Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Musibah


__ADS_3

Anin dan Didit masih berada dalam perjalanan menuju kota kekasihnya.


"Dit, nanti kalau kita sudah sampai di Terminal, kita lanjut naik mobil atau naik ojek?" tanya Anin yang benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu.


"Maunya Kakak, kita mau naik mobil lagi atau naik ojek?"


Bukannya memberi pilihan, justru si Didit bertanya pada sang kakak. Tentu saja, Anin merasa geram dengannya.


"Diminta untuk memberi pilihan, kamu-nya balik bertanya sama Kakak." Kata Anin dibuat cemberut, Didit cuma nyengir kuda di dekat kakaknya.


"Ya deh, ya. Kita naik mobil aja, nanti kita ganti mobilnya. Kalau mobil yang kita tumpangi ini, hanya berhenti di Terminal, dan akan lanjut mengantarkan penumpang yang lainnya." Jawab Didit.


"Kakak nurut aja sama kamu, yang terpenting kita sampai tujuan." Ucap Anin yang lebih memilih pasrah.


Lama mengobrol didalam mobil, tak terasa sudah sampai di Terminal. Satu persatu, beberapa orang turun dari mobil, termasuk Anin dan Didit.


Setelah mengambil tas bawaannya di bagasi, Didit celingukan mencari Bis untuk melanjutkan perjalanannya.


"Dit, Kakak lapar, kita cari makan dulu yuk." Ajak Anin sambil memegangi perutnya.


"Sama kalau gitu, aku juga lapar. Kita ke sana aja yuk, Kak." Jawab Didit, lalu menunjuk ke arah warung makan.


"Boleh, kita isi dulu perut kita." Ucapnya, dan keduanya segera menuju warung makan yang masih berada di ruang lingkup Terminal.


Rasa capek dan juga lelah, tak membuat sosok Anin hilang semangatnya. Justru, Anin begitu semangat dan ingin rasanya segera bertemu dengan kekasihnya.


Sampainya di warung makan, Anin dan Didit memesan makanan.


"Kak, mau pesan apa?" tanya Didit ketika sudah di warung makan.


"Ayam bakar juga boleh, Dit. Kalau untuk minumnya, air putih aja, ngirit." Jawab Anin semakin lirih pada kalimat terakhirnya.


"Ya, Kak." Kata Didit, tetap aja akan diganti sama Didit. Mau bagaimanapun, Didit tidak tega melihat kakaknya hanya minum air putih.


Meski bagus untuk kesehatan, tapi alangkah baiknya untuk menggantinya yang dapat menghangatkan badannya.


Setelah itu, Didit segera memesan makanan.


"Bu, saya pesan ayam bakarnya dua ya. Untuk minumnya, dua minuman jahe ya, Bu." Ucap Didit memesan, sedangkan Anin tengah fokus mencari tempat duduk yang kiranya nyaman.


"Kak, ayo kita duduk." Ajak Didit.


"Kita duduk di sana aja, sepertinya nyaman dan tidak begitu padat orangnya." Jawab Anin sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang dimaksudkan.

__ADS_1


"Boleh, ayo."


Saat sudah di tempat yang dipilih, Didit dan Anin segera duduk sambil menunggu pesanannya datang.


Tidak lama kemudian, pesanannya pun telah datang. Selanjutnya, Anin dan Didit menikmati ayam bakar dengan minuman jahenya.


"Dit," panggil Anin saat memperhatikan dua gelas minuman jahe di hadapannya.


"Ya, Kak, kenapa?" tanya Didit.


"Kakak kan, tidak pesan minuman jahe." Jawab Anin sambil mencuci tangannya di wadah kobokan.


"Untuk penghangat tubuh kita, Kak. Tenang aja, air putihnya juga ada kok." Kata Didit yang juga ikut mencuci tangan sebelum makan ayam bakarnya.


"Oh, kirain pesanan orang salah antar."


"Tidak ada yang salah kok, Kak. Untuk teman setelah makan, kita istirahat sejenak disini, baru lanjutin lagi perjalanan kita." Ucap Didit sambil menyuapi diri sendiri.


Sambil menikmati makanannya, Anin sudah membayangkan jika dirinya akan segera bertemu dengan seseorang yang sudah sekian lama dirindukan.


