
Burnan yang mendapat pertanyaan dari Ayun, mencoba untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kecurigaan kepada ketiga temannya.
"Kabar Anin, baik. Kalau Andika, em ..." Burnan tiba-tiba menggantungkan kalimatnya.
"Andika kenapa, Burnan?" tanya Ayun penasaran.
"Kenapa dengan Andika?" Nilam juga ikut bertanya karena rasa ingin tahu, sedangkan Dinda memilih untuk diam.
"Andika telah pergi untuk selama-lamanya, pernikahan dengan Anin, pun gagal." Jawab Burnan sambil menatap satu persatu ketiga temannya secara bergantian.
Ayun, Dinda, dan Nilam, ketiganya begitu terkejut ketika mendengar kabar duka. Sungguh, semua di luar dugaannya. Seperti mimpi, dan sulit untuk dipercaya.
"Andika sudah meninggal?" ketiganya bertanya dengan serempak untuk memastikannya.
Burnan mengangguk.
"Ya, Andika sudah meninggal." Jawabnya dengan yakin.
"Serius, aku masih gak percaya kalau Andika sudah meninggal. Terus, Anin bagaimana?" tanya Ayun dengan rasa penasarannya.
"Ya, Burn. Bagaimana dengan Anin, kasihan sekali dia. Jujur, aku juga belum bisa percaya jika Andika sudah meninggal." Timpal Nilam ingin tahu keadaan serta kabar mengenai temannya.
"Keadaan Anin sudah membaik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ah ya, bagaimana kalau besok kita datang ke rumah Elang." Jawab Burnan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mengenai Anin.
Tentu saja, Burnan kebingungan jika terus didesak dengan banyaknya pertanyaan mengenai Anin. Akhirnya memilih untuk membahas tentang Elang, itu akan jauh lebih baik, pikirnya.
Dinda yang mendengar kata Elang, kedua matanya berbinar binar. Lantaran, yang diinginkannya tengah dibahas.
"Kamu tidak bohong kan, Burn. Kalau besok kita ke rumah Elang, serius nih."
Dengan semangat, Dinda langsung angkat bicara.
"Ya, besok kan, hari minggu. Kebetulan, Elang tidak ada kesibukan. Jadi, meminta kita untuk datang ke rumahnya. Tapi ingat, harus bersikap sopan. Karena apa? ada istrinya. Jaga sikap maupun yang lainnya, dan jangan membuat gaduh di rumahnya." Jawab Burnan sekaligus memberi peringatan kepada ketiga temannya, karena yang ditakutkan akan terjadi, pikir, Burnan sendiri.
"Ya sih, ya. Memangnya beneran nih, kalau si Elang itu sudah menikah? sepertinya dia bohong deh." Jawab Dinda dan kembali untuk memastikan.
"Ya serius, Elang sudah menikah. Kalau kalian tidak percaya, makanya datang ke rumahnya untuk memastikan. Bahwa Elang benar-benar sudah menikah atau belum, gitu." Kata Burnan.
__ADS_1
'Aku masih tidak percaya deh, kalau Elang sudah menikah. Aku tahu siapa Elang, karena dia sangat menjaga hatinya untuk Anin. Aku gak percaya kalau Elang menikah dengan perempuan lain, karena dia pernah curhat denganku. Ah, siapapun istrinya Elang, aku tidak peduli.' Batin Nilam yang kurang percaya.
Karena Nilam sendiri tahu, jika Elang hanya jatuh cinta dengan Anin. Hanya saja, Andika yang lebih dulu mendapatkannya.
"Nilam! ngelamun aja, mikirin apaan sih kamu ini."
Tanpa aba-aba, Ayun mengagetkan Nilam yang terlihat tengah melamun.
"Gak ada yang aku lamunin kok, serius. Aku tuh cuma ngantuk aja, badanku terasa capek, pegel juga. Memangnya ada apa sih, sudah waktunya untuk pulang, ya?" jawab Nilam beralasan, serta dengan alasan untuk bertanya.
"Ya udah kalau ada yang capek dan ingin pulang cepat, besok kita lanjutkan lagi obrolan kita di rumah Elang. Untuk berangkatnya, kalian bertiga tidak perlu bingung. Tapi, sebelumnya, kita habiskan dulu minumannya."
"Memangnya kenapa?" sambar Ayun langsung bertanya.
