
Di rumah yang bangunannya cukup besar dan juga terlihat megah, Anin dan adiknya tengah disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing.
Didit yang sedari tadi memperhatikan kakaknya, ada rasa kasihan saat melihat sang kakak yang terlihat kecapean.
"Kak Anin." Panggil Didit dengan suaranya yang lirih.
Takut, diketahui oleh asisten yang lainnya. Anin menoleh, dan dilihatnya sang adik yang tengah berjalan mendekatinya.
"Didit, ada apa?"
"Dari tadi aku memperhatikan Kakak, sepertinya Kakak Anin kecapean. Bagaimana kalau Kakak istirahat aja dulu, nanti Kakak sakit."
"Tidak kok, Dit. Kakak hanya tidak bersemangat, Kakak pingin pulang aja, Dit. Kakak sudah pasrah, mungkin Kakak sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk berharap." Kata Anin dengan lesu dan tidak bersemangat.
"Kakak yakin, Kakak mau pulang ke kampung?" tanya Didit memastikan.
"Ya, Dit. Kakak tidak mempunyai semangat apapun, Kakak menyerah." Jawab Anin dengan lesu.
"Ya udah, kita tuntaskan dulu sampai satu minggu lamanya. Setelah itu, kita pamit untuk pulang. Tidak baik jika kita langsung pulang, kita sudah di tolong." Ucap Didit meminta waktu pada kakaknya.
"Ya, Kakak nurut saja sama kamu." Jawab Anin, tanpa disadari keduanya tengah diperhatikan oleh pemilik rumah.
"Ya udah, Kakak lanjutkan kerjaannya. Aku mau juga mau menyelesaikan tugasku, semangat ya, Kak." Ucap Didit menyemangati kakaknya.
Sedangkan di sudut ruangan, pemilik rumah masih memperhatikan Anin dan Didit yang begitu dekat hubungannya.
'Andai saja kedua anakku seperti mereka berdua keakrabannya, aku sangat bahagia. Tian dan Lara, mereka berdua sulit sekali untuk baikan. Selalu aja ada yang merasa iri, dan maunya lebih dan lebih. Apalagi Tian, sikapnya begitu kasar pada siapapun. Sama sekali tidak ada cerminan dari ayahnya.' Batinnya saat memperhatikan Anin dan Didit yang begitu akrab.
Tidak terasa waktu begitu cepat, ternyata sudah waktunya untuk makan siang. Semua asisten rumah dan juga yang lainnya, tengah sibuk untuk menyiapkan makan siang.
Anin begitu telaten saat membantu memasak di dapur, meski hanya mengerjakan kerjaan yang mudah.
"Nin, kamu serius nih belum nikah?" tanya salah satu asiten rumah yang tengah sibuk membantu memasak.
"Belum, aku masih ingin mengejar cita-cita dulu." Jawab Anin, yang sebenarnya tidak tahu cita-cita seperti apa yang akan digapai.
Pasalnya, semua berkas telah hilang bersama jambret, sampai-sampai tidak ada yang tertinggal satu lembar kertas berharga miliknya.
__ADS_1
"Bagus itu, Nin. Kamu masih kelihatan muda, dan masih banyak waktu untuk mengejar impian kamu. Tapi, kalau kamu hanya jadi asisten rumah, kapan sampainya, Nin. Cita-cita itu jauh loh, kamu harus mempersiapkan segalanya." Timpal asisten yang satunya.
Anin hanya bisa melempar senyumannya, meski sebenarnya terasa sangat pahit.
"Ya, Mbak. Nanti akan saya pikirkan lagi untuk mengejar cita-cita saya, terimakasih sudah mengingatkan saya." Jawab Anin yang berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan kesedihannya.
"Ngobrolnya nanti lagi, kita selesaikan dulu pekerjaan kita. Ingat, nanti malam kita akan disibukkan dengan acara lamaran. Jadi, persiapkan dimulai dari sekarang." Ucap salah satunya.
"Ya, ya." Jawab yang lainnya dengan serempak.
Tidak terasa setelah menikmati makan siang, masih dilanjut dengan tugasnya masing-masing hingga sore hari.
"Mama ... Lara pulang ...."
"Anak Mama, sudah pulang? Mama sudah sangat merindukanmu, sayang."
