
Setelah dinyatakan dil dan juga setuju dengan tawaran yang diberikan oleh kedua orang tua Elang, Anin diminta untuk kembali ke ruang tahanannya bersama teman-temannya. Setelah itu, baru akan diproses untuk dinyatakan bebas.
Sedangkan Didit, memilih untuk menunggu di luar. Harap-harap cemas, seperti itulah yang tengah dirasakan oleh Didit.
'Semoga saja Kak Anin tidak akan kecewa, dan bisa bebas dari tempat yang sangat menyedihkan ini. Aku berharap, Kak Anin akan mendapatkan kebahagiaan bersama kak Elang.' Batinnya penuh harap.
Sedangkan Tuan Mawan dan istrinya segera memproses kasus mengenai calon menantunya.
"Semoga, keputusan kita ini yang terbaik untuk anak kita dan Anin. Bukankah kita sama-sama membutuhkan satu sama lain? aku rasa cara kita ini tidak salah." Ucap istri Tuan Mawan.
"Semoga saja, Elang bisa sembuh." Kata Tuan Mawan sambil merangkul istrinya.
Cukup lama mengurus proses pembebasan Anin, akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Kini, Anin tengah berpamitan dengan teman-temannya yang lain.
"Nin, selamat, ya. Akhirnya, kamu bebas dari tempat ini. Aku doakan, semoga kamu temukan kebahagiaan di luaran sana." Ucap salah satu temannya memberi ucapan selamat.
Anin tersenyum bahagia, meski masih ada tanggung jawab lagi untuk melunasi kebebasan dari lapas. Yakni, menikah dengan teman sekolahnya sendiri. Teman yang selalu diminta pertolongan, dan juga teman yang selalu ada.
Tidak pernah terpikir di benak pikirannya, jika dirinya akan segera menikah dengan Elang.
"Jaga diri kalian baik-baik, ya. Aku doakan, semoga kalian segera menyusul dan kita bisa dipertemukan kembali." Ucap Anin berpamitan sebelum meninggalkan lapas.
Meski baru satu malam, Anin sudah mempunyai teman dan juga memberi semangat untuk dirinya. Satu persatu berpelukan secara bergantian sebelum pergi.
Setelah itu, Anin benar-benar meninggalkan lapas dijemput oleh kedua orang tua Elang bersama adiknya.
Dalam perjalanan, Anin menyandarkan kepalanya di jendela kaca mobil. Tak lepas dalam benaknya, Anin teringat dengan mendiang kekasihnya, yakni Andika. Lelaki yang sudah menjalani hubungan selama bertahun-tahun, harus pupus di pusaran.
Anin meneteskan air matanya, teringat kenangan bersamanya. Kenangan saat bertemu di acara wisudanya dengan sebuah kejutan, dan pada akhirnya kejutan itu berupa sebuah kematian demi menyelamatkan nyawanya.
Ibunya Elang yang melihat Anin tengah bersedih, tak berani untuk mengganggunya.
Siapa orangnya yang tidak bersedih, kebahagiaan yang dinanti-nantikan harus berakhir dengan kematian. Ditambah lagi harus menikah karena sebuah syarat dirinya bisa bebas dari penjara.
"Kak Anin," panggil Didit dengan suara yang lirih.
Anin menoleh.
"Ada apa?" tanya Anin.
__ADS_1
"Kakak sedang menangisi siapa? kak Andika, ya?"
Bukannya menjawab, justru Didit balik bertanya dengan lirih. Takutnya, kedua orang tua Elang mendengarkannya.
Anin menggelengkan kepalanya, dan menghapus air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
"Kakak hanya kangen sama kampung halaman kok, Dit." Jawab Anin beralasan.
Tetap saja, Didit tidak bisa dibohongi dan akhirnya manggut-manggut sebagai tanda bahwa dirinya percaya dengan apa yang dikatakan kakaknya.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di salon. Anin bingung dibuatnya.
Sedangkan Ibunya Elang, cepat-cepat melepaskan sabuk pengamanannya dan segera turun.
"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak ibunya Elang, Anin ikutan turun dari mobil dan diikuti adiknya, juga Tuan Mawan.
"Bukankah ini salon?" jawab Anin dan bertanya, istri Tuan Mawan tersenyum mendengarnya.
