
Tuan Vitton yang mendengarkan apa yang diucapkan oleh Didit dan Elang, berasa mendidih otaknya.
'Si_alan, mereka berdua memang sengaja untuk menjadi pengacau. Awas saja, aku bakal mengawasi kalian.' Batin Tuan Vitton penuh geram dan juga merasa dongkol.
"Bagaimana, Tuan Vitton? tidak keberatan, 'kan? jika kita bertiga menginap di rumah sakit ini?"
Tuan Vitton tersenyum getir mendengarnya.
"Tentu saja, kalian kan, anak dan menantu istriku. Jadi, kalian bertiga menjadi anakku juga." Jawabnya beralasan.
'Setidaknya tidak ada Tuan Mawan dan istrinya, aku masih bisa untuk melakukan rencanaku.' Batin Tuan Vitton sambil mencari ide.
Setelah itu, Tuan Mawan dan istrinya berpamitan untuk pulang. Kini, tinggallah Anin bersama adik laki-lakinya dan sang suami, juga Lara maupun ayah tirinya bersama Tian juga tengah menemani ibunya di rawat.
Dengan penuh perhatian, Anin dan Lara menemani ibunya. Meski Lara tahu bahwa ibunya adalah bukan orang tua kandung, tetap menyayanginya dan tidak membencinya. Justru, Lara takut akan kehilangan ibunya jika Anin mengajaknya untuk tinggal bersama.
Begitu juga dengan Didit, dirinya bercerita banyak tentang masa-masa hidupnya di kampung. Tidak hanya itu saja, Didit juga menceritakan tentang ibu Amira yang sudah membesarkannya dan menggapnya seperti anak kandung sendiri.
Bahkan, Didit juga menceritakan apa yang ia ingat dan juga yang sudah dilewatinya bersama sang kakak.
Tidak hanya Didit saja yang bercerita tentang masa-masa berada di kampung, Anin juga ikut bercerita kenangan dirinya bersama sang suami saat berada di kampung.
Usai menceritakan tentang masa lalu saat hidup bersama ibu asuhnya, Anin terasa rindu dengan sosok ibu Amira. Meski tidak memberinya fasilitas yang cukup, Anin merasa merasa bahagia dibesarkan oleh ibu asuhnya.
Elang yang tidak ingin melihat istrinya bersedih karena masa lalunya yang kembali teringat dengan ibu Amira, segera mengalihkannya. Elang ikut mengobrol dan bercerita tentang keseruannya bersama sang istri tercintanya.
Selain ibu mertuanya, Lara dan Didit merasa terhibur saat Elang bercerita tentang kekonyolannya saat masa mudanya. Semua ikut tertawa, termasuk Anin yang juga ikut masuk dalam cerita suaminya.
__ADS_1
Tetapi tidak untuk Tian dan sang ayah, justru keduanya serasa bosan dan muak untuk mendengarkannya, karena merasa mendengar dongeng.
Lelah sudah, semua tidur dengan lelapnya. Beberapa hari sudah dijalaninya tanpa adanya kecurigaan mengenai Tuan Vitton maupun Tian. Tidak terasa juga, rupanya sudah waktunya diizinkannya untuk pulang ke rumah. Tentu saja, semua merasa senang mendengar keputusan dari dokter.
"Aditya, kamu ikut tinggal di rumah Mama ya, Nak?" ajak ibunya penuh harap.
Didit bingung antara menerima ajakan ibunya atau menolak.
"Kamu tidak perlu canggung, ataupun yang lainnya. Rumah yang Mama tempati, adalah rumah Papa Rahtair, ayah kamu dan Kak Anin. Kamu berhak untuk menempatinya, tidak ada alasan apapun untuk dilarang." Ucap sang ibu menjelaskan.
'Enak saja mau main nempati.' Batin Tuan Vitton yang sebenarnya ingin menolak kehadiran anak tirinya, yang tidak lain pewaris keluarga Pratama yang sesungguhnya.
Semua harta yang selalu menjadi kebutuhannya dan juga segala fasilitas maupun yang lainnya, adalah milik keluarga Pratama. Pewaris yang sesungguhnya yaitu, Aditya Pratama dan Anandita Pratama.
"Tunggu, tunggu, sepertinya aku mencium bau bau tidak sedap. Aku rasa ada penipuan oleh mereka berdua." Ucap Tuan Vitto menimpali.
