Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Kebahagiaan


__ADS_3

Elang yang masih berusaha untuk mengejar Tian yang ingin melarikan diri karena takut akan sebuah rencana yang sudah di buat oleh Elang, segera pergi jauh meninggalkan tempat resepsi pernikahan.


Elang yang sama sekali tidak memiliki pistol, tak gentar untuk mengejar seseorang yang sudah diduganya ikut andil dalam persengkokolan.


Dengan berani, Tian berhenti dengan senyum menyeringai sambil menodongkan postolnya ke arah Elang yang tengah berdiri di hadapan Tian yang jaraknya tidak jauh.


"Berani kau mengepung, pelatuk ini akan aku lepaskan. Juga, peluru ini akan menembus di kepalamu." Ucap Tian mengancam, dirinya berjalan mengelilingi Elang dengan langkah kakinya yang pelan. Juga, dengan matanya yang tidak lepas untuk menyelidik di sekitarnya.


"Lakukan saja bila kau berani, Tian. Kau! tidak lebih dari pembunuh berdarah dingin. Lebih baik kau menyerah saja, atau akan berakhir di balik jeruji besi." Sahut Elang ikut memberi ancaman kepada Tian.


Bukannya menjawab atau memikirkan atas ancaman yang diberikan oleh Elang, justru tertawa puas sambil mendekatinya.


Kini, jarak mereka berdua sangat dekat. Bahkan hanya beberapa senti saja, sekali pukul, akan terkena serangan.


Elang yang sudah siap siaga, sedari tadi memperhatikan Tian yang terlihat seperti sedang mencari sela, jika sewaktu-waktu dirinya akan menyerang.


Tian masih menekan pelatuk pistolnya, tentu saja untuk berjaga-jaga. Dengan tatapan kedua matanya, juga ikut mengawasi gerak-geriknya.


Elang tidak mau kecolongan, dirinya langsung melompat tinggi dan menendang tangan Tian yang tengah memegangi pistol.


DOR!


"Aw ...!" Teriak Tian kesakitan saat tangannya mendapatkan serangan dari Elang.


Sebuah peluruh terhempas ke sembarangan arah, juga pistolnya jatuh cukup jauh. Elang langsung menjatuhkan tubuhnya dan menggelinding untuk menyambar pistol milik Tian.


Kini, pistolnya sudah berada di tangan Elang. Kemudian, langsung menakuti Tian dengan cara yang sama, yakni menodongkan pistolnya ke arah Tian.


Bukannya takut, justru Tian tertawa mengejek sambil merogoh sakunya yang masih menyimpan pistol.


Elang yang sudah menduganya, hanya menyeringai dengan sinis.


"Kau pikir, aku ini bo_doh. Sayang sekali, kau lah yang bod_oh. Lihatlah, aku masih punya cadangan yang bisa aku lakukan untuk melenyapkan kamu." Kata Tian dengan sombong.


DOR!


DOR!


DOR!


Tem_bak mene_mbak saling bergantian, juga saling menyerang satu sama lain. Berkali-kali Elang mencoba untuk menghindar, terkadang hampir melesat temb_akan yang diarahkan oleh Tian.

__ADS_1


DOR!


DOR!


"Aaaaaaa!" teriak Tian saat tangan kanannya mendapatkan serangan tem_bakan dari seorang anggota polisi yang telah mengenai kaki kanannya dan tangannya yang memegang sen_jata api.


"Jangan bergerak!"


Tian yang sudah kelimpungan dengan kondisi yang sudah di kepung oleh banyaknya anggota polisi, tidak bisa berbuat apa-apa karena menahan rasa sakit akibat temb_akan yang di arahkan oleh dua anggota polisi dengan sengaja. Akhirnya, Tian dan ayahnya bersama Dinda ikut diringkus oleh anggota polisi.


"Awas kau, Elang. Gua balas nanti, ingat itu." Ucap Tian dengan penuh kebencian.


Elang yang tidak mendapatkan luka apapun, tetap saja merasa ada bagian tubuhnya yang terasa sakit karena dirinya menjatuhkan tubuhnya saat mau menyambar pistol milik Tian.


Anin yang sudah menyerahkan Tuan Vitton dan Dinda kepada anggota polisi, kini segera menyusul suaminya yang dikhawatirkan mendapat cidera karena perbuatan dari Tian.


Elang yang kebetulan menoleh, langsung merentangkan kedua tangannya dan memeluk istrinya.


"Kamu tidak apa-apa kan, sayang?" tanya Elang yang dipenuhi dengan rasa khawatir, lantaran harus menghadapi Tuan Vitton, ayah tirinya.


Didit maupun yang lainnya tengah menghampiri Elang dan Anin yang sedang pelukan.


"Tidak ada luka apapun pada kami, Pa." Jawab Elang.


