Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Ada perubahan


__ADS_3

Karena penasaran dan sudah merasa yakin untuk bertemu dengan Elang, Didit memberanikan diri dan siap menanggung segala resikonya jika orang yang akan ditemuinya berbeda sikapnya dengan yang dikenalinya.


Ketika sudah didepan pintu kamarnya, dengan hati-hati membuka pintu. Saat pintu terbuka, dilihatnya sosok Elang yang tengah memandangi foto dalam bingkai tanpa menyadari jika Didit sudah berjalan mendekatinya.


"Kak Elang, bagaimana kabarnya Kakak?" sapa Didit dengan ramah.


Elang yang tengah dikagetkan dengan kedatangan Didit disebelahnya, langsung meletakkan foto dalam bingkai dengan terbalik.


Elang langsung menoleh dan mendongak, melihat siapa orangnya yang sudah datang ke kamarnya. Bukannya menjawab sapaan, Elang memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Keluar dari kamarku sekarang juga, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun." Usir Elang tanpa menatap wajah Didit.


"Kak, aku ini Didit, adiknya Kak Anin. Kakak masih ingat aku, 'kan? dulu Kak Elang sering main ke rumah, ingat kan, 'kak?"


"Aku sudah melupakannya, dan aku tidak ingin mengingatnya lagi. Sekarang juga, cepat kamu keluar dari kamarku." Jawab Elang, tak lepas untuk selalu mengusir siapapun yang mencoba untuk mengajaknya bicara, terkecuali kedua orang tuanya.


"Baiklah, jika Kak Elang tidak ingin bertemu denganku. Aku doakan, semoga Kak Elang segera sembuh dan berjodoh dengan kak Anin." Ucap Didit sebelum keluar dari kamar Elang.


Elang sama sekali tidak menjawabnya. Jangankan untuk menjawab, pandangannya saja ke sembarang arah.


Didit yang tidak ingin melihat Elang bertambah emosi, memilih untuk keluar dari kamarnya.


Sedangkan Elang, kembali melihat foto dalam bingkai. Saat itu juga, ibunya masuk ke kamar setelah Didit keluar.


"Lang, sudah waktunya untuk makan malam, keluar yuk? mau sampai kapan, kamu akan terus-menerus mengurung diri didalam kamar. Mama ada kejutan untuk kamu, besok kamu akan bertemu dengan perempuan yang kamu sukai. Perempuan yang ada di foto ini, Anin namanya." Ucap sang ibu yang selalu berusaha membujuk putranya.


"Aku tidak ingin keluar, bawakan saja makan malamnya ke kamar." Jawab Elang dengan kalimat yang selalu sama, setiap ibunya membujuk untuk makan bersama.


"Tidak boleh begitu, Nak. Di rumah kita ada Didit, adiknya Anin. Bukankah kamu sangat kenal dekat dengan keluarganya? ayolah jangan egois, kita makan malam bersama. Kamu harus semangat untuk sembuh, besok kamu akan bertemu dengan Anin, tadi Didit sudah membicarakan semuanya pada Mama." Ucap sang ibu yang terus mencoba untuk merayu putranya.

__ADS_1


"Aku tidak mau." Jawab Elang dengan singkat.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, Mama keluar dulu ya. Nanti, Bi Narsih yang akan mengantarkan makan malam untuk kamu."


Elang hanya mengangguk, sang ibu segera keluar untuk makan malam bersama Didit dan suaminya.


Tidak lama kemudian, Bi Narsih datang sambil membawakan makan malam untuk Elang.


"Ini Den, Bibi bawakan makan malam untuk Den Elang. Sekarang sudah malam dan waktunya untuk mengisi perut, agar tidak sakit. Bibi minta, letakkan dulu fotonya ya Den."


Hanya Bi Narsih, asisten yang dekat dengan Elang. Sosok Bi Narsih sudah dianggap bagian keluarganya, dan juga dianggap pengganti neneknya.


Elang nurut dan meletakkan foto dalam bingkai di sebelahnya. Kemudian, Bi Narsih membantu Elang untuk duduk dengan benar.


Setelah itu, Bi Narsih menyiapkan meja kecil yang selalu dijadikan alas untuk makan majikannya.


