
Selesai mandi, Anin segera keluar dari kamar. Dilihatnya ruang makan yang sepi, Anin mencoba keluar untuk mencari keberadaan suaminya.
Saat keluar, Anin langsung mendekatinya.
"Kamu sedang ngapain?" tanya Anin yang juga ikutan duduk di sebelah sang suami di teras.
Elang menoleh padanya, dan langsung merangkul istri yang sangat dicintainya itu.
"Sedang menunggumu, dan juga menunggu pesanan untuk makan malam. Bagaimana dengan kondisi kamu, ada yang sakit?"
Anin menggelengkan kepalanya.
"Tidak, mungkin paginya, aku baru merasakannya." Jawab Anin dengan malu dan menunduk.
"Tidak usah malu, aku suamimu. Kita masuk ke dalam yuk, bentar lagi pesannya datang." Ucap Elang, dan mengajak istrinya untuk masuk kedalam.
Anin sendiri hanya nurut ajakan suaminya.
Dan benar saja, baru duduk sudah dikagetkan dengan ketukan pintu. Elang langsung bangkit dan segera membuka pintunya.
Kemudian, masuklah dia orang pelayan yang membawa pesanan untuk makan malam. Setelah itu, dua pelan tesebut keluar.
Kini, tinggallah Anin dan Elang yang tengah menikmati makan malam hanya berdua di bawah seperti lesehan. Elang menggeser posisi duduknya agar berdekatan dengan istrinya.
"Sini, aku biar aku suapi kamu." Kata Elang.
"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri kok. Sayang kan, kalau tangan aku hanya diam saja." Jawab Anin menolak, tentu saja merasa malu.
"Tangan kamu bisa suapi aku. Jadi, tangan kamu tidak nganggur." Kata Elang sambil menyodorkan suapan kepada istrinya.
Anin tak dapat menolaknya, perlahan membuka mulutnya dan menerimanya. Kemudian, dilanjutkan oleh Anin yang juga menyuapi suaminya.
Elang begitu merasa bahagia saat apa yang sudah ditunggu-tunggunya, kini telah menjadi miliknya.
'Akhirnya mimpiku tidak hanya sebuah angan belaka, tetapi juga nyata memiliki kamu. Janjiku, aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia.' Batin Elang sambil mengunyah dan juga memperhatikan istrinya, sampai-sampai yang di perhatikan salah tingkah.
"Kita habisin dulu makannya, setelah ini aku akan mengajakmu berkeliling danau ini, tidak apa-apa 'kan? kalau ada area yang sakit pada tubuh kamu, kita istirahat aja." Ucap Elang sambil mengunyah dalam suapan yang terakhir.
__ADS_1
"Aku belum merasakan sakit, boleh kalau mau berkeliling danau ini. Kebetulan aku sangat suntuk, ingin mencari angin malam sambil menikmati suasana di danau ini." Jawab Anin, Elang sendiri tersenyum mendengarnya.
"Dil nih ya, kita akan mencari suasana baru di danau ini." Kata Elang, Anin mengangguk sambil mengusap mulutnya dengan tissue.
Begitu juga dengan Elang, segera menghabiskan minumannya dan juga mengusap mulutnya dengan tissue.
Setelah sudah selesai makan, Elang menyuruh pelayan untuk membereskannya. Selanjutnya, Anin diajak suaminya untuk mencari angin malam di tepian danau.
Sambil berjalan mengelilingi danau kecil itu, Anin dan tersenyum melihat banyak orang yang berpasangan ke sana kemari dengan mesra.
Saat itu juga, Elang melingkarkan tangan kirinya membentuk setelah lingkaran di pinggang istrinya. Anin mendongak, Elang langsung menge_cup bibir manis milik istrinya tanpa malu karena kebetulan agak gelap dan tidak banyak anak-anak.
Kemudian, Elang dan Anin melanjutkan berkeliling.
"Hei! Elang, 'kan?" panggil seorang laki-laki seumurannya.
Elang langsung mengerahkan pandangan pada lelaki yang tengah berjalan menghampirinya.
"Burnan!"
Elang tidak kalah terkejutnya saat bertemu teman sekolahnya dulu, yakni geng berteman.
Anin sedikit malu saat bertemu dengan Burnan, pasalnya dirinya telah menikah dengan Elang.