"Syukurlah, jika kalian berdua baik-baik saja. Karena ini urusannya Papa dengan Kakek Pratama, juga ibunya Anin, biar kita yang akan memberi keterangan di kantor polisi. Sedangkan kalian, lebih baik pulang dan beristirahat. Tenang saja, sudah ada jejak rekaman yang bisa diambil untuk dijadikan barang bukti. Jadi, pulang saja kalian. Untuk soal rekayasa insiden kecelakaan Andika, Didit yang akan memberi keterangan." Ucap Tuan Mawan yang tidak ingin anak dan menantunya kelelahan.


"Ya, Nak, yang dikatakan Papa kamu itu benar. Lebih baik kamu pulang bersama istrimu, semua akan di selesaikan oleh Papa dan Kakek, juga ibunya Anin, Ibu Rahel." Timpal ibunya Elang, yakni Ibu Yenizar.


Anin yang kebetulan sangat lelah, lebih memilih untuk nurut perintah mertuanya. Begitu juga dengan Elang, sama halnya memilih untuk mengajak istrinya pulang ke rumah dan beristirahat.


Setelah itu, keduanya segera pulang bersama. Sedangkan Tuan Mawan dan Kakek Pratama maupun yang lainnya, segera berangkat ke kantor polisi untuk memberi keterangan serta bukti-bukti yang lainnya untuk memperkuat jalannya penyelidikan.


.


.


.


Anin yang sudah sampai rumah bersama suami, segera membersihkan diri. Kemudian keduanya duduk berdua di balkon untuk menikmati secangkir minuman hangat seperti minuman jahe.


"Gimana keadaan kamu, sayang? beneran gak ada yang sakit, 'kan?" tanya Elang yang begitu khawatir dengan keadaan istrinya.

__ADS_1


"Ya, serius, aku gak kenapa-napa." Jawab Anin yang tiba-tiba terlihat sedih, entah apa yang dipikirkannya.


Elang yang penasaran saat melihat ekspresi istrinya, langsung bertanya.


"Kamu jangan bohongi aku, sayang. Jujur saja, apa yang sedang kamu pikirkan? sedari tadi aku perhatikan, seperti sedang memikirkan sesuatu."


"Gak apa-apa, serius. Aku cuma gak nyangka aja, kok Dinda bisa gitu." Jawab Anin dengan lesu.


"Sepertinya si Dinda mau dijadikan senjata, tetapi sudah ketangkap basah duluan oleh polisi. Jadi, belum sempat melakukan misinya, sudah tertangkap." Kata Elang menjelaskan.


"Apa karena cintanya bertepuk sebelah tangan?"


"Sayang, Dinda dari dulu mengejar aku. Tapi, hatiku mengatakan, hanya kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai, tidak untuk perempuan lain. Aku tahu, mungkin kamu hanya mencintai Andika, tapi aku gak peduli, kau tetap milikku, sampai kapanpun. Karena aku yakin, bahwa suatu saat nanti kamu akan memberikan cintamu kepadaku." Jawab Elang sambil meraih tangan istrinya di Kalimat terakhirnya.


"Dan sekarang, aku memberikan cintaku kepadamu seorang. Ku berharap, kau akan terus bersamaku." Ucap Anin dengan senyum manisnya.


Elang yang mendengarnya, pun langsung memeluk istrinya.


"Terima kasih, sayang. Aku janji, akan selalu menjagamu, juga cinta ini." Kata Elang sambil memeluk istrinya.


Kemudian, Elang melepaskan pelukannya dan menci_um kening milik istrinya dengan lembut.


TAMAT


Saya ucapkan banyak-banyak terimakasih untuk Readers setia yang sudah berkenan menanti dan setia menunggu datangnya update, juga sudah memberi dukungan lewat poin, like, maupun komentar, juga yang lainnya. Maafkan author yang sudah mengecewakan di akhir cerita "Akhir Dari Perpisahan"


Sekali lagi, saya minta maaf sebesar-besarnya, jika akhir cerita ini tidak memuaskan untuk kalian semua readers setia. Takut menjadi cerita yang bertele-tele, akhirnya tamat dengan happy ending.


Author tidak bisa berkata apa-apa lagi selain ucapan terimakasih banyak atas kesetiaan kalian. Author doakan, semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan keselamatan, juga kemudahan dalam menghadapi segala urusan. Aamiin


Salam sayang author Anjana untuk kalian readers setia


Kalau masih mau mengikuti jejak, boleh mampir ke karya otor yang satunya, lagi. Tidak memaksa, untuk yang berkenan saja.


Judulnya.


ISTRI YANG KAU JANDAKAN


Terimakasih banyak readers setia...


sampai bertemu lagi di karya berikutnya...

__ADS_1


__ADS_2