
Setelah kedua orang tuanya Elang pergi ke luar negri, tinggallah Anin dan suami yang berada di rumah ditemani para asisten dan pekerja yang lainnya.
Elang yang sudah mendaftarkan diri lewat online, kini mulai bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.
Pasalnya, Elang ingin berkonsultasi dengan dokter mengenai penggunaan alat bantu. Merasa bosan setiap harinya harus duduk di kursi roda, dengan tekadnya untuk tidak ketergantungan dengan kursi roda.
"Apa kamu benar-benar serius ingin memulainya dengan alat bantu penyangga? takutnya kamu terbebani dengan caraku."
Elang menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak merasa terbebani, justru aku tertarik dengan cara kamu itu. Aku rasa memang ada benarnya, jika aku tidak melulu menggunakan kursi roda ini." Jawab Elang yang tetap bersikukuh dengan keputusan yang diambil.
"Baiklah, aku akan menemani kamu ke rumah sakit. Terus, untuk alat bantunya bagaimana?"
"Tenang saja, aku sudah memesannya. Nanti sore juga sudah datang. Kalau kamu sudah siap, ayo kita berangkat."
"Aku sudah siap dari tadi, lagi pula tidak ada sesuatu yang penting untuk aku bawa." Kata Anin.
"Ya udah, ayo kita berangkat." Ajak Elang, Anin mengangguk dan mendorong kursi roda sampai di depan rumah.
Setelah itu, pak Ratno membantunya untuk naik ke dalam mobil dan dibantu oleh Anin.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Elang melihat jalanan yang dipadati pejalan kaki yang melewatinya. Begitu juga dengan Anin, tak lepas juga dirinya sambil melamun.
'Benarkah aku masih mempunyai ibu? aku masih tidak percaya, kenapa mereka tidak mencari keberadaan anaknya? apakah kehadiranku dan kehadiran Didit tidak diharapkan?' batin Anin penuh tanda tanya.
Elang meraih tangan istrinya, dan menggenggamnya.
"Kamu kenapa? perasaan sejak tadi kamu melamun."
Anin menoleh pada suaminya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran aja, seperti apa wajah ibuku? apakah mau menerima kehadiranku dan Didit?"
Elang tersenyum.
__ADS_1
"Orang tua mana yang tidak merindukan putrinya? sebenci bencinya orang tua dimasa lalunya yang tidak mengharapkan kehadiran sang buah hati, pasti akan merindukannya. Tapi, aku rasa ibu kamu sangat menyayangi kamu." Ucap Elang mencoba untuk meyakinkan istrinya.
"Entahlah, aku tidak begitu mengharapkannya. Kasih sayang dari ibu Ami sudah lebih cukup dan sangat besar pengorbanannya padaku dengan Didit. Bahkan, aku mendapatkan kasih sayangnya yang begitu sempurna, hingga sampai akhir napasnya. Justru, aku belum sempat membalas jasa-jasanya."
Kata Anin sambil menundukkan pandangannya, dan juga meneteskan air matanya karena sebuah kerinduan kepada seseorang yang sudah membesarkannya dan memberinya kasih sayangnya yang begitu tulus.
Elang segera merangkulnya.
"Kamu tak perlu bersedih, ada aku yang akan terus menemani kamu. Dan aku juga yang akan menggantikan ibu Ami, yang akan memberimu kasih sayang dan perhatian, serta cintaku untukmu seorang." Ucap Elang sambil memeluk tubuh istrinya.
Anin bersandar di dada bidang suaminya, terasa nyaman untuk dijadikan sandaran.
Tidak terasa, telah sampai di rumah sakit.
"Tuan, kita sudah sampai." Ucap pak Ratno mengagetkan kedua majikannya.
"Sudah sampai ya, Pak. Tolong bantu saya untuk turun ya, Pak."
"Baik, Tuan." Jawab Pak Ratno sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Anin juga membantu suaminya turun dari mobil. Setelah itu, di lanjut oleh pak Ratno yang mendorong kursi rodanya sampai ke dalam rumah sakit.
