
Elang yang penasaran kemana perginya sang istri, segera memerintahkan pak Ratno untuk mengejar istrinya.
Sedangkan Anin dan Didit, kini baru saja sampai di tempat yang di tuju. Salah satu anak buah Elang telah mengirimkan sebuah pesan pada bosnya, tentu saja mengenai kemana perginya sang istri.
Dengan kecepatan cukup kencang, pak Ratno melajukan mobilnya.
Anin bersama Didit yang baru saja sampai, segera menuju lokasi.
Saat itu pula, Elang baru saja sampai di tempat yang menjadi tujuan istrinya.
Awalnya Anin berdiri sambil melihat apa yang ada di hadapannya, yakni makam mendiang kekasihnya. Pertama datang, Anin tidak begitu leluasa karena ada suaminya.
Sedangkan yang sekarang ini, Anin merasa lebih leluasa saat menabur bunga dan menyiram air lewat botol kecil. Sedangkan Didit, hanya mengamati lewat kejauhan, tetapi tidak begitu jauh dengan jarak antara sang kakak dan dirinya.
Sambil menabur bunga, Anin begitu merasa kehilangan. Bukan karena tidak bisa menerima takdir, tetapi dengan keadaan yang sama sekali tidak pernah ia menduganya akan kehilangan orang yang dicintainya.
"Andika, maafkan aku yang membuatmu celaka dan pergi untuk selama-lamanya. Andai saja aku tahu akan terjadi seperti ini, aku memilih untuk yang pergi, bukan kamu." Ucapnya didekat pusaran kekasihnya sambil menyeka air matanya.
Elang sendiri yang melihatnya lewat kejauhan, ada rasa cemburu pada mendiang temannya. Begitu berharganya setelah tiada, masih di ingat dan dirindukan, pikir Elang sambil mengamati istrinya dari jarak yang cuku jauh. Tentunya, agar keberadaannya tidak diketahui istrinya.
Karena tidak ada yang perlu dicurigai, Elang kembali ke mobilnya sambil menunggu sang istri keluar.
Tidak lama kemudian, Anin keluar bersama Didit. Lalu, keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area pemakaman.
Elang mengikuti istrinya dari belakang. Karena mengetahui kemana arahnya sang istri, Elang meminta pak Ratno untuk menambahkan kecepatannya agar tidak didahului oleh istrinya.
Untungnya, Elang lebih dulu sampai di rumah. Anin sendiri baru saja pulang, dan segera mencuci tangan dan kaki, serta mukanya sebelum masuk ke kamar.
"Kok sudah pulang?" tanya Elang berbasa-basi.
"Ya, kan aku bilangnya cuma sebentar saja. Oh ya, bagaimana dengan kaki kamu, sudah lebih enakan, 'kan? jika ada rasa nyeri atau sakit, mendingan periksa lagi ke dokter." Jawab Anin dan tak lupa untuk memberi saran kepada suaminya.
"Tidak perlu, aku tidak merasakan apapun pada kakiku. Ah ya, hampir saja aku lupa. Sebentar lagi katanya Mama pulang, tadi menelponku dan mengatakan kalau Mama dan Papa sudah sampai di bandara."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Tentu saja, dan kita bisa jalan-jalan tanpa harus ada kursi roda."
"Terus, apakah kamu akan mulai aktif di kantor?"
"Tentu saja, aku akan aktif di kantor." Jawabnya penuh semangat, Anin hanya tersenyum tipis pada suaminya.
Entah harus bahagia atau sedih, pasalnya tidak lagi terus-terusan bersama di setiap waktu.
"Tapi tenang saja, aku tidak akan mencari sekretaris perempuan, aku akan mencari sekretaris laki-laki." Sambung Elang yang tidak ingin membuat istrinya cemburu.
"Terserah kamu bagaimana nyamannya, aku mau ke kamar dulu, ingin mengganti bajuku." Jawab Anin mengalihkan pembicaraan suaminya.
Dirinya merasa, jika tidak mempunyai hak apapun pada suaminya. Apapun yang menjadi keputusannya, adalah haknya sendiri.