"Supirnya Elang yang mau jemput kalian bertiga. Sini, berikan alamat kalian padaku, biar aku kirimkan pesan kepada supirnya Elang." Jawab Burnan yang sekaligus meminta alamatnya.
Lagi-lagi Dinda merasa senang mendengarnya.
"Jadi, kita di jemput nih?"
"Ya, tadi Elang berpesan padaku. Besok kita di jemput. Jadi, kita tidak perlu sibuk untuk mencari ojek. Sudah ah, habiskan dulu minuman kita." Jawab Burnan.
Masih tidak ada capeknya, Dinda masih saja terus menghayal.
Karena ingin rasanya sampai di rumah kos, Ayun dan Nilam segera menghabiskan minumannya. Kemudian, langsung menarik tangan Dinda untuk diajaknya pulang.
"Hem. Sudah ah, ayo kita pulang." Ajak Nilam sambil menarik tangan miliknya, dan dibantu oleh Ayun.
Sampainya di rumah kos, Ayun dan Nilam, juga Dinda, ketiganya langsung mencuci mukanya, serta menggosok gigi dan juga buang air kecil secara bergantian.
Setelah itu, ketiganya beranjak tidur di tempatnya masing-masing. Rasa kantuk yang sudah menguasainya, ada suara apa saja tidak dapat mendengarnya.
Tidak terasa juga, rupanya mentari pagi telah menyambut mereka bertiga yang tengah tidur dengan nyenyak.
Nilam yang merasa gerah, ia langsung terbangun dari tidurnya. Cepat-cepat, ia bangkit.
Diraihnya ponsel yang ada di dekatnya, dan dilihatnya jamnya.
__ADS_1
"Apa! sudah pagi? oh! tidak." Teriak Nilam saat melihat jam di ponselnya.
"Woi! bangun, Ayun, Dinda, udah pagi nih. Cepetan ayo bangun, nanti yang jemput kita keburu datang." Ucapnya dengan suara cukup keras, agar kedua temannya segera bangun.
Ayun maupun Dinda, langsung bangun dari tidurnya.
"Apaan sih, ngagetin aja kamu ini." Kata Dinda dengan nada sedikit kesal.
Sedangkan Ayun sendiri masih mengucek kedua matanya, dari pada harus berkomentar.
"Kita jadi pergi ke rumahnya Elang, gak sih? ini tuh sudah pagi. Lihat noh, jam berapa tuh, lihat." Kata Nilam sambil menunjukkan jamnya.
"Ah ya, buset. Sudah pagi ya, ya udah deh, aku duluan aja yang mandi." Ucap Dinda yang langsung menyambar handuk, dan masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru.
Sedangkan di rumah lain, Elang dan Anin baru saja selesai membersihkan diri. Keduanya tidak ada lagi rasa canggung, dan sudah akrab kembali seperti dulu.
"Kamu serius nih, kalau Ayun, Nilam, dan Dinda akan datang kesini."
"Ya, aku sudah menyuruh Pak Ratno untuk menjemput mereka. Lagi pula, Mama dan Papa mau keluar. Jadi, dari pada kita jenuh, kita undang mereka untuk datang ke rumah."
"Aku degdegan, ya. Takut, jika diantara mereka ada yang kesal, bahkan benci denganku."
"Hus.Tidak baik berpikiran seperti itu, nanti yang ada jadi kenyataan. Mendingan tuh, kita mikirnya yang baik-baik, biar jadinya baik juga." Kata Elang yang mencoba untuk meyakinkan istrinya.
Anin mengangguk.
"Semoga saja." Jawab Anin.
Elang langsung memeluk istri, dan mengajaknya untuk sarapan pagi.
Di lain tempat, Dinda dan kedua temannya kini tengah menikmati sarapan paginya dengan roti dan teh hangat.
"Kamu kenapa gelisah gitu sih, Din."
"Udah gak sabar akunya, pingin cepat-cepat main ke rumah Elang. Penasaran banget akunya, secara dia ternyata seorang Bos. Bayangkan saja kalau aku jadi istrinya, hidupku benar-benar sempurna." Jawab Dinda dengan penuh khayalan.
"Hem. Meski jadi istri keduanya, gitu?"
__ADS_1
"Ya, kita hidup itu butuh uang banyak. Capek akunya kalau di suruh jadi karyawan terus, anggap aja jadi karyawan itu sebagai batu loncatan." Jawab Dinda penuh percaya diri.