"Kabarku sangat baik, Bro. Kamu sendiri, bagaimana kabarmu?" jawabnya dan balik menyapa.
Tapi, tiba-tiba pandangannya tertuju dengan Anin yang tengah berdiri disebelah Elang. Tentu saja, menaruh curiga padanya.
"Anin, apa kabarnya?" sapa Burnan sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Kabar aku seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya? ternyata kamu tinggal di kota juga." Jawab Anin, dan menerima uluran tangan teman sekolahnya dulu.
"Kabar juga baik, aku di kota tinggal bersama pamanku. Soalnya susah cari kerjaan di kampung, akhirnya aku memilih untuk bekerja di kota." Jawab Burnan, Anin tersenyum tipis.
"Oh ya, aku sampai lupa. Anin sekarang sudah menjadi istriku, belum lama ini aku menikahinya." Ucap Elang berterus terang, tanpa ada yang ditutup tutupi.
Burnan benar-benar terkejut mendengar pengakuan dari Elang, yang mana telah menjadi suami Anin. Sedangkan yang Burnan ia tahu, bahwa Anin mempunyai hubungan khusus dengan Andika, teman geng di sekolahan bersama Elang juga.
__ADS_1
Dengan berani, Burnan bertanya untuk mendapatkan jawaban dari Elang maupun Anin sendiri.
"Terus, Andika?" tanya Burnan penasaran.
Anin menundukkan pandangannya.
"Andika sudah pergi untuk selama-lamanya karena sebuah insiden kecelakaan, dan aku menikahinya." Jawab Elang sejujur mungkin.
Andika membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, lantaran bagai sambaran petir mengenai kabar teman gengnya.
"Maksud kamu, Andika sudah meninggal?" tanya Elang.
Sungguh, dirinya benar-benar tidak menyangkalnya, jika Andika telah meninggal dunia.
"Ya, Andika sudah meninggal." Jawab Elang.
"Pantas aja, nomor Andika susah aku hubungi. Begitu juga dengan nomor kamu, kenapa tidak bisa aku hubungi juga?"
"Dua tahun lalu, aku kecelakaan, dan aku tidak berkutat di dunia media sosial. Waktu itu aku frustrasi karena keadaanku yang lumayan cukup memprihatinkan, dan aku sempat down. Tapi, setelah aku dipertemukan kembali dengan Anin, aku mempunyai semangat hidup dan seperti sekarang ini. Bahkan, aku bisa sembuh juga karena berkat darinya." Jawab Elang sambil menjelaskan pokok intinya.
"Jadi, kamu juga kecelakaan? pantas aja, aku tidak bisa menghubungi kamu. Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua, semoga menjadi keluarga yang bahagia untuk selamanya." Ucap Burnan tak lupa memberi ucapan selamat untuk teman gengnya di sekolahan dulu.
"Makasih, Bro. Ngomong-ngomong, kamu sudah menikah belum?"
"Aku belum sempat memikirkan sampai situ, Bro. Yang aku pikirkan saat ini itu, kesuksesan dulu." Kata Burnan.
"Oh ya, tidak baik kita berdiri terus-menerus seperti ini. Bagaimana kalau kita nostalgia dulu sambil menikmati secangkir kopi panas atau minuman yang lainnya."
"Boleh, asal kalian berdua tidak merasa terganggu olehku."
"Tenang aja, kita berdua juga cuma mau berkeliling doang. Kebetulan banget kita dipertemukan di danau ini, bisa bertukar cerita." Kata Elang, Burnan hanya nurut aja.
"Kalian berdua gimana ceritanya kok bisa-bisanya menjadi suami-istri, gak nyangka aja loh akunya sana kalian." Sambil berjalan, Burnan tak ada rasa canggung sama sekali untuk menanyakannya.
"Nanti aku bakal ceritain sama kamu, kita cari tempat dulu yang pas buat ngobrol." Jawab Elang sambil berjalan beriringan bertiga.
Anin yang tidak bisa berkata apa-apa, dirinya hanya bisa diam saja.
__ADS_1
Saat sampai di lokasi yang cukup nyaman untuk bertukar cerita bersama teman lama, Elang memesan minumannya serta dengan makanan ringan. Kemudian, ketiganya duduk berhadapan.