
Sampainya di tempat yang dituju, semua turun dari mobil. Sedangkan yang mendorong kursi rodanya, supir pribadi Tuan Mawan sendiri. Sedangkan Anin digandeng oleh ibu mertuanya layaknya anak sendiri.
Anin merasa begitu beruntung saat mendapatkan perlakuan baik dari ibu mertuanya, meski belum lama mengenali ibu mertua sendiri.
"Pa, biar Mama sama Anin yang masuk ke dalam. Papa tunggu aja di luar, soalnya hanya dua orang yang diizinkan untuk masuk." Ucap ibunya Elang.
"Ya, Ma, tidak apa-apa. Lagian juga, Elang sudah ada istri. Jadi, biar Papa yang menunggu di luar." Jawab Tuan Mawan.
"Ya udah, ayo kita masuk. Waktu kita tidak lama, karena harus gantian dengan yang lainnya." Ajak ibunya Elang, sedangkan pak supir mengantarkan majikannya sampai dalam ruangan dan segera keluar setelah mendorong kursi roda.
"Maaf, Dok. Kalau boleh tahu, sampai kapan anak saya segera sembuh? apakah tidak ada jalan alternatif lain? saya rasa sudah cukup lama anak saya dengan kondisi yang sama dan sama sekali tidak ada perubahan."
"Maaf, Nyonya. Semua ada pada pasien, yakin sembuh dan berusaha. Satu lagi, buang pikiran yang tidak penting yang dapat mengganggu kesehatan. Semakin pesimis, kesehatan akan menurun." Jawab sang dokter memberi penjelasan.
"Tuh, Lang, dengerin kata Pak Dokter. Kamu harus yakin untuk sembuh, dan juga berusaha. Satu lagi kata Dokter, jangan banyak pikiran yang dapat mengganggu kesehatan kamu. Kalau kamu tidak memiliki sifat optimis, sangat jauh untuk mencapai keinginan kamu untuk sembuh." Ucap ibunya Elang untuk memberi nasehat pada putranya.
Anin sendiri memilih untuk diam, tidak tahu harus berkata apa.
"Ya, Ma." Jawab Elang, sang dokter pun tersenyum.
"Sekarang kan, sudah ada istri. Jadi, seharusnya kamu bertambah semangat untuk sembuh." Kata sang ibu.
Elang tak menjawab, merasa malu jika dirinya untuk mengakui perasaannya pada sang istri. Karena ia tahu, cintanya seorang Anin, hanya untuk Andika, pikir Elang.
"Kalau begitu, kita mulai untuk terapi. Ingat, tetap semangat untuk sembuh, ya." Ucap sang dokter.
"Ya, Dok." Jawab Elang.
Cukup lama memakan waktu untuk terapi, akhirnya selesai juga terapinya.
"Lang, bagaimana dengan kaki kamu? apakah ada perubahan?" tanya sang ibu selesai terapi.
__ADS_1
"Masih sama kok, Ma. Tidak tahu untuk besok pagi, lagian ini juga baru aja terapi." Jawab Elang yang merasa tidak ada perubahan apapun pada kakinya.
"Ya juga, ya. Ya udah, ayo kita lanjut pergi ke makam teman kamu. Soalnya hari ini Mama dan Papa tidak mempunyai waktu banyak. Karena besok pagi harus berangkat ke luar negri. Mama diminta untuk temani Papa, mungkin ada dua mingguan."
"Ada acara apa, Mama dan Papa ke luar negri?"
"Bisnisnya Papa kamu." Jawab ibunya.
"Elang minta maaf ya, Ma. Seharusnya Elang yang menggantikan posisi Papa, justru membuat Mama dan Papa kecewa."
"Namanya juga musibah, kita tidak bisa menyalahkan keadaan. Yang terpenting, kamu terus berusaha untuk sembuh." Ucap ibunya, Elang hanya mengangguk karena merasa sudah menjadi beban kedua orang tuanya akibat keegoisannya yang memilih untuk mengurung diri didalam kamar.
Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Tuan Mawan mengajak anak dan istrinya serta menantunya untuk segera berangkat ke tempat yang akan dituju.
Sampainya di makam, Anin masih terdiam sambil melamun. Pandangannya tertuju pada area pemakaman, ingatannya begitu jelas dengan insiden kecelakaan yang menewaskan seseorang yang sangat dicintainya itu.