"Ya, Nak, ini memang beneran salon. Bukankah kamu akan menikah? tentu saja kamu harus tampil cantik, Nak. Walaupun tidak dengan pernikahan yang mewah dan megah, kamu harus berpenampilan sebagaimana seorang pengantin." Jawab calon ibu mertuanya.
"Ya, Bu. Saya ucapkan terimakasih banyak, karena sudah membebaskan saya dari tahanan, dan juga atas kebaikan Ibu yang lainnya." Ucap Anin berterimakasih kepada calon ibu mertuanya.
"Kalau masih saling berterimakasih terus dan terus, kapan masuk kedalam salon? waktu kita tak banyak, ingat." Timpal Tuan Mawan ikut bicara.
"Ya udah, sekarang juga kita masuk ke dalam. Untuk Papa, jemput anak kita dan ajak untuk pergi ke gedung yang sudah kita siapkan. Katakan saja pada Elang, ada kejutan untuk dirinya." Ajak ibunya Elang pada Anin dan Didit, dan tak lupa menyuruh suaminya untuk menjemput putranya.
Anin yang tidak bisa menolak, mengikuti ajakan calon ibu mertua.
Sedangkan Tuan Mawan mengiyakan dan segera menjemput putranya sesuai yang diminta istrinya, tentu saja sesuai rencana yang sudah disusun rapi.
Sedangkan di kediaman Alexander, Elang masih duduk di kursi roda di balkon. Apalagi kalau bukan mencari angin dan melamun.
"Den Elang, kita siap-siap yuk. Hari ini, Den Elang akan mendapatkan kejutan dari Tuan Mawan dan Nyonya Yenizar." Ajak Bi Narsih berbagai rayuan untuk membujuknya.
"Memangnya ada kejutan apa sih, Bi?" tanya Elang.
"Nona Anin." Jawab Bi Narsih dengan senyum.
Elang mengernyit, Bi Narsih kembali tersenyum.
__ADS_1
"Ya, Den Elang akan dipertemukan dengan Nona Anin, perempuan yang ada di bingkai foto ... fotonya kemana, Den?"
Sambil celingukan, Bi Narsih mencari foto Anin yang ada dibingkai foto.
"Sudah aku buang, kenapa?"
"Kok dibuang sih, Den?"
"Untuk apa? bukankah, tidak jadi deh Bi." Jawab Elang memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya.
Lagi-lagi Bi Narsih nahan tawanya saat mengetahui Elang tidak mau berkata jujur.
"Ya sudah kalau tidak jadi, lebih baik sekarang juga Den Elang bersiap-siap. Soalnya sebentar lagi Tuan Mawan sampai rumah, mau menjemput Den Elang." Kata Bi Narsih.
"Bi," panggil Elang dengan lirih.
"Ya, Den, ada apa?"
"Tolong bereskan kamar ini dari segala macam mengenai Anin, tidak ada satupun yang tersisa, termasuk fotonya dan yang lainya." Perintah Elang, Bi Narsih mengangguk.
"Baik, Den. Kalau Bibi boleh tahu, memangnya kenapa mesti di bereskan? bukankah Nona Anin akan bertambah senang jika ada sesuatu tentang dirinya."
"Bibi ikutin saja perintah dariku."
"Baik, Den. Nanti Bibi akan bereskan kamar Den Elang. Tapi sebelumnya, Den Elang bersiap-siap dulu ya. Soalnya sebentar lagi Tuan Mawan sampai rumah, dan langsung menjemput Den Elang."
"Ya, Bi."
Tidak lama kemudian, Tuan Mawan sampai di rumah, dan cepat-cepat menemui putranya dan mengajaknya pergi ke tempat yang sudah di siapkan.
"Bi Narsih." Panggil Tuan Mawan saat sudah berada di ruang tengah.
Bi Narsih yang mendengar namanya dipanggil, segera keluar dari kamar Elang.
"Ya, Tuan." Jawab Bi Narsih yang tengah menuruni anak tangga.
"Bagaimana dengan Elang, Bi? apakah dia sudah bersiap-siap?" tanya Tuan Mawan.
"Den Elang sudah bersiap-siap, Tuan. Sekarang sedang menunggu Tuan pulang." Jawab Bi Narsih setengah menunduk.
__ADS_1