
Ketika keduanya sudah berhadapan, Anin dan Andika masih sama diam. Tidak ingin masalah semakin panjang dan menambah pikiran. Andika meraih tangan Anin, kekasihnya.
Anin yang masih menyimpan rasa kesalnya, langsung menarik tangannya. Naas, tangan Andika lebih cepat untuk meraihnya. Alhasil, Andika bisa menggenggam tanga milik kekasihnya. Sedangkan Anin sendiri merasa kecewa saat dirinya mengetahui kebenarannya.
"Anin, sebelumnya aku minta maaf atas kesalahanku ini sama kamu. Sebenarnya aku sudah menolak untuk lamaran, tapi ayahku tetap memaksa. Jujur, aku tidak akan menikahinya. Tolong Nin, percayalah sama aku untuk yang terakhir kalinya. Aku janji, aku akan tepati janjiku, menikahi kamu." Ucap Andika penuh harap, jika kekasihnya akan memberinya maaf dan kembali baikan.
Anin masih diam, tidak tahu harus menjawabnya apa. Kekecewaan yang dirinya saksikan, cukup menggores hatinya. Sakit hati, itu sudah pasti. Meski dengan berbagai penjelasan dan kata maaf, tetap masih menggores hatinya.
Andika yang tidak puas hanya duduk berhadapan, dirinya memilih duduk di sebelah Anin.
"Kenapa nomor kamu tidak bisa aku hubungi? kenapa, Nin? apakah kamu mendapatkan ancaman dari orang tuaku?" tanya Andika yang memilih bertanya karena rasa penasarannya.
Seketika, Anin langsung menoleh. Saat itu juga, Anin tersadar jika dirinya ganti ponsel dan juga nomornya.
"Ponselku hilang saat itu aku tinggal ke toilet, saat masuk ruangan, tidak ada ponsel di dalam tasku." Jawab Anin yang akhirnya teringat saat dirinya mengganti ponsel dan nomornya.
"Pantas saja, kamu tidak bisa dihubungi."
"Kamu juga, kenapa nomor kamu tidak bisa aku hubungi?" tanya Anin yang juga teringat saat dirinya kebingungan untuk menghubungi kekasihnya.
"Sama, tapi ponselku di rampas oleh ayahku. Saat itu aku marah besar, tetap aja nihil. Karena aku masih mengingat nomor ponselmu, maka aku mencoba untuk menghubungi kamu. Tapi, rupanya nomor kamu tidak aktif sampai sekarang. Bahkan, akun media sosialmu dan punyaku, semua di retas. Aku tidak bisa menemukan akun kamu sama sekali."
Anin langsung terkejut dengan penjelasan dari kekasihnya.
__ADS_1
"Aku yakin, jika yang melakukan semua ini adalah ayahku. Siapa lagi kalau bukan ayahku, seorang ayah yang paling licik terhadap anaknya sendiri." Sambungnya lagi.
"Tidak baik kamu bicara seperti itu tentang ayahmu, Beliau sudah menjadikanmu sukses dan menjadikanmu orang yang berpendidikan. Jangan kamu benci ayahmu, karena sosok ayah, tidak akan bisa tergantikan, walau menurutmu tidak baik sekalipun. Ayah tetaplah ayah, sosok yang akan kamu rindukan ketika sudah tiada." Ucap Anin, Andika hanya menghela napasnya.
"Jadi, bagaimana keputusanmu? aku menginginkan kita segera menikah. Karena aku tidak ingin kita berjauhan lagi, cukup sudah aku meninggalkan kamu, dan aku tidak ingin mengulanginya lagi."
"Aku masih bingung, karena menikah juga membutuhkan restu dari orang tua. Jika orang tuamu tidak merestui, apa jadinya hubungan pernikahan kita? pasti akan ada yang di korbankan."
"Kamu harus percaya denganku, bahwa kita bisa menjalaninya, meski tanpa restu sekalipun." Ucap Andika yang tetap bersikukuh dengan pilihannya.
Anin tetap diam, dilema itu sudah pasti. Bagaimana dirinya bisa menjalani statusnya sebagai istri, jika pernikahannya tanpa restu. Bukannya tidak ingin memperjuangkan cintanya, tetapi dirinya lebih takut jika akan berpisah ditengah jalan.
