Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Berkumpul dengan teman


__ADS_3

Saat hendak membuka kotaknya, Anin menoleh pada adiknya.


"Beneran nih, Kakak yang buka?" tanya Anin kembali memastikan.


Didit membuang napasnya dengan kasar.


"Aku harus ngomong berapa kali sih Kak, perasaan dari tadi aku tuh sudah meminta sama Kak Anin untuk membuka kotaknya. Sini, kalau tidak mau buka, biar aku simpen lagi aja. Biarin dah, utuh kek gitu terus." Jawab Didit geregetan.


Anin hanya nyengir kuda saat adiknya bicara, dan akhirnya dibukalah kotaknya dengan pelan-pelan. Takut, akan ada sesuatu yang sangat menegangkan.


'Semoga tidak ada pesan yang berat untuk kami berdua ya, Bu.' Batin Anin penuh harap.


"Kok bengong sih Kak, udah buruan dibuka itu kotaknya." Pinta Didit yang sudah tidak sabar karena ingin mengetahui isi didalamnya.


"Ya sih Dit, ya. Sabar dong, Kakak takut nih."


"Kenapa mesti takut, lagian juga cuma buka kotak. Isinya apa, untuk apa, gitu."


"Ya deh, ya." Jawab sang kakak dan membuka kotaknya.


Saat kotaknya sudah dibuka dengan sempurna, Anin dan Didit sama-sama menatap satu sama lain.


"Bukannya lihat isi kotaknya, nih palah saling menatap." Ucap Didit dan mengalihkan pandangannya ke kotak tersebut, yakni yang baru saja dibuka oleh sang kakak.


Begitu juga dengan Anin, arah pandangannya menuju kotak yang baru aja dibuka sendiri.


"Ada dua amplop, Dit." Kata Anin dan mengambil dua amplop yang ada di kotak tersebut.


Kemudian, Anin memberikannya pada sang adik yang bertuliskan namanya.


"Nih, sesuai nama kamu, ambil dan baca sendiri." Ucap Anin.


"Isinya apaan ya, Kak. Bukan cek dan uang kan, Kak?"


"Mata duitan banget kamu-nya ini, buka aja sendiri. Punya Kakak juga sama kek punyamu." Jawab Anin dan membuka amplopnya.


Sama halnya yang dilakukan oleh Didit, yang juga ikut membukanya.

__ADS_1


"Kak, aku kok takut ya Kak." Ucap Didit yang terasa berat untuk membuka isi amplopnya.


"Sudah cepetan kamu buka amplopnya, dan baca, biar kamu tidak penasaran." Jawab Anin yang juga belum membukanya.


"Ya, Kak, ya. Ya udah yuk, kita buka bareng." Kata Didit dan mengajak kakaknya untuk membukanya secara bersamaan, sang kakak mengangguk.


Saat amplop terbuka, Anin maupun Didit langsung membaca isi tulisan yang ada dalamnya.


Perlahan keduanya membuka amplopnya masing-masing dan membacanya dengan sangat detail dan juga seksama. Kalimat demi kalimat yang tertulis dalam lembaran kertas tersebut, membuat tubuh Anin gemetaran.


Begitu juga dengan Didit, dirinya ikut terkejut membacanya. Keduanya saling menoleh dan menatap satu sama lain, dan kembali tertuju pada tulisan.


Air mata Anin lolos begitu saja, tumpah dan membasahi kedua pipinya. Sungguh di luar dugaan dengan apa yang dituliskan oleh ibunya, dan tentunya tidak pernah disangka sebelumnya.


"Kak," panggil Didit dengan lirih.


Anin langsung menghapus air matanya dan baru berani menghadap kepada adiknya.


"Kenapa?" tanya Anin sambil melipat lembaran kertas tersebut.


"Tidak ada, sudah malam, lebih baik Kakak istirahat. Oh ya, Meski Ibu Ami bukan orang tua kandung kita, jangan sampai kita melupakannya. Oh ya, aku hampir lupa, ini kotak kecil milik Kakak. Maaf, baru memberinya setelah kotak yang besar dibuka, karena pesan dari ibu juga." Jawab Didit sambil memberikan kotak kecil tersebut kepada sang kakak.


"Aku mau keluar sebentar Kak, mau cari angin dulu. Pintunya dikunci saja, aku bawa kunci serepnya." Jawab Didit yang memilih keluar.