"Asisten rumah kamu itu, yang sudah memalsukan identitas putrimu. Bayangkan saja, kecelakaan hebat, bisa menyelamatkan dua anak yang masih sangat kecil, mustahil. Aku yakin, ini semua ada dramanya." Jawab Tuan Vitton yang tak pernah merasa puas.
Elang yang mendengar perkataan dari ayah mertua tiri, serasa ingin melayangkan sebuah tinjuannya dan mengenai wajahnya itu.
"Aku tahu siapa Amira, karena dia adalah asisten satu-satunya yang sangat dipercaya di keluarga Pratama. Jadi, aku tetap percaya dengannya." Ucap istrinya yang tidak mudah untuk mempercayai suaminya kembali.
"Kamu itu terobsesi dengan anak kandung, sampai-sampai dengan mudahnya kamu percaya begitu saja dengan Tuan Mawan. Aku tahu, Tuan Mawan pasti ada udang dibalik batu."
"Cukup! Tuan Vitton. Keluarga kami tidak ada yang namanya memeras orang lain, apalagi untuk mengambil keuntungan. Keluarga Alexander itu bersih dari segala masalah. Yang kotor itu, mulutmu! Tuan Vitton." Sambar Elang yang terima jika orang tuanya dijadikan fitnah demi menutupi kesalahan Tuan Vitton sendiri.
Tuan Vitton bukannya mengoreksi diri, justru tertawa lepas saat mendengar Elang berbicara.
__ADS_1
"Kau ini bocah ingusan, lebih baik diam."
"Sudah! hentikan. Keputusan dariku sudah bulat, Anindita dan Aditya adalah anak anakku. Hanya satu yang bisa memberi bukti yang akurat. Yang aku tahu, kedua anakku mempunyai tanda lahir. Pada bagian kanan sikunya Anin, terdapat tanda lahir. Sedangkan untuk Aditya, disebelah kiri. Tanda lahir mereka berdua sama, tidak ada perbedaan apapun." Ucap ibunya Anin dan Didit.
Tuan Vitton yang merasa kalah telak saat berdebat dengan istrinya, mau tidak mau akhirnya mengecek kebenarannya.
Anin dan Didit yang mana kehadirannya belum bisa diterima oleh ayah tiri, akhirnya menunjukkan tanda lahirnya.
Benar saja, keduanya memang benar-benar memiliki tanda lahir yang sama. Tuan Vitton kembali gagal untuk menjadi pengacau kepada istrinya.
"Ya udah, ayo kita pulang. Aku tidak melarang anak laki-lakimu ikut tinggal bersama. Kamu ibunya, kamu berhak mengajaknya. Aku dan Tian akan pulang duluan, ada pertemuan di kantor." Ucap Tuan Vitton yang akhirnya menyerah karena merasa gagal untuk mengompori istrinya agar terhasut dengan omongannya. Tetapi sayangnya, rencananya gagal dengan sia-sia.
Tidak ada yang bisa mencegah, membiarkan Tuan Vitton dan putranya untuk pergi lebih dulu dari rumah sakit.
Lara yang tidak ingin mendapatkan getahnya, memilih untuk pulang bersama ibunya. Tentu saja, Lara tidak ingin mengambil resiko yang dapat merugikan dirinya sendiri.
Jika sudah menemukan kenyamanan, untuk apa harus berpaling, pikir Lara yang tidak mau mendapatkan kesialan.
"Mama tidak perlu memikirkan Papa, ada Lara dan juga ada Anin maupun Didit, Mama tidak sendirian." Ucap Lara sambil meraih tangan ibunya, seperti yang dilakukan oleh Anin yang masih menggandeng ibunya.
"Ya, Lara. Sekarang kita bertambah lagi jumlah keluarga kita, dan kamu mempunyai saudara." Jawab ibunya sambil tersenyum bahagia.
Anin dan Lara sama-sama memeluk ibunya, keduanya menc_ium pipi kanan dan kiri secara bersamaan.
Sungguh, bahagia yang berlipat-lipat yang didapatkan oleh istrinya Tuan Vitton, yakni Rahelia.
Setelah dirasa sudah cukup untuk berbicara, semua segera meninggalkan rumah sakit dan pulang dikediaman rumah milik keluarga Pratama.
__ADS_1
Selama perjalanan pulang, banyak hal yang diceritakan oleh Anin maupun Lara. Keduanya sama-sama asik untuk mendengarkan satu sama lainnya.