
Selesai acara pengucapan kalimat sakral dalam pernikahan, dilanjutkan dengan acara makan bersama.
"Nak Anin, sekarang kamu sudah menjadi istrinya Elang. Panggil saja Mama, jangan Ibu. Begitu juga suami Mama, kamu panggil Papa, bukan Bapak. Karena sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Alexander, istri sahnya Elang." Ucap Ibu mertua, Anin mengangguk.
"Ya, Bu, maksud saya, Mama."
"Nanti kamu juga akan terbiasa. Sudah waktunya untuk makan, kamu bisa makan bareng suami kamu. Ayo, ibu pertemukan kamu dengan Elang. Mama yakin jika Elang sangat senang karena bisa bertemu denganmu lagi." Ucap ibu mertua dan mengajaknya untuk bertemu.
Anin yang tidak bisa menolak, hanya nurut saja dengan ajakan ibu mertuanya.
Didalam ruangan kecil di dalam gedung, Elang masih duduk di kursi rodanya sambil menikmati puding ditemani sang ayah.
"Elang, lihat sini, Nak." Panggil ibunya ketika berada di ambang pintu bersama istrinya, yakni Anin, teman sekolahnya dulu saat berada di kampung.
Pandangannya tertuju pada Anin yang tengah berdiri disebelah ibunya.
"Mama, masuklah. Kenapa masih berdiri disitu?"
"Seharusnya kamu menyambut kedatangan istrimu, kenapa bertanya pada Mama?" tanya ibunya.
Anin yang seperti dicuekin, hanya bisa diam. Baginya terasa kaku untuk menyapa lebih dulu, karena statusnya adalah istrinya, bukan temannya lagi. Yakni, yang begitu mudah untuk menyapa maupun yang lainnya.
Elang tahu maksud dari ibunya, segera mendekati istrinya.
"Apa kabarmu, Nin?" sapa Elang dengan sikap dinginnya.
"Kabarku baik, kamu sendiri?" jawabnya dan balik bertanya.
"Kabarku seperti yang kamu lihat sekarang, baik." Jawab Elang.
"Loh, kenapa tidak diajak masuk istri kamu, Lang? masa ngobrol sama istrinya di tengah-tengah pintu, tidak sopan namanya itu." Kata sang ayah ikut menimpali.
"Elang lupa, Pa." Sahut Elang yang baru menyadarinya.
__ADS_1
"Ayo, masuklah." Ajak Elang pada istrinya, Anin mengangguk.
Kemudian, saat Elang hendak menjalankan kursi rodanya, Anin dengan sigap langsung mengambil posisi untuk mendorong kursi rodanya.
Keduanya tak sedekat seperti dulu, Anin dan Elang sama-sama canggung dibuatnya. Cinta yang tidak pernah hadir di dalam hatinya Anin, justru menjadi suaminya.
"Nah, gitu dong. Bukankah kalian berdua dulunya sangat akrab, seharusnya masih seperti dulu." Kata Tuan Mawan meledek.
"Papa, tidak boleh bicara seperti itu. Oh ya, kalian berdua makan dulu sebelum pulang. Nanti setelah acara benar-benar sudah selesai, kita akan pulang. Jadi, Mama dan Papa mau keluar untuk menemui para tamu undangan, juga mau makan. Ya sudah kalau gitu, selamat menikmati pertemuan kalian yang sudah lama tidak pernah bertemu." Ucap ibunya pada anak dan menantu.
"Ya, Ma." Jawab keduanya serempak, Tuan Mawan dan istrinya segera keluar.
Kini, tinggallah Anin dan Elang yang berada di dalam ruangan tersebut. Keduanya sama-sama merasa canggung.
Tidak ingin merepotkan atau memang merasa canggung, Elang mengambil makanan sendiri. Dengan sigap, Anin langsung meraih piring yang ada di tangan suaminya.
"Biar aku saja yang mengambil." Kata Anin, Elang langsung menoleh pada istrinya.
Anin yang mendapatkan pertanyaan dari sang suami, langsung menoleh padanya.
"Andika sudah tiada, pergi untuk selama-lamanya." Jawab Anin sambil menatap suaminya, dan meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan sayur, juga lauknya.
