Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Menjelaskan


__ADS_3

Anin menatap wajah suaminya.


'Semoga saja, Elang akan mempercayai diriku.' Batin Anin penuh harap.


"Kalau tidak ada yang mau kamu katakan, ayo kita turun. Sudah waktunya untuk sarapan pagi." Ucap Elang membuyarkan lamunan istrinya.


Anin tersadar dari lamunannya.


"Aku, em ..."


"Sudahlah, tidak perlu kamu paksakan diri demi membuatku senang. Jalani saja seperti air mengalir, tak perlu kamu memaksa diri kamu seperti yang aku mau. Seiringnya berjalannya waktu, pasti akan kamu temukan akan perasaanmu sendiri." Sambar Elang saat istrinya kesulitan untuk berbicara.


"Bukan itu, aku tidak merasa mendapatkan paksaan dari kamu. Aku siap menjalani hubungan pernikahan denganmu, dan juga tanpa paksaan apapun. Aku pun siap untuk ..."


Lagi-lagi Anin kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya.


"Sudah aku bilang, tunggu sampai kamu benar-benar siap. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, atau hal lebih lainnya. Hanya menjadi teman tidurku saja sudah lebih dari cukup." Kata Elang yang tidak ingin memaksa istrinya untuk membalas cintanya.


Anin menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku siap untuk melayani kamu, sebagaimana seorang istri yang akan melayani suaminya seperti yang diinginkannya." Ucap Anin dengan gugup.


Saat itu juga, Anin menutup wajahnya karena malu. Justru, Elang tersenyum lebar mendengarnya. Begitu menggemaskan atas jawaban dari istrinya.


Tetap saja, Elang tak ada paksaan untuk istrinya. Kemudian, Elang segera meraih kedua tangan milik sang istri yang tengah menutup wajahnya.


"Kenapa kamu mesti malu? bukalah. Ayo, kita turun kebawah untuk sarapan. Pagi ini, Mama dan Papa akan pergi ke luar negri." Ucap Elang sambil memegangi tangan istrinya.


"Ya, baiklah." Jawab Anin, kemudian keduanya segera turun ke bawah.


Sampainya di ruang makan, rupanya kedua orang tuanya Elang sudah menunggu anak dan menantunya untuk sarapan pagi.


"Kalian berdua sangat serasi, semoga kalian berdua benar-benar berjodoh.Bagaimana tidurnya dimalam kedua di rumah ini, Nak Anin? kamu betah kan, tinggal di rumah ini?"


"Em ... betah kok, Ma." Jawab Anin sedikit gugup.

__ADS_1


"Harus betah, ini kan rumah suami kamu. Jika kamu ingin punya rumah sendiri, nanti setelah Elang sembuh dari sakitnya." Timpal ayah mertua ikut bicara.


"Tidak perlu pindah kok, Pa. Anin akan ikut kemana suami Anin tinggal, dan tentunya tidak akan memberatkan suami sendiri." Jawab Anin sebaik mungkin.


"Oh ya, Ma. Semalam, eh maksudnya kemarin sore. Kemarin sore itu, aku sudah menceritakan semuanya pada Anin, mengenai kalung liontin milikku dan juga miliknya." Ucap Elang yang akhirnya berterus terang kepada kedua orang tuanya.


"Kita sarapan terlebih dahulu, baru kita membahasnya. Ayo, sarapan dulu." Jawab ibunya, Elang mengangguk. Sedangkan Anin memilih untuk diam, dan mengambilkan sarapan pagi untuk suaminya.


"Yang dikatakan Mama kamu itu benar, lebih baik kita sarapan dulu." Timpal sang ayah.


"Ya, Pa, Ma." Jawab Elang sambil menyeruput susunya.


Cukup lama menikmati sarapan pagi dengan roti dan susu, akhirnya selesai juga.


Ibunya Elang mengelap mulutnya sebelum memulai bicaranya. Setelah itu, mengatur pernapasan agar leluasa untuk menceritakan masa lalunya.


"Begini Nak Anin, kita tidak pernah tahu, pertemuan yang mana yang akan menjadi akhir dari sebuah cerita. Akankah masalah itu akan segera selesai? atau justru akan bertambah masalah kita. Kalau boleh Mana tahu, pesan apa yang kamu terima saat kalung liontin itu di tangan kamu, Nak?"


Anin masih diam, mencoba untuk mengingatnya lagi.


