
Tidak ada lagi yang ingin disampaikan kepada putranya, Tuan Mawan tidak memberatkan putranya untuk pulang.
Sedangkan Ayun, Dinda, dan Nilam, ketiganya juga pulang bersamaan. Dikarenakan, belum di mintai untuk bekerja, hanya perkenalan dan mendapat pencerahan mengenai apa saja tugas-tugasnya masing-masing.
"Yun, gimana? jadi kan, ketemuan sama Burnan?" tanya Dinda yang sudah tidak sabar untuk bertemu. Tentu saja, ingin bertemu lagi dengan Elang.
"Ya, nanti malam." Jawab Ayun sambil berjalan beriringan.
Nilam yang sudah menasehati Dinda, hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sudah capek untuk mengingatkannya.
"Jadi gak sabar deh, pingin ketemu Elang. Mana tambah tampan, keren, beruntung banget akunya kalau jadi istrinya." Gumam Dinda sambil berjalan dengan penuh khayalan.
"Awas loh, ntar kamu kena amuk sama istri pertamanya. Secara nih ya, orang kaya itu nyarinya lewat bibit, bebet, dan bobotnya." Ucap Ayun yang tak pernah merasa bosan untuk mengingatkannya.
Berbeda dengan Nilam, sudah bosan dan malas untuk memberi nasehat pada Dinda. Percuma baginya untuk menasehati, karena pada dasarnya si Dinda susah untuk diberi nasehat, pikirnya.
Sampainya di depan kantor, ketiganya menunggu mobil. Sedangkan di perjalanan, Elang sudah tidak sabar lagi ingin cepat-cepat bertemu dengan istrinya.
Dengan kecepatan yang tinggi, akhirnya sampai juga di rumah. Dengan terburu-buru, Elang segera masuk ke kamar.
Dan benar saja, Anin tengah istirahat dengan rebahan di atas tempat tidur. Seketika, Anin dikagetkan suaminya yang tengah menutup pintu kamar.
"Maaf, aku ketiduran." Ucap Anin yang langsung bangkit dari posisi tidurnya.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja tidurnya. Lagi pula, ini jam istirahat." Jawab Elang sambil melepaskan jam tangannya.
Dengan sigap, Anin membantu suaminya melepaskan jasnya dan dasi, serta baju kemejanya.
Elang sendiri hanya memandangi wajah ayu istrinya, merasa beruntung telah mendapatkan perhatian dari istri. Terasa sempurna hubungan pernikahannya itu.
Dilanjutkan lagi untuk melepaskan sepatunya, tetapi Elang mencegahnya.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Lebih baik kamu ambilkan baju ganti saja untukku.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, aku mau ambil baju ganti untukmu." Jawab Anin dengan senyum yang manis.
Dengan cepat kilat, Elang menc_ium bibir istrinya sekilas. Anin sendiri hanya tersipu malu saat mendapat ciu_man dari suaminya. Cepat-cepat, segera mengambilkan baju ganti untuk suaminya.
Selesai mengganti baju, Elang masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Kemudian, ia menghampiri sang istri yang tengah duduk di sofa sambil membaca majalah harian.
__ADS_1
"Aku ada kabar baik untukmu, sayang." Ucap Elang yang langsung duduk disebelah istrinya.
Anin menoleh pada suami.
"Kabar baik, kabar apaan?" tanya Anin penasaran.
"Kamu tahu?"
"Ya gak lah, belum juga dikasih tau, mana aku tahu. Ngarang aja kamu ini, kebiasaan." Sambar Anin, justru Elang tertawa mendengarnya.
Lagi-lagi Elang teringat dengan masa lalunya bersama sang istri, selalu berucap dengan kata-kata yang sama ketika hendak memberitahunya.
"Kan, ketawa, perasaan gak ada yang lucu deh."
"Ya deh, ya. Jangan ngambek gitu dong, jelek, tau."
"Habisnya, mau ngasih tahu aja diberi pertanyaan. Kebiasaan kamu tuh, gak pernah hilang dari dulu."
"Cup cup cup ... jangan ngambek gitu dong."
"Memangnya kabar baik apaan yang mau kamu beritahu kepadaku, sayang?" tanya Anin, tanpa merasa canggung untuk memanggil suaminya dengan sebutan sayang.
