Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Acara resepsi


__ADS_3

Nilam yang mendengar ucapan dari Ayun, masih diam.


"Entahlah, Yun. Oh ya, kita ke sana aja yuk." Kata Nilam dan mengajaknya ke tempat lain.


Sedangkan Anin maupun sang suami, juga anggota keluarganya tengah gelisah menunggu Tuan Mawan dan Kakek Pratama yang belum datang.


"Lara, gimana dengan Papa, masih di rumah atau sudah berangkat?" tanya sang ibu yang takut akan terjadi sesuatu pada suaminya.


Ditambah lagi Tuan Mawan yang belum juga datang, tentunya membuat khawatir, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Kalau Tian sudah datang, kalau Papa tidak bisa dihubungi." Jawab Lara, dan menggigit bibir bawahnya, takut jika sang ibu akan bertambah khawatir.


"Ya udah, nanti Mama yang akan menghubungi Papa. Sekarang juga, kamu ajak Tian untuk naik ke panggung. Soalnya sebentar lagi akan ada sesi berfoto dan juga acara live." Kata sang ibu berpesan pada Lara.


"Ya, Ma. Nanti Lara panggilkan Tian." Jawab Lara.


Di atas panggung yang sudah didekorasi cukup mewah, telah mencuri perhatian para tamu undangan. Bahkan, Dinda juga melihat suasana dalam gedung yang begitu mewah dan seperti berada di negri dongeng.


'Sekarang kamu bisa jadi ratunya Elang, tetapi tidak untuk selamanya. Aku yakin, sebentar lagi kamu akan menangis darah.' Batin Dinda yang sudah dipenuhi halusinasi untuk mendapatkan sosok Elang, yang kini sudah menjadi suami teman dekatnya sendiri.


"Maaf, aku harus meninggalkan kamu disini. Tidak mungkin aku tunjukkan kepada publik, jika kau itu pacarku. Jadi, kamu bisa bergabung dengan yang lainnya, termasuk karyawan di kantornya Elang."


"Apa! aku harus menunggu kamu disini, aku tidak mau. Aku juga pingin masuk televisi, biar orang di kampungku tahu siapa Dinda." Jawab Dinda yang tidak ingin di tinggal oleh Tian sendirian.


"Kalau kamu ikut, reputasi aku bisa hancur. Karena kamu bukan orang sepadan dengan keluargaku, paham." Ucap Tian yang sebenarnya tidak ingin sang pacar mengetahui kebusukannya karena sudah berselingkuh dengan banyak wanita, dan tidak hanya Dinda saja yang sudah di rusaknya.


"Kamu bisa katakan, kalau aku ini saudara kamu, dari Papa kamu, gitu." Kata Dinda yang tetap memohon, berharap dapat masuk ke layar televisi.


'Da_sar! perempuan nora, perempuan kampungan itu yang benar.' Batin Tian mulai merasa geram.


"Ya, ya, ya, baiklah. Ayo ikut aku." Jawabnya dan mengajak untuk menemui keluarganya.


"Anin yang tengah duduk bersanding dengan sang suami, penglihatannya tertuju pada perempuan yang tidak begitu asing.


Elang merasa aneh ketika melihat istrinya tengah fokus pada satu arah.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya sang suami mengagetkan.


"Itu, yang sama Tian. Bukankah perempuan itu si Dinda, bener gak sih." Jawab Anin sambil menunjuk pada dua orang tengah berjalan beriringan, terlihat hendak naik ke panggung.


Elang yang melihatnya, mencoba untuk memastikan perempuan yang tengah berjalan beriringan dengan Tian.


"Ya, Benar. Kok bisa sama Tian, ya. Apakah mereka berdua ada hubungan? kenal dimana mereka berdua."


"Mana aku tahu, Nilam sama Ayun juga gak pernah bercerita." Kata Anin yang tidak tahu apa-apa mengenai sosok Dinda.


"Ya udah lah, gak usah dipikirin. Mau mereka pacaran, atau gaknya, gak penting."


"Oh ya, Papa sama Kakek, mereka belum pulang datang ya?" tanya Anin yang tiba-tiba teringat pada ayah mertua dan Kakek Pratama.


