Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Kembali teringat


__ADS_3

Anin yang sudah terbangun dari tidurnya, segera beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan ritual yang lainnya.


Elang sendiri masih tidur dengan pulas. Anin yang sudah terbiasa melakukan aktivitas di pagi hari, segera turun dan pergi ke dapur.


"Selamat pagi, Bi." Sapa Anin mengagetkan Bi Narsih.


"Pagi juga, Non. Mau mencari apa, Nona?" jawab Bi Narsih dan bertanya.


"Tidak cari apa-apa kok, Bi. Saya cuma mau bantu Bibi bikin sarapan, boleh ya, Bi?"


"Jangan deh, Non. Nanti kalau Nyonya tahu, Bibi bisa kena marah. Mendingan Nona kembali ke kamar aja, temani Den Elang. Atau gak, Nona jalan-jalan pagi aja di taman belakang." Jawab Bi Narsih melarang istri majikannya untuk membuat sarapan.


"Gak ah, Bi. Boleh ya, saya bantuin Bibi bikin sarapan." Kata Anin yang terus memaksa.


"Ya deh, Non. Tapi, Bibi tidak tanggung jawab."


"Ya, Bi."


Terpaksa, Bi Narsih mengizinkannya. Ya, walau harus kena marah sama majikannya, Bi Narsih tidak berani terus menerus melarangnya.


Dari mulai membantu menyiapkan sarapan pagi, Bi Narsih benar-benar kagum dengan istri majikannya yang begitu cekatan.


Bi Narsih tersenyum melihat Anin yang terlihat begitu lihai.


'Pantas saja, Den Elang sangat mencintai Nona Anin. Tidak cuma cantik, tetapi juga lihai dalam kerjaan dapur.' Batin Bi Narsih yang tengah memuji istri majikannya.


Lamanya berada di dapur, Anin dan Bi Narsih, juga dua asisten rumah telah selesai membuat sarapan pagi.


"Bi," panggil Anin sambil mencuci tangannya.


"Ya, Non, ada apa?" tanya Bi Narsih.


"Saya kembali ke kamar ya, Bi." Jawab Anin selesai membantu Bi Narsih membuat sarapan pagi.


"Ya, Non, silakan." Ucap Bi Narsih dengan anggukan, Anin tersenyum ramah dan segera kembali ke kamar. Takutnya, sang suami mencarinya.


Sedangkan yang ada di kamar, Elang terbangun dari tidurnya. Kemudian, mengucek kedua matanya yang terasa silau saat penglihatannya bertemu dengan cahaya lampu.


"Kemana itu anak, apakah sudah bangun? eh ya, sudah tidak ada." Gumamnya sambil celingukan mencari keberadaan istrinya.


Badan terasa risih, Elang segera memanggil pak Ratno untuk datang ke kamar. Tentu saja, diminta untuk membantu dirinya mandi.

__ADS_1


"Dari mana, kamu?" tanya Elang saat mendapatkan istrinya masuk ke kamar.


Anin kaget dibuatnya saat sedang menutup pintu kamar. Kemudian, ia memutar balikkan badannya.


"Dari bawah, nemenin Bi Narsih masak. Kamu sudah bangun? maaf, aku tidak memperhatikanmu."


"Hem, cepat buruan mandi. Badan kamu bau asem, cepat mandi."


"Ntar ah, aku masih gerah. Nanti aja kalau udah agak mendingan, nanti takutnya masuk angin."


"Memangnya ngapain aja kamu di dapur? sampai keringatan gitu."


"Tidak apa-apa, gerah aja." Jawabnya beralasan.


Saat itu juga, keduanya dikagetkan dengan ketukan pintu. Anin langsung bergegas untuk membukakan pintu.


"Pak Ratno, silakan masuk." Ucap Anin saat mendapati pak Ratno yang sudah mengetuk pintu kamar.


"Permisi, Nona." Jawab pak Ratno dan segera masuk.


"Maaf, Den. Kalau boleh tahu, Den Elang memanggil Bapak di suruh ngapain?"


"Bantu saya mandi, Pak. Istri saya belum berani, malu katanya." Jawab Elang sambil menoleh pada istrinya.


'Duh! jangan gila, dong. Masa ya, aku suruh mandiin dia, yang benar aja. Da_sar! me_sum.' Batin Anin sambil menatap Elang dengan ekspresi mulut sedikit manyun.