Anin hanya nyengir kuda.
"Nah, kan. Ya udah deh, aku menyerah. Baiklah, aku akan memberitahu kamu tentang kabar baiknya. Tapi ingat, jangan kaget."
"Ya, ya. Cepetan beritahu aku mengenai kabar baiknya, sayang."
Elang tersenyum bahagia mendengarnya.
"Kabar bahagianya yaitu, aku bertemu dengan ketiga teman kamu. Ayun, Dinda, dan Nilam, rupanya bekerja di kantorku. Dan aku, sudah menyuruh Burnan untuk mengajak mereka bertiga datang ke rumah."
Anin yang mendengarnya, pun sangat terkejut dan seperti mimpi.
"Kamu bertemu dengan Ayun, Dinda, dan Nilam? serius."
"Ya, sayang, aku sangat serius. Aku sedang tidak berbohong." Jawab Elang meyakinkan istrinya dengan menekan kedua pipinya dengan kedua tangannya.
Anin menatap suaminya dengan wajah yang berbinar.
__ADS_1
"Jadi, mereka bertiga akan datang ke rumah?"
"Ya, untuk kamu. Sekalian, aku akan memperkenalkan bahwa kita suami istri." Jawab Elang sambil memegangi kedua pundak istrinya.
"Tapi, aku takutnya mereka akan berprasangka yang tidak tidak mengenai diriku. Kalau sampai membenciku, bagaimana? aku tidak ingin itu terjadi." Ucap Anin.
"Ngapain harus takut, yang menjalani pernikahan kan, kita, bukan mereka. Jadi, kita harus siap menerima cercaan dari mereka. Apapun itu, tak perlu dijadikan beban pikiran." Kata Elang mencoba untuk meyakinkan istrinya.
"Ya sih, semoga aja tidak ada apa-apa. Aku hanya takut aja, jika pertemanan aku dengan mereka akan hancur, itu aja yang aku takutkan." Jawab Anin dengan lesu.
"Jangan berpikiran yang tidak tidak, percaya saja denganku. Karena aku sudah menyuruh Burnan untuk menceritakan kebenarannya." Ucap Elang yang berusaha untuk meyakinkan istrinya.
Anin mengangguk pelan.
"Aku hanya bisa berdoa, semoga semuanya baik-baik saja." Jawab Anin sambil memegangi kedua tangan suaminya.
Elang, pun mengangguk dan tersenyum pada istrinya. Kemudian, ia memeluknya.
"Sudah waktunya untuk makan siang, kita turun yuk. Ah ya, badan kamu bagaimana? masih ada yang sakit?" ajak Elang dan tak lupa untuk menanyakan kondisi istrinya.
Takutnya, ada sesuatu yang dirasakannya, tetapi tidak berani untuk mengatakannya langsung pada sang suami.
Anin menggeleng.
"Tidak begitu, nanti juga hilang sendiri sakitnya." Jawab Anin.
"Jangan bohong, ya. Kalau sakit, bilang aja. Nanti aku belikan obatnya." Ucap Elang yang khawatir dengan kondisi istrinya karena ulahnya yang semalaman.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja." Jawabnya meyakinkan suaminya.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita turun." Ajak Elang, Anin mengiyakan dan segera turun bersama suaminya menuju ruang makan.
Sedangkan di tempat lain, Dinda tampak gelisah. Sedari tadi bolak-balik memeriksa jam tangannya. Berharap, waktu segera cepat berlalu. Ingin rasanya segera bertemu dengan orang yang sudah sekian lama ia sukai.
Meski pernah di tolak oleh Elang, tidak membuat sosok Dinda menyerah begitu saja. Bahkan, dirinya rela jika dijadikan istri keduanya. Sungguh, cinta telah membuatnya buta. Lupa akan siapa dirinya, lupa sudah pernah ditolaknya.
"Kamu ngapain sih, Din. Perasaan dari tadi tuh, mondar-mandir melulu deh. Mikirin apaan sih, kamu."
Ayun yang melihat temannya mondar-mandir, dengan berani mengintrogasi. Meski sebenarnya tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh temannya itu.
__ADS_1
"Ini loh, jamnya lelet banget. Perasaan dari tadi masih siang aja, lama banget tau gak sih, nunggu malamnya." Jawab Dinda penuh kesal.