"Belum, kata Papa sedang dalam perjalanan. Mungkin lagi macet, tunggu saja." Jawab Elang saat mendapati kabar dari ibunya, bahwa sang ayah sudah dalam perjalanan bersama Kakek Pratama.


"Semoga selamat sampai sini, aku benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kakek. Aku kira, bahwa diriku sama Didit tidak mempunyai keluarga lagi. Ternyata, bagian keluargaku orang terdekat dengan keluarga kamu."


"Namanya juga jodoh, sejauh mana berpisah, akan disatukan kembali." Kata Elang sambil menunggu kehadiran sang ayah bersama kakek.


Sedang di sudut panggung, Ibu Rahel mendapati Tian yang baru saja naik ke atas panggung pengantin.


"Perkenalkan, nama saya Dinda, Bu. Saya ..."


"Aku tidak tanya sama kamu, tetapi sama putraku." Sambar Ibu Rahel sambil menatap sinis pada Dinda.


Bagai menelan ludah yang dibubuhi dengan cabe, panas dan tidak mengenakkan.


"Bukan pacar Tian, Ma. Namanya memang Dinda, dia hanya sebatas teman dekat saja." Sahut Tian yang tidak menjadi masalah yang semakin runyam.


Lara yang mendengar adiknya berbohong, tentu saja tidak peduli. Baginya tiada guna untuk ikut campuri urusannya.


Tentu saja, Lara begitu cuek dan seakan tidak mengenalinya, serta seperti tidak pernah bertemu.


"Oh, kirain pacar kamu. Pikir Mama kamu menduakan Helvi, syukurlah kalau kamu tidak menduakan Helvi." Ucapnya.

__ADS_1


"Tenang aja Ma, gak bakal aku duain." Jawab Tian meyakinkan ibunya.


'Siapa juga yang mau menyentuh perempuan macam dia, bikin kotor tubuhku saja. Dianya aja yang bo_doh, aku kasih minum level tinggi, kemudian setelah mabok berat, aku suruh orang yang beli untuk bermain ran_jang dengannya. Lumayan bukan? dapat untung gede dari yang beli.' Batin Tian dengan segala akal busuknya.


"Terus, dimana Papa kamu?"


"Aku disini." Sahut Tuan Vitton yang sudah berdiri di belakang putranya.


Tian segera menoleh ke belakang, rupanya benar yang ia lihat.


"Papa baru datang?" tanya Tian.


"Ya, macet dijalan, tadi."


"Oh, kirain." Timpal istrinya Tuan Vitton.


"Tua Mawan dimana? kok gak kelihatan."


"Lagi diperjalanan, Tuan Vitton menjemput Kakek Pratama."


"Apa tidak menjadi masalah, maksud aku, apa gak merepotkan?"


"Merepotkan kenapa? hari ini adalah hari resepsi pernikahan cucunya, juga pertama kalinya bertemu Anindita dan juga Aditya. Jadi, tidak ada yang merasa di repotkan. Ayah mertuaku masih sehat, juga tidak butuh alat bantu apapun."


"Ya, ya, ya." Kata Tuan Vitton dan memilih untuk berpindah tempat.


Kemudian, giliran Tian dan Dinda untuk memberi ucapan selamat kepada Anin dan Elang.


Dengan percaya dirinya, Dinda melingkarkan kedua lengannya pada lengan kiri milik Tian.


"Selamat ya, Nin, Elang. Semoga kalian berdua bahagia. Maaf juga, kalau aku tidak mengenakan baju yang kalian beri, soalnya aku couple dengan Tian." Ucap Dinda memberi ucapan selamat dengan nada suara yang dibuat-buat sok-sokan bergaya.


"Gak Papa, aku tidak keberatan jika kamu memakai baju yang serasi dengan Tian." Jawab Anin tetap tersenyum ramah, meski yang dihadapannya itu tidak menyukainya.


"Kalau boleh tahu, kalian berdua pacaran?" tanya Elang dengan rasa ingin tahu.

__ADS_1


Tian maupun Dinda sama-sama menoleh satu sama lain.


"Ya, kita pacaran." Jawab Tian dengan entengnya, meski apa yang dikatakannya hanyalah tipu-tipu saja.


__ADS_2