Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Mendapatkan izin


__ADS_3

Sampainya di dalam kamar, perasaan Anin mulai tidak karuan. Ditambah lagi suaminya sudah mampu untuk berjalan, tentu saja akan membuat perasaannya mulai tidak tenang.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Elang yang mendapati istrinya tengah melamun.


Anin menoleh pada suaminya, serasa berat untuk menjawabnya. Menggelengkan kepalanya, hanya itu yang mampu dilakukan.


Anin masih dengan posisinya, duduk bersandar dengan kedua kalinya yang diluruskan sambil memeluk bantal tidurnya.


Saat itu pun, Elang menggeser posisinya dan duduk berdekatan. Tangan kanan milik Elang merangkul istrinya, Anin semakin gelisah dibuatnya.


Bagaimana tidak gelisah, suaminya yang sudah sembuh dari keterbatasannya karena tidak berjalan, tentu saja Elang lelaki normal.


"Kamu kok masih diam, apakah ada masalah? ceritakan saja padaku. Nanti aku akan membantumu, bukankah aku ini suami kamu? lantas, kenapa kamu merasa ragu dan canggung."


Anin menoleh dan sedikit mendongak, Elang meninggikan salah satu alisnya.


"Aku kangen kampung halaman, merindukan ibu Ami." Jawab Anin berterus terang.


"Yang sabar dulu, nanti aku bakal mengajakmu untuk pulang ke kampung. Tidak cuma kamu saja yang merindukan kampung, tetapi aku juga sama. Sudah sekian lamanya aku tidak pernah pulang ke kampung, dan ingin rasanya bertemu dengan kakek sama nenek." Kata Elang masih memeluk istrinya dengan tangan kanannya yang merangkul.


Anin masih diam, tidak tahu dirinya harus berkata apa.


"Aku boleh meminta izin, tidak?" tanya Anin memberanikan diri.


"Meminta izin, memangnya kamu mau kemana?" Elang balik bertanya.


"Aku pingin jalan-jalan di kota ini hanya dengan Didit saja, boleh kah?"


Elang menatapnya seperti ingin melarangnya. Tapi, dirinya juga tidak ingin egois untuk menahan istrinya.


Elang mengangguk, pertanda mengiyakan permintaan sang istri.


"Boleh, tapi tidak untuk berlama-lama." Kata Elang yang akhirnya mengizinkan istrinya untuk keluar bersama adik laki-lakinya.


Anin tersenyum mendengarnya, sama seperti Elang.


"Sudah malam, waktunya untuk istirahat. Jangan biasakan untuk bergadang, sayangi kesehatan kamu." Kata Elang mengingatkan istrinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan segera istirahat." Jawab Anin dan langsung men_cium pipi suaminya.


Elang terkejut dibuatnya, tidak biasanya mendapatkan kejutan yang sangat dinanti-nantikan.


"Mulai nakal, ya. Apa perlu aku mengerjakannya malam ini?" goda Elang dengan sengaja.


Anin memasang muka cemberut, Elang tersenyum melihatnya.


"Nggak, nggak. Aku tidak akan memintanya padamu, karena kondisiku sendiri masih lemah. Mendingan juga kita istirahat saja, biar tubuh kita menjadi segar saat terbangun dari tidur nyenyak kita." Kata Elang, Anin mengangguk dan langsung memposisikan dengan cara membelakangi suaminya.


Tidak pernah membuanh kesempatan emasnya, Elang langsung memeluk istrinya. Anin sama sekali tidak ada penolakan apapun yang dilakukan suaminya sendiri.


Lain lagi dengan ketiga sahabat Anin, tengah disibukkan dengan rencananya yang akan memutuskan pekerjaan karena ingin mencari gaji yang lebih besar lagi.


"Yun, besok kamu siap nih, ikutan daftar kerja ke perusahaan Alexander?" tanya Nilam sambil melipat bajunya.


"Ya Nil, aku sangat membutuhkan gaji yang besar." Jawab Ayun yang juga tengah melipat bajunya.


"Sama juga sepertiku, Yun. Aku juga menginginkan gajih yang cukup untuk merubah perekonomian keluarga aku di kampung. Tahu sendiri, di kampung kita sulit mencari pekerjaan." Kata Nilam yang baru saja melipat bajunya.


Sedangkan Dinda sendiri tengah membersihkan diri.