"Nggak rindu sama Papa juga nih ceritanya."
"Papa ih, itu lain lagi. Oh ya, Papa mendingan langsung masuk ke kamar aja, ya. Mama pingin banyak ngobrol bareng Lara dulu, soalnya nanti malam acaranya."
"Ya, ya, ya. Papa juga capek, pingin istirahat dulu, biar nanti malam badan agak enakan dikit." Jawab sang suami dan langsung masuk ke kamarnya.
'Andai saja aku masih punya Ibu Ami, aku tidak akan mendapatkan pemandangan yang menyedihkan ini.' Batin Anin saat melihat seorang ibu yang begitu sayang pada putrinya.
"Kak Anin, kangen ya sama Ibu. Aku juga kangen, pingin banget rasanya seperti dulu." Ucap Didit yang rupanya sudah berdiri didekat kakaknya.
Anin langsung menoleh.
"Berdoa aja, semoga kedua orang tua kita masih hidup ya, Kak. Apa salahnya kita meminta, karena permintaan kita bagian dari doa. Apa yang tidak mungkin, jika Sang Pencipta sudah berkehendak." Ucap Didit.
"Sudah lah, Kakak mau melanjutkan pekerjaan Kakak. Kamu juga, lanjutkan pekerjaan kamu." Jawab Anin.
"Ya, Kak." Kata Didit, dan kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
Sedangkan didalam kamar, ibunya Lara tengah menyiapkan pakaian yang akan di kenakan untuk acara lamaran putrinya.
"Sayang, kamu suka kan, dengan bajunya?" tanya sang ibu sambil menunjukkannya pada putrinya.
__ADS_1
Lara tersenyum bahagia saat melihat baju yang begitu bagus untuk dikenakan.
"Mama dapat baju darimana bajunya? Lara sangat menyukainya, Ma." Jawab Lara yang langsung meraih baju ditangan ibunya, dan menempelkan pada tubuhnya sambil berkaca.
"Itu yang membelikan calon ibu mertua kamu, bagus 'kan? kamu sangat cocok dengan pasanganmu. Mama sudah tidak sabar menunggu hari bahagia-mu, yaitu hari pernikahan kamu, sayang."
Ucap ibunya sambil memperhatikan putrinya yang sedang mencoba pakaian yang akan dikenakan nanti malam.
Lara langsung memutar balikkan badannya.
"Lara juga sudah tidak sabar, Ma. Pingin banget bertemu dengan hari pernikahan, dan tidak ada yang bisa memilikinya selain Lara, Ma." Kata Lara yang begitu bersemangat.
"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat. Nanti malam, kamu harus terlihat segar. Agar kecantikan kamu bertambah cantik, calon suami kamu akan terpesona dengan kamu."
"Ya, Ma. Lara akan terus dekati calon suami Lara, siapapun tidak ada yang boleh memilikinya, kecuali Lara." Jawab Lara penuh yakin.
"Ingat, kamu harus bisa membuat calon kamu takut kehilangan kamu. Dan satu lagi, beri perhatian penuh padanya, ok."
"Mama tegang aja, Lara jagonya kalau untuk membuat orang jatuh cinta. Sudah ya, Ma, Lara capek, mau tidur." Jawab Lara yang merasa kecapean.
"Ya, istirahat aja kamu-nya. Mama tinggal dulu ya, sayang."
"Ya, Ma." Jawab Lara, sang ibu segera keluar dari kamar putrinya.
Sampai di kamar, ibunya Lara ikut duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan suaminya.
"Kok Papa gak istirahat, kenapa?" tanya sang istri.
"Kamu yakin, kalau putri kita akan bahagia dengan pernikahannya?"
Bukannya menjawab, suaminya justru balik bertanya.
"Kok Papa bicara seperti itu, memangnya kenapa? tentu saja Lara akan bahagia dengan pernikahannya. Papa gimana sih, kenapa jadi pesimis gitu? sudah lah, lebih baik Papa istirahat aja."
"Bukan begitu, Ma. Pasalnya, calon suami Lara menentang pernikahan."
"Papa serius?"
__ADS_1
"Ya, kebetulan aku melihatnya langsung dan mendengarkannya juga. Tentu saja, aku tahu itu." Jawab sang suami menjelaskan, sang istri langsung terkejut mendengarnya.