"Jadi, saya boleh nih Dok, tidak terus-terusan menggunakan kursi roda?" tanya Elang kembali memastikan.
"Tentu saja diperbolehkan, justru Anda tidak ketergantungan dengan kursi roda." Jawab sang dokter.
"Terimakasih atas saran yang lainnya dari Dokter, saya akan berusaha untuk terus belajar berjalan. Saya tahu ini sangat berat, tidak ada salahnya jika saya mencobanya." Kata Elang, sang Dokter tersenyum padanya.
"Nomor satu itu, yakin untuk bisa. Selebihnya, kita berusaha dan berdoa." Ucap sang Dokter.
"Ya, Dok." Jawab Elang.
Setelah tidak ada keluhan apapun, Elang berpamitan untuk pulang. Tentunya, sudah tidak sabar untuk mencobanya belajar berjalan dengan menggunakan alat bantunya yang baru. Yakni, alat penyangga tubuhnya agar dapat menopangnya.
Selama perjalanan, Elang semakin bersemangat. Tak lupa, dirinya kembali memeluk istrinya.
__ADS_1
"Demi untuk membahagiakan kamu, aku akan terus berusaha dan tidak akan menyerah untuk belajar berjalan." Ucap Elang sambil menatap lurus ke depan.
"Aku doakan, semoga kaki sembuh dan bisa berjalan kembali seperti dulu. Aku percaya sama kamu, bahwa kamu bisa untuk melewatinya." Jawab Anin dalam sandaran dada bidang milik suaminya.
Sejenak, Elang memejamkan kedua matanya. Kemudian, menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya perlahan juga.
Tidak terasa, telah sampai di depan rumah. Saat itu juga, pesanan yang baru saja pagi tadi pesan, rupanya sudah sampai bersamaan.
"Den, pesannya sudah datang." Kata Bi Narsih yang baru saja menerima pengiriman barang pesanan.
Elang tersenyum merekah saat melihat harapannya sudah berada di depan mata. Anin mendorong kursi rodanya, dan masuk kedalam rumah.
"Bi, taruh aja barangnya di ruang keluarga. Aku mau makan siang dulu, Bibi sudah masak, 'kan?"
"Sudah, Den. Tadi pak Ratno telpon, Bibi langsung menyiapkan makan siang untuk Den Elang dan Nona Anin." Jawab Bi Narsih.
"Makasih ya, Bi. Maaf, sudah banyak merepotkan Bibi. Seharusnya saya yang menyiapkan makan siang untuk suami, tapi justru Bibi yang menyiapkannya." Timpal Anin yang ia tahu tugas seorang istri untuk melayani suaminya dari segi apapun.
"Disini mah, sudah ada Bibi dan asisten yang lainnya. Jadi, Nona tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan makan siang atau yang lainnya, cukup panggil di antara kami saja, Non."
"Nggak ah, Bi. Ya udah ya, Bi, saya tinggal dulu." Ucap Anin berpamitan.
Sampainya di ruang keluarga, Anin membantu suaminya untuk berpindah tempat duduknya.
"Hati-hati," kata Anin sambil memapah suaminya untuk duduk di sofa.
Setelah itu, Anin membuka barang kiriman sesuai yang sudah dipesan oleh suaminya.
Sesudah itu, Anin menyerahkannya langsung pada suaminya.
"Apakah kamu sudah siap untuk mencobanya?" tanya Anin saat menyerahkan alat bantu milik suaminya.
"Aku akan mencobanya, kamu cukup awasi aku." Jawab Elang.
Rasa penasaran yang sudah tidak sabar ingin mencobanya, susah payah Elang untuk menggunakan alat bantunya.
__ADS_1
Takut, itu sudah pasti. Pasalnya, selama ini dirinya belum pernah mencobanya. Tentu saja, gemetaran pun telah ia rasakan.
"Jangan mendekat, aku bisa kok. Kamu cukup awasi aku aja, wajar saja jika badan aku gemetar." Ucap Elang berusaha untuk tetap tenang, meski sebenarnya bercampur aduk rasanya.