"Besok kita berdua mau mendaftar kerja di perusahaan yang katanya milik pemuda tampan yang bisa meluluhkan semua kaum perempuan." Kata Nilam, Dinda tidak begitu peduli dengan gosip yang mulai menyebar di kota tersebut.


"Jadi penasaran deh, kek mana pemilik perusahaan ternama itu ya." Ucap Yunda yang penasaran.


"Sudah ah, yuk kita tidur. Besok kita harus bangun pagi-pagi, karena harus bersiap-siap untuk berangkat mendaftarkan diri di perusahaan ternama itu." Kata Dinda yang serasa malas untuk membicarakan sosok lelaki yang di ceritakan oleh kedua temannya sendiri.


Tidak ada pilihan lain, ketiganya segera tidur.


Begitu juga dengan Anin yang jauh di sana, tengah tertidur pulas dalam pelukan suaminya.


Begitu pulasnya saat tidur dengan nyenyak, tidak terasa pagi yang cerah telah menyambut keduanya.


Anin segera bangun, dan cepat-cepat menghubungi adik laki-lakinya untuk bertemu.


Elang yang mendapati istrinya yang begitu bersemangat, hati kecilnya menyimpan rasa penasaran.

__ADS_1


Selesai memberi kabar pada adiknya, Anin segera membersihkan diri. Sedangkan Elang sendiri hanya bisa memperhatikan istrinya yang bersemangat untuk keluar bersama sang adik.


Selesai mandi, Anin segera mengeringkan rambutnya dan menyisir, serta mengucirnya. Tidak disadari, jika sang suami sudah berdiri di belakangnya yang sudah siap untuk memeluknya dari belakang dengan erat.


Dan benar saja, Elang tengah memeluknya, serta menc_ium leher jenj_angnya. Anin menggeliat karena geli, dan berusaha untuk melepaskannya.


Kemudian, Anin memutar balikkan badannya. Keduanya saling menatap satu sama lain, dan sama-sama tersenyum.


"Aku berangkat dulu ya, aku tidak akan berlama-lama." Ucap Anin berpamitan setelah sudah siap untuk berangkat.


Elang menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati dalam perjalanan, jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan lupa untuk menghubungiku." Jawab Elang, dan tak lupa memberi pesan untuk istri tercintanya.


Anin mengangguk, dan tak lupa untuk mencium pipi kanan milik suaminya. Entah dengan tulus atau hanya bersandiwara, hanya Anin yang mengetahuinya.


Setelah mendapatkan izin dari suami, Anin segera berangkat. Tak lupa juga, Elang mengantarkannya sampai di depan rumah.


Meski sudah mendapatkan larangan untuk keluar, tetap saja nekad untuk pergi.


"Dit, aku titipkan kakak kamu sama kamu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, jangan lupa untuk menghubungiku." Ucap Elang memberi pesan kepada adik iparnya, Didit mengangguk.


"Ya, Kak. Aku minta izin untuk mengajak Kak Anin untuk pergi sebentar." Jawab Didit.


Setelah mendapatkan izin, dan juga sudah berpamitan, Didit dan Anin segera berangkat.


Tetap saja, Elang bukan lelaki yang mudah untuk percaya. Dengan segala caranya, ia segera bersiap-siap untuk menyelidiki istrinya.


Namun sebelumnya, Elang sudah memerintahkan kepada beberapa anak buahnya untuk mengikuti kemana perginya sang istri.


Meski percaya jika istrinya orang yang dapat dipercaya, tetap saja ada kewaspadaan pada diri Elang.


Percaya hanya di hadapannya, curiga dibelakang istrinya.


Anin yang mendapatkan kebebasan untuk pergi dengan sang adik, seperti terlepas dalam sangkar emas.


"Kak, yakin nih suami Kakak tidak curiga?" tanya Didit yang menyimpan rasa cemas, jika kakak iparnya ternyata mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Tenang aja, Elang sudah percaya dengan Kakak sepenuhnya. Jadi, kamu tidak perlu takut, semua aman deh." Jawab Anin yang lupa siapa keluarga suaminya itu.


'Tidak mungkin Kak Elang tidak mempunyai anak buah, mustahil jika percaya begitu saja dengan istrinya sendiri.' Batin Didit yang mulai merasa tidak nyaman.


__ADS_2