Seketika, Anin kembali teringat tentang cerita orang tua Andika, yang mana telah berpisah saat anak yang belum lama lahir. Tentunya, itu sangat menyakitkan bagi seorang istri yang harus berpisah karena tidak adanya restu, pikir Anin ketika menyaksikannya langsung bagaimana sikap ayahnya yang menentang keras untuk memiliki hubungan dengan dirinya. Tentu saja, membuat diri Anin terabaikan. Bahkan, dengan terang-terangan menyudutkan dirinya di depan orang banyak.
"Baiklah, aku akan temui kamu, sesuai yang kamu inginkan. Tetap saja, aku tidak akan berpaling darimu, sekalipun nyawaku yang harus menjadi taruhannya. Janjiku, tetaplah janji yang tidak akan pernah aku ingkari." Jawab Andika dengan serius, Anin sendiri tak mampu untuk menatapnya, dan memilih mengarahkan pandangannya ke sembarangan arah.
Karena tidak ada yang perlu di sampaikan, Anin bangkit dari posisi duduknya. Begitu juga dengan Andika, yang juga langsung berdiri. Dan ... sebuah kecupan mendarat di pipinya, Anin terkejut dan memeganginya.
Lalu, Anin menoleh ke samping.
"Aku sudah tidak sabar untuk memilikimu sepenuhnya."
"Bersabarlah, jika kita sudah ditakdirkan untuk berjodoh, apapun rintangannya, kita akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Tetapi jika kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh, sekuat apapun kita bertahan, tetap tidak akan bisa untuk disatukan." Ucap Anin, dan melepaskan tangan milik kekasihnya yang sedari tadi tak ingin lepas.
__ADS_1
"Aku harus segera pulang, tugasku masih banyak, dan aku harus menyelesaikannya." Sambungnya lagi yang berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Maafkan aku yang belum bisa membawamu pergi dari rumah itu. Aku janji, akan segera menjemputmu bersama adikmu." Kata Andika meyakinkannya, Anin hanya mengangguk.
"Aku hanya bisa berdoa yang baik untukmu, sampai bertemu lagi di kesempatan yang akan datang. Maaf, aku harus pulang duluan." Jawab Anin dan bergegas pergi dari hadapan pacarnya.
"Aku akan menjemputmu, Anin!" teriak Andika dengan suara yang kedengaran cukup keras.
Anin sama sekali tidak menoleh, ingatannya masih tertuju dengan sebuah pertemuan antara dirinya dengan lelaki yang selama ini ia jaga cintanya. Tapi, kenyataannya lain dari yang lain, Anin harus menyaksikannya langsung pemandangan yang begitu menyakitkan dihadapannya.
Sejenak, Anin berhenti.
"Aku yang bodoh, atau Andika yang pura-pura bodoh. Andai saja aku tidak ada di kota ini, sudah aku pastikan, mereka berdua pasti menikah. Dan kini, aku ditunjukkannya langsung atas kebenarannya itu. Maafkan aku, begitu sulit untukku melupakan apa yang sudah aku saksikan dan aku lihat dengan kepala mataku sendiri."
Ucapnya lirih di tempat yang sepi. Tanpa disadari, Didit mendengarkan semuanya.
"Kakak yang bodoh, mempertahankan cinta yang tidak bisa menjaga komitmennya." Ucap Didit yang tiba-tiba sudah berada di belakang kakaknya.
Anin langsung memutar balikkan badannya, dan dilihatnya sang adik yang sudah berdiri dengan tegak.
"Kamu,"
"Ayo Kak, kita kembali ke rumah majikan. Kakak tidak perlu takut, jika kita diusir, aku masih mempunyai uang untuk kembali ke kampung. Lupakan kota ini, karena sejatinya, kita hanya mencari kebenaran, bukan tempat tinggal." Ucap Didit yang mencoba untuk mengingatkan kakaknya.
__ADS_1
Takut, jika kakak perempuannya akan mudah diperdaya oleh laki-laki yang berlabel janji dan cinta.