"Akhirnya, selesai juga. Oh ya, Kakak mau pesan apa lagi. Mumpung masih disini, nanti kita sudah berada di dalam Bis."


"Kakak sudah kenyang, kekenyangan malah. Kamu sendiri kalau masih ingin beli makanan, beli aja. Kamu kan mudah lapar, sudah sana kalau mau pesan lagi."


"Biarin aja, dari pada kamu kelaparan."


"Dih, nggak ya. Kita habisin dulu wedang jahenya, habis ini kita langsung berangkat."


Anin hanya nurut saja dengan ajakan adiknya.


Selesai menikmati ayam bakar dan ditemani wedang jahe, Anin dan Didit menuju tempat untuk mencari Bis sesuai lokasi yang akan dituju.


"Kak, alamatnya Kak Andika, mana?" tanya Didit yang hendak mencari Bis tujuan yang akan dituju.


Naas, tas miliknya tiba-tiba di rampas oleh dua orang asing. Dengan kuat, menarik tas gendongnya hingga Anin terjatuh.


"Lepaskan! jangan!"


BUG!


BUG!


BUG!

__ADS_1


"Aw!" pekik Didit saat dirinya beradu tonjok dengan jambret dan langsung mengejarnya.


"Jambret! tolong! jambret! tolong!"


Teriak Anin sangat kencang, berharap akan ada yang ikut mengejar.


"Tolong! jambret! tolong!"


Ani masih terus berteriak, orang-orang yang ada disekitarnya langsung ikut mengejar. Begitu juga dengan Anin, ikut mengejarnya walau tertinggal di belakang.


"Brengs*ek!" umpat Didit sambil menendang angin.


Naas, sekencang mungkin untuk mengejar, Didit tidak berhasil mengejar dua orang yang sudah menjambret tas milik kakaknya.


"Bagaimana Mas, dapat barangnya?" tanya seseorang yang juga ikutan bantu untuk mengejar.


Dengan napasnya yang terengah-engah, Didit mengatur pernapasannya.


"Tidak, Mas. Orangnya sangat lihai, aku kehilangan jejaknya." Jawab Didit dengan frustrasi.


"Yang sabar ya, Mas. Di Terminal memang rawat jambret, harus berhati-hati." Ucapnya, Didit hanya bisa mengangguk saja.


Percuma saja jika dirinya harus mengeluh.


"Dit, gimana dengan tas Kakak?" tanya Anin dengan cemas, karena harta satu-satunya berada di tas miliknya.


Didit hanya bisa menggelengkan kepalanya, Anin langsung menjatuhkan diri dan tertunduk lesu.


"Maafkan Didit, Kak. Ini semua salah Didit, seharusnya Didit sudah meminta alamatnya saat berada di Bus tadi." Jawab Didit merasa bersalah dan penuh penyesalan.


Anin masih terdiam, dirinya sudah tak mampu untuk berkata-kata lagi. Kemudian, Didit ikutan berjongkok di sebelah kakaknya.


"Kak, maafkan Didit. Tadi sudah mencoba untuk mengejar itu jambret, tapi kalah cepat larinya dengannya. Didit benar-benar meminta maaf." Ucap Didit yang merasa bersalah dan terus meminta maaf pada kakaknya.


Anin menoleh ke samping, tepatnya pada sang adik.


"Terus, kita mau kemana? Kakak lupa untuk memberikan alamatnya sama Kamu. Sekarang Kakak tidak mempunyai apa-apa lagi, identitas Kakak sendiri sudah hilang semua." Jawab Anin dengan lesu, dan juga terlihat begitu sedih saat kehilangan barang berharga miliknya.


Karena tidak mungkin juga untuk berjalan kaki, Didit berpikir sejenak untuk mencari cara agar dirinya dan sang kakak bisa sampai ke tengah-tengah kota.


"Kak, kita naik Bis aja ya. Nanti kita menuju tengah-tengah kota, hanya itu yang bisa kita lakukan. Tidak mungkin juga jika kita harus berjalan kaki." Ajak Didit dengan idenya.


"Tapi uangnya dari mana?" tanya Anin.

__ADS_1


"Aku masih ada uangnya kok Kak, cukuplah kalau hanya untuk naik Bis sama ganjel perut." Jawab Didit, Anin hanya bisa mengangguk dan nurut.


__ADS_2