"Anin tidak tahu, Ma. Saat itu, Ibu tengah kritis keadaannya di rumah sakit, dan juga tidak mengatakan apa-apa pada kami. Hanya memberi pesan, yakni jangan pernah berpisah dengan adikmu." Jawab Anin yang memang kenyataannya tidak memberikan pesan apapun padanya.


"Kalau boleh tahu, siapa nama ibu kamu, Nak?" tanya Ibu mertuanya dengan rasa ingin tahu.


"Ami, maksudnya Amira." Jawab Anin sambil menundukkan kepala.


Kedua orang tua Elang benar-benar terkejut mendengarnya.


"Amira?"


"Ya, Ma. Apakah Mama mengenalinya? tolong, Ma, katakan pada Anin, siapa Ibu Amira?"


Ibunya Elang menoleh pada suaminya.


"Ibu Amira itu, asisten baru dari keluarga kedua orang tua kamu, Nak." Jawab ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kedua orang tua Anin? memangnya siapa ayah dan ibunya Anin, Ma? Mama mengenalnya?"


"Nama ayah kamu tidak salah, yakni ikut serta dengan nama lengkapmu beserta nama kakekmu. Jadi benar, Amira yang menyelamatkan kamu dan adikmu. Pantas saja, keberadaan kamu tidak bisa di temukan." Jawab ibunya Elang menjelaskan.


"Jadi, Anin masih mempunyai kedua orang tua?" tanya Anin ingin tahu asal usul dirinya dilahirkan.


Ibu mertua menggelengkan kepalanya.


"Ayah kamu sudah meninggal bersama kakek kamu saat insiden kecelakaan itu. Sedangkan ibu kamu, langsung menikah lagi karena sebuah perjodohan. Dan, harta ayahmu tengah di kuasai oleh suami ibumu dan anak laki-lakinya." Jawab ibunya Elang kembali menjelaskan atas kebenaran.


Anin yang mendengarnya, tak sadar jika dirinya meneteskan air matanya.


"Untuk saat ini, Mama dan Papa belum bisa mempertemukan kamu dengan ibumu. Karena pekerjaan Papa tidak bisa untuk di cancel, kamu yang sabar untuk menunggunya." Ucap Ibu mertuanya kembali.


Elang segera meraih tangan istrinya, pertanda untuk menguatkan hatinya.


"Kamu tidak perlu buru-buru untuk bertemu dengan ibumu, karena tidak mungkin juga langsung bertemu. Kamu tahu? nyawa kamu dan adikmu bisa saja langsung menjadi incaran ayah tiri kamu. Ayah kamu saja di singkirkan, apalagi kamu dan Didit." Kata Elang memberi nasehat kecil untuk istrinya.


"Yang dikatakan suami kamu itu benar, kamu tidak perlu buru-buru. Karena Mama dan Papa harus melakukan pertemuan terlebih dahulu dengan ibumu, itupun tidak semudah melakukan pertemuan layaknya kerja sama dalam usaha." Timpal ayah mertua ikut mengingatkan menantunya.


Anin mengangguk, dan mengiyakan apa yang sudah ia terima nasehat kecil dari suami dan ayah mertuanya.


"Ya sudah, Mama dan Papa mau bersiap-siap untuk berangkat. Kalian berdua jaga diri baik-baik, jangan pernah keluar rumah dengan alasan yang tidak penting." Ucap ibunya Elang mengingatkan sebelum berangkat ke luar negeri.


"Ya, Ma. Kalau untuk terapi, boleh kan, Ma?"


"Boleh, asal jangan mampir kemana-mana." Jawab ibunya, Elang dapat bernapas lega.


Sedangkan di dalam ruangan privat, tepatnya di rumah ayah tiri Anin, tengah duduk lelaki paruh baya bersama putranya yang sedang membicarakan sesuatu.


"Apa! masih hidup?"


"Benar, Pa. Ternyata kedua anaknya Tuan Rahtair itu masih hidup, dan kabar yang aku dapatkan, kedua anaknya tinggal di kampung."


"Kamu dapat kabar itu dari mana?"

__ADS_1


"Dari anak buahku yang sudah menemukan keberadaan suami dari asisten Tuan Rahtair sendiri. Sialnya, orang itu lolos dan kabur." Jawabnya dengan perasaan dongkol.


"Da_sar! bo_doh. Tangkap orang saja bisa lolos." Bentak sang ayah pada putranya yang menurutnya kurang cerdik, pikirnya.


__ADS_2