Seketika, Elang terkejut mendengarnya. Benar-benar diluar dugaannya tadi, dan ternyata Andika telah meninggal dunia.
"Kamu jawab apa tadi? maksud kamu Andika sudah meninggal? jangan bohong, kamu."
"Aku serius, aku dan Andika, juga Didit, mengalami kecelakaan dalam perjalanan saat kami hendak pulang ke kampung. Kemudian, aku dan Didit di tolong sama kedua orang tuamu. Katanya, aku mirip dengan foto yang kamu miliki. Kemudian aku diminta untuk menunjukkan identitasku, dan ibumu mengetahui semuanya. Lalu, aku diminta untuk menikah denganmu. Seperti itu ceritanya, hingga kini aku menjadi istrimu." Jawab Anin sesuai yang diarahkan oleh ibu mertuanya, yakni untuk menutupi sesuatu yang benar.
Takutnya, Elang akan murka, jika mengetahui tentang pernikahannya karena sebuah persyaratan untuk bebas dari penjara.
Elang yang mendengar penjelasan dari istrinya, sedikit ada rasa curiga. Pasalnya, tidak semudah itu menerima permintaan kedua orang tuanya untuk menikah, kalau bukan ada udang dibalik batu, pikirnya.
Karena sedang malas untuk menginterogasi istrinya, Elang memilih untuk menyuapi diri sendiri.
__ADS_1
Anin yang sebenarnya menyimpan rasa khawatir dan takut karena sudah berbohong, sebisa mungkin untuk tetap terlihat tenang.
"Bagaimana kabarnya Ibu kamu di kampung? kenapa kamu tidak mengajaknya ke kota? bukankah pernikahan tanpa seorang ibu itu, terasa kurang? atau ... ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku bersama ibuku?" tanya Elang disela-sela menikmati makanannya.
"Ibu juga sudah meninggal lama. Untuk rasa curiganya kamu pada diriku, kamu tanyakan saja langsung sama kedua orang tua kamu, agar kamu bisa mendapat jawaban yang lebih jelas." Jawab Anin yang juga tengah menikmati makanannya.
"Terus, tujuan kamu mau menikah denganku itu, apa? karena yang aku tahu, kamu hanya mencintai Andika."
"Aku ikutin sebagaimana air itu mengalir."
"Pendek sekali cara berpikirnya kamu. Apa gunanya kamu sekolah tinggi-tinggi, tetapi tidak kamu gunakan dengan baik."
"Terserah kamu mau menilai diriku ini seperti apa, yang jelas aku hanya ingin memenuhi permintaan ibu kamu untuk menikah denganmu."
"Apa jangan-jangan kamu mempunyai masalah dengan orang tua Andika? sehingga kamu rela melakukan apa saja demi menyelamatkan diri dari keluarganya Andika, jujur saja."
"Sudah aku bilang, tanyakan langsung saja pada kedua orang tuamu. Karena aku merasa bahwa penjelasan dariku tidak akan bisa untuk kamu terima, itu saja."
"Ya, aku percaya kok sama kamu. Habiskan dulu makananmu, setelah ini kita akan pulang." Ucap Elang, Anin tidak menjawabnya, dan memilih untuk segera menyelesaikan makannya.
Tidak ada lagi obrolan, Anin dan Elang segera menghabiskan makanannya masing-masing. Setelah itu, keduanya keluar dari ruangan tersebut untuk pulang, seperti yang dikatakan oleh ibunya Elang.
Dengan hati-hati karena pakaiannya, Anin mendorong kursi roda menuju dimana ibu dan ayah mertuanya berada.
"Kalian berdua sudah selesai makannya?" tanya ibunya Elang.
"Sudah, Ma." Jawab keduanya dengan kompak, kedua orang tua Elang tersenyum bahagia melihatnya.
"Kalian berdua ternyata mirip, serasi juga. Semoga kalian berdua benar-benar berjodoh sampai maut memisahkan kalian." Ucap sang ibu, Anin tersenyum mendengarnya.
"Ya sudah kalau gitu, ayo kita pulang. Semua tamu sudah pada pulang, termasuk Didit yang juga sudah pulang." Timpal sang ayah.
Tidak ada lagi yang tertinggal, Tuan Mawan beserta anak istri dan menantunya segera pulang.
__ADS_1