Dengan hati-hati, Elang mulai menyuapi dirinya sendiri. Meski terkadang malas dan merasa bosan dengan kondisinya yang juga tidak kunjung sembuh, entah mengapa malam ini sama sekali tidak emosi saat diminta untuk makan.


'Mungkinkah kedatangan lelaki tadi telah membawa kabar gembira untuk Den Elang? semoga saja benar.' Batin Bi Narsih penuh harap.


"Bi, sudah." Ucap Elang yang sudah menghabiskan makanannya dalam waktu sekejap.


Bi Narsih yang sempat melamun, terkejut melihat piring yang sudah tandas tanpa sisa.


Akhirnya, Bi Narsih tersenyum bahagia. Ingin rasanya cepat-cepat memberitahu majikannya, bahwa putranya telah menghabiskan makanannya tanpa sisa.


"Ini beneran sudah habis, Den?" tanya Bi Narsih seperti tidak percaya.


Biasanya, anak majikannya selalu menyisakan makanan pada piring. Katanya inilah, itulah, dan masih banyak lagi alasan padanya.

__ADS_1


Sekarang ini, justru seperti mimpi. Tidak biasanya habis, kini tidak ada yang tersisa sama sekali.


"Bi, kok melamun. Ini, bawa ke dapur." Kata Elang setelah memanggil Bi Narsih.


"Eh ya, Den. Bibi beresin dulu ya, habis ini obatnya jangan lupa diminum. Karena apa? agar Den Elang cepat sembuh dan segera bertemu dengan bidadari." Kata Bi Narsih, Elang hanya tersenyum tipis, dan tidak menjawabnya.


Setelah dibereskan, Bi Narsih memberi obat untuk diminum. Kemudian, segera ke dapur untuk mengembalikan piring kotor dan yang lainnya.


"Bi, ambilkan kursi rodanya." Perintah Elang yang memilih untuk pindah tempat duduknya ke kursi roda, meski ada rasa sakit pada bagian kakinya.


"Sebentar ya, Den. Bibi panggilkan Pak Ratno dulu, untuk bantu Den Elang duduk di kursi roda." Jawab Bi Narsih, Elang mengangguk.


Karena tidak ingin Elang menunggu lama, Bi Narsih segera memanggilkan Pak Ratno.


Setelah itu, Pak Ratno datang dan membantu Elang untuk pindah tempat duduknya ke kursi roda.


Merasa bosan dengan kesehariannya berada didalam kamar, Elang mencoba duduk bersantai di balkon dan ditemani Pak Ratno. Takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Den, jangan lama-lama di luar. Anginnya tidak baik untuk kesehatan, takutnya nanti masuk angin." Ucap Pak Ratno mengingatkan.


"Ya, Pak. Aku cuma merasa jenuh saja didalam kamar, hanya itu." Jawab Elang sambil menatap langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang memancarkan cahayanya masing-masing.


Dirasa sudah cukup, Elang kembali masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Begitu juga dengan Didit, dirinya sudah berada di kamar tamu.


Dengan perasaannya yang campur aduk, dirinya mulai gelisah memikirkan hari esok di kantor polisi. Harapannya begitu tipis untuk membujuk kakaknya agar mau keluar dari penjara dan menikah dengan lelaki yang rupanya sudah dikenalinya.


"Aku masih kurang yakin, kalau kak Anin mau menerima tawaran dari kedua orang tuanya kak Elang? seperti sangat nipis harapannya. Ditambah lagi belum lama dengan kepergian kak Andika, tentu saja sangat berat untuk kak Anin. Tidak hanya itu saja, kak Andika sudah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan kak Anin." Gumamnya sambil berbaring di atas tempat tidur, tentu saja memikirkan sesuatu yang akan terjadi untuk hari esok.


Rasa kantuk yang sudah menyerang rasa capek dan juga pikirannya yang begitu penat, membuatnya ingin segera beristirahat dan tidur dengan lelap.

__ADS_1


Tapi, tiba-tiba ingatannya kembali pada Anin, kakaknya yang masih berada di dalam jeruji besi.


__ADS_2