Elang yang melihat ekspresi istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan, justru menaik turunkan alisnya.


'Dih! makin berani aja dia, mentang-mentang ada pak Ratno.' Batinnya lagi, dan memilih untuk duduk di sofa.


"Ya, Den. Mungkin saja, Nona Anin masih malu. Lagi pula, Den Elang dan Nona Anin sudah lama tidak pernah bertemu. Pantas saja jika istrinya Den Elang jadi malu." Kata pak Ratno, sedangkan Anin membulatkan kedua bola matanya.


"Mungkin ya, Pak. Semoga saja tidak lama-lama ya, Pak. Biar Pak Ratno bisa cuti, dan kembali jadi supir lagi." Ucap Elang, sedangkan Anin sendiri membuang napasnya dengan kasar.


Karena tidak ingin mengulur waktu Elang mengajak pak Ratno untuk membantunya mandi, Anin sendiri memilih duduk sambil menunggu suaminya selesai membersihkan diri.


Bosan duduk di sofa, Anin keluar dan mencari udara pagi di balkon. Sambil melihat jalanan yang begitu panjang, Anin kembali teringat dengan sosok Andika, yakni mendiang kekasihnya.


Tak disadari, Anin meneteskan air matanya saat teringat dengan kenangan-kenangan bersamanya. Sakit jika teringat, tapi apalah daya yang hanya bisa pasrah dan menerima takdir.


"Andai saja, orang tua Andika sebaik orang tuanya Elang. Mungkin saja, Andika masih hidup." Gumamnya sangat lirih sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Ngapain kamu berdiri di situ? mau bunuh diri?" tanya Elang yang tiba-tiba mengagetkan istrinya.


Anin langsung menoleh, dan sangat terkejut ketika mendapati suaminya yang tengah memergoki dirinya.


Anin kembali menoleh ke posisi semula, tentunya untuk menghapus air matanya agar tidak diketahui oleh suaminya, jika dirinya itu tengah menangis.


Kemudian, Anin menghampiri suaminya.


"Aku mau mandi, permisi."


Elang hanya mengernyit.


"Kamu habis menangis?" tanya Elang ketika mendapati wajah istrinya yang terlihat sembab.


"Gak kok, tadi aku kelilipan. Ya udah ya, aku mau mandi dulu." Jawab Anin yang langsung bergegas pergi meninggalkan suaminya sendirian di balkon.


'Bohong, kamu pasti merindukan Andika.' Batin Elang yang mencoba untuk menebaknya.


Malas memikirkan sesuatu yang hanya bisa membuang selera makannya, Elang menepis pikiran atas prasangka-nya.


Anin yang juga tidak ingin berlama-lama berada di dalam kamar mandi, cepat-cepat untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Anin keluar. Kemudian, ia menyisir rambutnya. Elang sendiri hanya memperhatikannya.


"Sudah waktunya untuk sarapan, ayo kita turun. Papa dan Mama pasti sudah menunggu kita." Ajak Elang pada istrinya.


"I-i-ya." Jawab Anin tergagap.


"Hem, gak usah malu. Ayo, kita turun." Anaknya lagi, Anin mengangguk dan segera mendorong kursi roda lewat jalan pintas.


Sampainya di ruang makan, rupanya benar yang dikatakan Elang. Bahwa kedua orang tuanya sudah duduk dengan rapi di ruang makan.


"Selamat pagi, Ma, Pa." Sapa Anin seramah mungkin, meski masih gugup dan canggung.


"Pagi juga, Nak. Ayo, silakan duduk. Kita sarapan dulu, setelah itu jadwal Elang untuk terapi." Jawab ibunya Elang.


"Memangnya hari ini jadwal terapi?" tanya Elang menimpali.


"Masa ya, kamu sudah lupa." Kata sang ayah ikut bicara.


"Padahal hari ini tuh, aku mau mengajak Anin untuk pergi ke makamnya Andika." Jawab Elang, Anin menoleh pada suaminya.

__ADS_1


"Ya, nanti setelah selesai terapi. Ya sudah, kita sarapan dulu. Setelah itu, kita bersiap-siap untuk berangkat." Kata ibunya Elang.


__ADS_2