
Selesai makan malam, Anin dan Elang kembali masuk ke kamar. Kemudian, keduanya bergantian untuk mencuci muka serta ritual yang lainnya.
Tidak ada lagi drama ke kamar mandi, Elang masih duduk di kursi rodanya. Entah ada angin apa, bersusah paya dirinya untuk belajar berdiri, meski di atas kursi roda.
Dengan napas yang begitu berat, Elang mengangkat berat badannya sendiri agar kedua kakinya mampu menopangnya.
Anin yang baru aja menyisir rambutnya, langsung menggapai suaminya yang hampir saja terjatuh.
"Bukan begini caranya, Lang. Kalau kamu jatuh, bagaimana? kamu bisa memanggilku untuk diminta bantuan. Tapi, buka sepertinya ini juga caranya." Ucap Anin sambil membantu suaminya untuk kembali duduk.
"Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa berdiri? aku bosan harus duduk seperti ini terus." Kata Elang dan memukul kursi rodanya sendiri dengan tenaganya yang kuat.
"Jauhi kursi rodanya jika kamu mau belajar berjalan, kamu bisa menggunakan alat penyangga atau alat bantu yang lainnya." Jawab Anin, Elang mencoba untuk mencerna kalimat yang diucapkan oleh istrinya.
"Ya juga ya, bagaimana aku mau bisa berjalan, sedangkan aku sendiri ketergantungan dengan kursi roda. Lagi pula, kaki sebelah kiri tidaklah sakit, hanya kaki kananku saja." Kata Elang yang tersadar akan rasa sakit yang dirasakannya.
Anin tersenyum mendengarnya.
"Besok, kamu bisa menggunakan alat bantu itu. Tapi, harus bertanya terlebih dahulu dengan dokter. Tetap saja, harus ada saran dari dokter." Ucap Anin mengingatkan, Elang mengangguk dan tersenyum pada istrinya.
"Makasih ya, kamu sudah memberiku saran yang baik. Aku berjanji, aku akan berusaha untuk sembuh. Karena apa? karena aku ingin membahagiakan kamu, istriku." Jawab Elang dan meraih tangan istrinya, Anin sedikit gugup dibuatnya.
"Aku janji, aku akan membahagiakan kamu dengan caraku. Aku tahu, hati kamu berat, tapi aku tidak akan pernah berhenti sampai kamu menyerah." Sambungnya lagi, Anin mengangguk.
Kemudian, Anin duduk di tepi ranjang. Elang sendiri memutar balikkan kursi rodanya, dan keduanya saling berhadapan.
"Maafkan aku ya, Lang. Aku sudah egois, kedua mataku kurang jeli akan ketulusan kamu." Ucap Anin merasa malu.
Lagi-lagi Elang tersenyum mendengarnya, dan kembali meraih tangan istrinya.
"Tidak apa-apa, aku dapat memahaminya kok. Mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama, jika aku ada posisi kamu. Oh ya, sudah malam dan waktunya untuk istirahat." Jawab Elang, dan melepaskan tangan istrinya. Anin sendiri hanya bisa nurut apa kata suami.
__ADS_1
Saat keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur, Anin dan Elang sama-sama menatap langit-langit kamarnya dengan lamunannya masing-masing.
Elang menoleh, dan menggeser posisi tidurnya. Anin dibuatnya kaget.
"Boleh kan, jika aku tidur memelukmu?" tanya Elang tanpa canggung.
Anin sendiri dibuatnya gugup dan tentunya malu, tidur dalam pelukan temannya sendiri. Meski sudah menjadi suami istri, tetap saja membuatnya gugup dan juga malu tentunya.
"Kenapa, kamu malu?"
"I-i-ya," jawabnya dengan gugup.
'Bo_doh sekali aku ini, kenapa aku mesti jawab iya.' Batin Anin menggrutuki dirinya sendiri.
Elang tak peduli apapun, dirinya langsung memeluk istrinya, dan menc_ium leher jen_jangnya. Anin menggeliat karena geli, dan menoleh pada suaminya. Naas, justru Anin menempelkan bibirnya tepat di bibir milik suaminya.