Sedangkan bagi Elang sendiri tidak perlu marah kepada istrinya ketika sang istri mendatangi makam mendiang kekasihnya. Cemburu, itu hal yang wajar. Tetapi jika yang dicemburui telah tiada, untuk apa? pikirnya. Bagi Elang itu, yang terpenting dia dapat memiliki sang istri, lambat laut cinta itu akan datang dengan sendirinya, pikir Elang dengan cara berpikirnya yang positif.
"Ya, silakan. Aku mau ke belakang, kebetulan aku tidak mempunyai kesibukan apapun untuk hari ini." Kata Elang.
Elang yang sendirian di taman belakang rumah, alih-alih memetik buah stroberi dan buah kelengkeng yang sudah matang untuk temani duduk santainya.
Sambil menikmati buah yang ia petik, Elang membuka layar ponselnya. Kemudian, ia memeriksa pemberitahuan tentang kantor yang akan dimulai untuknya bekerja.
"Penerimaan karyawan baru, memangnya karyawan lama pada kemana?" gumamnya penuh tanya.
Karena penasaran, Elang bertanya dengan orang kepercayaannya.
"Apa! dipindahkan ke kantor yang di pimpin oleh Didit? yang benar aja ini. Jadi, nanti karyawanku banyak yang baru dong." Gumamnya setelah menerima pesan yang baru saja masuk.
Tidak terasa, waktu kepulangan kedua orang tuanya sudah hampir sampai di rumah. Elang yang tidak ingin kepergok oleh ayah dan ibunya, segera masuk ke kamar.
Baru saja masuk ke kamar, rupanya kedua orang tuanya sudah pulang.
__ADS_1
"Kok sepi, dimana Anin dan Elang, Bi?"
"Den Elang dan Nona Anin berasa dikamar, Nya."
"Oh, kirain mereka berdua pergi."
"Tidak kok, Nya. Mereka berdua masih berada di kamar. Kalau Nyonya dan Tuan izinkan, saya akan memanggilkan Nona Anin dan Den Elang."
"Tidak perlu, Bi. Takutnya mereka berdua tidak bisa diganggu, mendingan Bibi siapkan makan siang aja. Nanti kalau sudah siap, panggil aja kami." Kata ibunya Elang, sedangkan Tuan Mawan sudah lebih dulu masuk ke kamar.
Berbeda di tempat lain, Dinda, Yunda, dan Nilam tengah disibukkan dengan pendaftaran kerja di kantor perusahaan yang cukup besar.
"Dinda, kamu mau kemana?" tanya Yunda yang mendapati temannya entah mau pergi kemana.
"Aku penasaran dengan kantor ini, aku ingin ke kantin dan mencari tahu pemilik perusahaan yang menjadi Bos kita nantinya, kalau kita di terima." Jawab Dinda yang tiba-tiba menyimpan rasa penasaran karena rasa ingin tahu.
"Hem. Aku kira tetap pada Elang, ternyata menyimpan rasa penasaran juga dengan Bos kita nantinya. Tetap aja, kita ini orang kampung, mana ada akan ada yang kepincut dengan kita-kita ini." Timpal Nilam ikut berkomentar.
"Jangan salah, nyatanya Anin bisa." Kata Dinda berbicara dengan fakta yang ia tahu.
Yunda dan Nilam hanya tersenyum mendengarnya.
"Andika sudah kenal lama dengan Anin, wajar saja kalau mereka akhirnya menikah. Meski Anin bukan orang berada, tetap saja mempunyai kecerdasan." Ucap Nilam dengan apa yang ia ketahui tentang temannya.
"Ya juga sih Nil, positif thinking aja dah. Oh ya, kita ke sana yuk." Ajak Dinda, Yunda dan Nilam mengikuti ajakan dari temannya.
Semua karyawan yang melihat kedatangan ketiga teman dekatnya Anin, ada rasa yang berbeda. Yakni, dari segi penampilan yang begitu sederhana.
"Calon karyawan baru, ya?" tanya seorang karyawan dengan percaya dirinya.
"Ya, Mbak. Maaf, kalau boleh tahu, apakah kami diperbolehkan membeli makanan d kantin ini?"
Nila yang menjawab, sekaligus bertanya.
__ADS_1
"Boleh, tidak ada larangan apapun untuk calon karyawan baru di sini." Jawab salah satunya lagi. Anin, Nilam, dan Yunda merasa lega karena akhirnya mendapatkan izin untuk membeli makanan.