"Ini sudah malam loh Dit, besok lagi aja kalau kamu mau keluar. Kamu harus jaga kesehatan kamu, untuk pesan dari ibu, kamu tidak perlu pusing memikirkannya." Ucap Anin mencoba untuk memberi solusi pada adiknya.


"Kak Anin tenang aja, palingan satu jam aja nongkrongnya, habis itu juga pulang. Lagian tidak mendung, Kakak tidak perlu khawatir." Jawab Didit yang tetap ingin keluar.


"Ya udah kalau kamu tetap ingin keluar, jangan macam-macam diluar. Ingat, ada masa depan yang menantimu." Ucap Anin tak bosan untuk mengingatkan, Didit mengangguk.


"Ya, Kak, tenang aja. Ya udah ya, aku keluar dulu." Kata Didit dan langsung menyambar jaketnya yang ada di kursi sebelah dan juga menyambar kunci motor di atas meja.


Anin yang tidak bisa mencegah adiknya keluar, terpaksa mengizinkannya. Tidak ingin semakin penat untuk memikirkan sesuatu, memilih untuk beristirahat. Sebelumnya, Anin mengunci pintunya setelah sang adik keluar rumah.


Sedangkan Didit yang tengah mengendarai motornya, melakukan kecepatan tinggi dan sampailah di tempat teman-temannya berkumpul.


"Hei! Bro, tumben keluar nih anak kuliahan. Kenape Lu? galau tidak punya pacar?" panggil temannya sambil ngemil kacang rebus.

__ADS_1


Didit langsung ikutan duduk dan langsung menyambar kacang rebus yang ada didepannya, lalu ikutan makan bareng.


"Tidak ada apa apa, bosen aja di rumah." Jawab Didit sambil mengunyah kacang rebus.


"Tumben kamu mah, biasanya juga pilih di rumah dan sibuk dengan buku. Nih, ada angin apa kamu-nya? jangan-jangan kamu ini sudah punya pacar secara sembunyi, ya? ngaku aja, Lu."


"Serius, aku tidak punya pacar. Aku hanya ingin cari angin aja, lagian sudah lama aku tidak pernah kumpul dengan kalian. Kuliah juga satu tahun lagi, habis itu kelar." Jawab Didit sambil mengunyah.


"Justru itu, setahun lagi itu masa-masa berat untukmu. Semangat aja deh pokoknya buat kamu, gunakan waktumu setahun ini dengan baik. Supaya kamu bisa seperti Kakak kamu itu, berprestasi." Ucapnya yang tak lupa mengingatkan, meski dirinya sendiri tidak melanjutkan kuliahnya.


Tetap saja, namanya berteman untuk saling mengingatkan dan saling menolong, dan tidak untuk tidak menjatuhkan.


Pertemanan yang sudah cukup lama dari kecil, sama sekali tidak ada persaingan sengit diantara mereka. Sekalipun hanya memberi waktu untuk berkumpul beberapa menit saja, di antara temannya tidak ada satupun yang berani memutuskan pertemanan.


"Ya, Dit, kamu tetap fokus dengan kuliahmu. Kita kan ikut bangga dan juga senang, jika kamu menjadi orang sukses." Timpal teman yang satunya yang juga ikut mengingatkan.


"Ya, tenang aja sih. Oh ya, besok ada yang nganggur gak? maksud aku ada yang tidak kerjaan nggak? aku ada lowongan nih."


"Ada sih, tapi kerja apaan?" tanyanya.


"Di Kebon-ku, kebetulan butuh pekerja. Gajinya tidak besar sih, tapi aku akan usahain, itupun tinggal lihat hasilnya lebih atau tidaknya. Kalau menolak, aku juga tidak akan memaksa." Jawab Didit apa adanya.


"Kamu seriusan? ntar bohong, lagi."


"Aku serius lah, kapan aku bohong, mau atau tidak? lumayan buat malam mingguan."


"Kamu butuh berapa orang?"


"Dua orang, tiga orang juga boleh."


"Aku mau, Dit."


"Aku juga, Dit."


" Aku ikutan, Dit."


Jawab ketiga temannya yang mau menerima tawaran dari Didit.

__ADS_1


"Tapi aku tidak ada di lokasi, aku mau mengajak Kakak aku liburan. Jadi, besok aku akan kasih tahu tugas kalian." Ucap Didit.


__ADS_2