Tentu saja, Elang tidak menyia-nyiakan kesempatan emasnya saat istrinya sendiri yang sudah memancing candunya. Anin tak berkutik sama sekali, hanya bisa mengalahkan diri sendiri lewat batinnya.
Entah angin mana yang sudah merasuki akal pikiran Anin, hanya mengangguk pasrah dengan apa yang ucapkan oleh suaminya.
Karena tidak bisa berkutik dan melepaskan diri dari pelukan suaminya, Anin hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya terhadap dirinya.
Elang yang sudah sekian lamanya menahan rindu dan juga rasa cintanya kepada istri, kini dapat memilikinya. Bahkan, untuk memeluk dan mencium saja tidak ada halangan baginya. Tinggal satu langkah lagi, Elang akan memiliki istrinya sepenuh hatinya.
Hanya butuh pengakuan dan jawaban akan perasaan, Elang sendiri berusaha untuk bersabar hingga sang istri jatuh cinta padanya.
Rasa kantuk yang sudah menguasai keduanya, Anin dan Elang terlelap dari tidurnya masing-masing.
Sedangkan Tuan Mawan dan istri, baru saja pulang.
"Tuan, Nyonya, sudah pulang?"
__ADS_1
"Ya, Bi. Oh ya, Elang dan Anin sudah makan malam kan, Bi?" tanya ibunya Elang sambil menarik kursi dan segera duduk di ruang makan.
Begitu juga dengan Tuan Mawan, ikut duduk di sebelah istrinya. Meski keluar di malam hari, tetap saja makan malamnya pun di rumah.
Sedangkan Bi Narsih segera menghangatkan kembali makanannya.
"Bagaimana dengan mereka berdua, Bi? baik-baik saja, 'kan? maksudnya tidak saling acuh, gitu."
"Tidak, Nya. Justru mereka berdua kelihatan dekat, mungkin dulunya sangat dekat, Nya." Jawab Bi Narsih sambil bolak-balik bawa makanan.
"Ya, Bi. Mereka berdua dulunya memang dekat. Hanya saja, Elang kalah cepat untuk mengatakan cintanya pada Anin. Kaya Papanya, kalah cepat juga. Untung ada perjodohan juga, hasilnya masih kesampaian cintanya." Kata ibunya Elang, tak lupa juga menyindir suaminya sendiri tentang mengingatkan masa lalu yang tidak jauh beda dengan putranya sendiri.
"Hem, masih ingat saja kamu, Ma. Kamu sih, dulunya ganjen. Ada yang mengatakan cinta tidak di saring dulu, mana cinta sejati mana bukan." Sahut Tuan Mawan ikut berkomentar.
"Sudah dulu berdebatnya, Nya. Lebih baik makan malam dulu, jangan makanannya sampai butuh penghangat dua kali." Kata Bi Narsih yang juga ikutan bergurau, kedua orang tua Elang tertawa kecil mendengarnya.
"Butuh penghangat segala, kek apa aja nih Bibi." Sahut ibunya Elang sambil meraih ikan gorengnya.
Meski bukan bagian keluarga, kedua orang tuanya Elang sudah menganggap Bi Narsih adalah bagian keluarganya. Sudah sekian lama, Bi Narsih bekerja di keluarga Alexander.
"Bibi mah bisa aja, yang butuh penghangat itu, si Elang Bi."
"Papa, udah deh ngomonginnya. Kita makan aja dulu, habis ini kita harus menyiapkan yang akan dibawa besok." Kata sang istri untuk menyudahi senda gurauannya.
"Ya, Ma." Jawab Tuan Mawan sambil mengangguk, dan juga menikmati makan malamnya hanya bersama sang istri.
Sedangkan di dalam kamar, Elang begitu nyenyaknya saat tidurnya dapat memeluk tubuh istrinya. Begitu juga dengan Anin, dirinya ikut tidur nyenyak dalam pelukan suaminya.
Kemudian, Elang tersadar dari tidurnya, posisinya juga masih sama, yakni memeluk istrinya dengan pelukan mesra.
"Sekarang aku tak lagi bermimpi untuk menjadikannya istriku, dan kini sudah menjadi istriku sepenuhnya, walau aku memiliki sepenuh hatinya." Gumamnya sangat lirih, dan menc_ium kening milik istrinya.
__ADS_1