Hancur sudah harapannya, impian yang sudah didepan mata, pergi untuk selamanya. Tanpa disadarinya, Anin meneteskan air matanya. Terasa berat untuk mendatangi makam kekasihnya.
Bukan hal mudah untuk melupakan, walau kenyataannya telah pergi untuk selamanya. Hancur perasaannya, itu sudah pasti.
Elang yang mendapati istrinya tengah bersedih, diraihnya tangan sang istri.
Anin terkejut dibuatnya, dan segera melepaskan tangan suaminya. Sayangnya tangan Elang begitu kuat untuk memegang tangan milik istrinya. Karena ia tahu, jika istrinya akan berusaha untuk mengusap air matanya.
Sayangnya, Anin tidak bisa melakukan apapun saat ingin mengusap air matanya.
"Sini, biar aku yang akan mengusap air mata kamu."
Ucap Elang sambil menahan kedua tangan istrinya agar tidak bisa berkutik, sedangkan tangan kanannya, mengusap air mata istrinya.
"Mana dan Papa udah turun dari tadi sejak kamu masih melamun, mau ikut turun atau tidak?"
__ADS_1
Anin menggelengkan kepalanya, pertanda jika dirinya menolak untuk menemui makam mendiang kekasihnya.
Elang yang tidak bisa memaksa, hanya bisa menurutinya.
"Kak Elang, biar aku aja yang menemani Kak Anin di mobil. Kalau Kakak ingin mengunjungi makam Kak Andika, silakan. Nanti, biar aku sama Kak Anin berdua gantian." Ucap Didit yang tiba-tiba sudah datang.
Elang yang mengerti akan perasaan istrinya, mengiyakan apa yang dikatakan adik iparnya.
"Ya sudah, aku turun duluan ya. Kalau perasaan kamu sudah lebih enakan, kamu dan Didit bisa temui makam Andika." Ucap Elang sebelum turun dari mobil, Anin hanya menganggukkan kepala.
Kemudian, Elang dibantu Didit dan supirnya untuk turun dari mobil. Selanjutnya diantarkannya sampai ke makam Andika.
Sedangkan Anin masih saja diam, terasa berat untuk berucap sepatah katapun.
"Kak Anin, kenapa tidak ikut turun bersama kak Elang?" tanya Didit mengajak kakaknya untuk mengobrol.
Anin menghembuskan napasnya terasa berat dan juga sesak.
"Mana kuat hati Kakak harus berdiri bersanding dengan Elang di depan makam Andika, Dit? sedangkan Andika sudah menaruhkan nyawanya demi Kakak." Jawabnya dengan napas yang terasa sesak.
"Namanya juga takdir, Kak. Mana kita tahu, siapa yang akan pergi lebih dulu, dan juga siapa yang akan menjadi jodoh kita." Ucap Didit mencoba memberi nasehat kecil kepada kakaknya.
"Kakak benar-benar bo_doh, Dit. Kenapa juga Kakak harus keluar dari penjara, seharusnya Kakak kamu ini masih berada dalam tahanan. Benar kata orang tuanya Andika, nyawa anaknya tidak bisa digantikan dengan apapun. Dengan cara memenjarakan Kakak itu, tidak sebanding dengan pengorbanan Andika."
Kata Anin yang terus dihantui dengan rasa bersalahnya, yakni atas pengorbanan mendiang kekasihnya yang sudah menyelamatkan nyawanya.
"Pendek sekali cara berpikirnya Kakak. Seharusnya yang Kak Anin pikirkan itu, masa depan Kakak selanjutnya. Bukan terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Takdir atas kematian, kita tidak bisa menolak, sekalipun kita membayarnya." Ucap Didit yang mulai geram dengan cara berpikirnya sang kakak.
Anin tidak menanggapinya sama sekali, memilih untuk diam dari pada harus berdebat dengan adiknya.
Sedangkan Elang dan kedua orang tuanya, tengah mendoakan Andika selesai menaburkan bunga, dan menyiramkan air dari botol.
__ADS_1
Setelah itu, kedua orang tuanya meninggalkan putranya sendirian di makam teman dekatnya. Tetap saja, ada yang mengawasinya.