BUG!
"Berikan! tasnya!" bentak Didit dan langsung merebutnya dengan tenaganya yang kuat dan dibantu oleh Anin.
Setelah babak belur, Didit berhasil mendapatkan tas tersebut. Kemudian dengan bagian wajah dan badannya yang memar akibat tinjuan dari Anin dan Adit, akhirnya berhasil melarikan diri.
"Ini punya Ibu?" tanya Anin sambil menyerahkan sebuah tas kecil saat sudah berhadapan dengan sosok perempuan paruh baya.
"Ya, Nak, ini punya saya. Terima kasih banyak ya, kalian berdua sudah bersedia menolong saya." Ucapnya berterimakasih.
"Ya, Bu, sama-sama. Lain kali Ibu hati-hati, karena kejahatan itu datangnya kapan saja dan tanpa kita ketahui." Jawab Anin.
"Ya, kamu benar. Bentar bentar, jangan pergi dulu." Ucap si Ibu yang di tolong sambil membuka isi dompetnya.
Anin dan Didit yang baru aja melangkahkan kakinya untuk melanjutkan perjalanannya yang entah kemana tujuan perginya bersama sang adik, keduanya segera menoleh kebelakang.
Ibu itu berjalan beberapa langkah saja.
"Ini ada tanda terimakasih dari saya untuk kalian berdua, karena kalian sudah menolong saya."
"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih. Tapi maaf, kami tidak bisa menerimanya." Jawab Anin dan mengatupkan kedua tangannya, pertanda menolak pemberian dari Ibu tersebut.
Melihat dari penampilan dan bawaan yang dibawa oleh Didit, Ibu merasa penasaran dengan keduanya.
"Kalau boleh tahu, kalian darimana dan mau kemana? soalnya seperti orang perantauan. Maaf, bukan saya sok tahu."
"Kami berdua,"
"Ya, kami berdua mau cari pekerjaan. Sebenarnya sih sudah membawa alamatnya, tapi kita kena jambret seperti Ibu tadi di Terminal. Jadi, semuanya raib milik Kakak saya." Timpal Didit yang langsung menyambar.
"Kasihan sekali kalian berdua. Bagaimana kalau saya tawarkan pekerjaan untuk kalian, apakah kalian mau? tapi ... bukan kerja di toko, ataupun di kantor. Melainkan akan kerja untuk menggantikan asisten rumah saya." Ucapnya memberi tawaran.
Anin dan Didit saling menoleh, seakan meminta jawaban untuk mengiyakan ataupun menolaknya.
__ADS_1
"Kita terima aja ya, Kak. Kita mau tinggal dimana lagi? setidaknya ada tempat yang bisa kita jadikan untuk berteduh. Lagi pula, kita juga kerja. Tidak apa-apa kerja rumahan, yang penting kita bisa bertahan." Ucap Didit meminta persetujuan dari sang kakak.
Anin yang juga tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui.
"Ya, Dit, Kakak setuju dengan pendapatmu." Kata Anin menyetujuinya, Didit tersenyum lega.
Meski ada sedikit keraguan, tidak ada salahnya untuk menerima tawaran dari Ibu tersebut.
"Ya, Bu, kita menerima pekerjaan dari Ibu." Ucap Didit dengan keputusannya.
"Kalau kalian benar-benar mau, mari ikut saya. Tenang, jangan khawatir, saya bukan orang jahat. Oh ya, nama kalian berdua siapa?"
"Ya, Bu, saya percaya. Nama saya Didit,Bu. Kalau kakak saya, namanya Anin, Bu." Jawab Didit dengan anggukan.
"Oh, Anin dan Didit." Ucapnya, keduanya mengangguk.
Setelah itu, Didit dan Anin mengikuti Ibu tersebut kemana arah jalan kakinya.
Tidak lama kemudian, sampai di dekat mobilnya.
"Ayo, silakan masuk." Ucapnya saat membuka pintu mobilnya.
Anin dan Didit awalnya ragu untuk masuk ke dalam mobil orang yang sama sekali tidak dikenalinya. Tapi, demi bisa bekerja dan bisa berteduh, Didit dan Anin menerima tawaran dari orang yang sudah di tolong.
Selama perjalanan, tidak ada suara apapun di dalam mobil. Sampai tidak terasa, mobil sudah berada di halaman rumah.
"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Beliau sambil melepas sabuk pengamannya.
Anin dan Didit celingukan melihat tempat yang begitu luas, dan juga dengan rumah yang sangat besar dan juga megah.
"Ayo kita keluar, mau tunggu apa lagi? kita ini sudah sampai."
"Eh ya, Bu. Maaf, kita kebanyakan melamun." Jawab Anin dan segera turun dari mobil.
Saat sudah turun dari mobil, Anin dan Didit sama-sama takjub ketika melihat rumah yang cukup besar dan di luar dugaannya.
"Rumahnya besar banget ya, Dit. Sangat jauh dengan rumah paling bagus di kampung." Puji Anin dengan suara lirih.
"Ya, Kak. Namanya juga di kota, pasti rumahnya bagus-bagus." Kata Didit.
"Loh, kalian kok masih berdiri di situ. Ayo, ikut saya masuk ke rumah."
__ADS_1
"Ya, Bu." Jawab keduanya serempak, dan mengikutinya dari belakang.