
Elang baru saja sampai di kantor, rupanya sudah ada pengawal dibelakangnya. Bahkan, tidak ada satupun karyawan yang berani berbisik untuk membicarakannya.
Dinda, dengan percaya dirinya berjalan mendekati Elang untuk memberi sapaan.
Karena langkah kakinya yang terhalang, terpaksa berhenti di depan Dinda.
"Lang, kok baru kelihatan. Kemarin-kemarin kemana? sibuk, ya?"
Dengan percaya dirinya, Dinda memanggil Elang tanpa menempatkan posisi di mananya. Sedangkan Elang masih diam, sengaja untuk tidak menjawab pertanyaan ataupun sapaan dari Dinda.
"Bos Elang mempunyai kedudukan tinggi di kantor ini. Jadi, jaga bicara anda ketika berada di kantor, apalagi berhadapan dengan Bos Elang. Panggil dengan nama Tuan, atau Bos. Ini di kantor, bukan di Mall, mengerti." Ucap seorang pengawal memberi peringatan padanya.
Seketika, Dinda sangat terkejut mendengar penuturan dari salah satu pengawal.
"Minggir, aku mau lewat." Ucap Elang dengan sikap dinginnya.
Saat itu pula, Dinda merasa seperti dipermalukan oleh Elang di depan karyawan lainnya yang tengah melewatinya, termasuk Ayun dan Nilam yang hendak keluar untuk membawa berkas untuk diantarkannya pada sekretaris Burnan.
"Silakan kembali ke tempat kerjamu." Ucap salah satu pengawal Elang pada Dinda.
Kemudian, Elang langsung menuju ke ruang kerjanya
Dengan geram, Dinda hanya berdecak kesal saat bayangan Elang bersama pengawalnya jauh dari pandangannya.
"Sudah deh, Yun. Ayo kita ke ruangan Burnan, disini kita kerja, bukan mencari perhatian. Aku rasa sikapnya Elang itu benar, harus tegas dan keras, agar tidak mudah untuk diperdaya."
Kata Nilam sambil membawa beberapa tumpukan lembaran berkas yang harus di serahkan ke sekretaris.
"Apa Lu, lihat-lihat. Mau ketawa, ketawa aja. Tapi tidak untuk hari berikutnya. Aku jamin, kalian akan tercengang." Kata Dinda sambil menatap penuh kesal pada Ayun dan Nilam.
"Sudah deh, Yun. Kamu tidak perlu menanggapi Dinda, buang-buang waktu saja." Ucap Nilam sambil menarik tangan Ayun.
Dinda yang merasa dicampakkan dan juga diabaikan oleh Elang, hatinya terasa panas. Bahkan, dirinya merasa tak dikenalinya. Ditambah lagi sudah memutuskan pertemanannya dengan teman satu gengnya, merasa dongkol dan juga benci.
Nilam dan Ayun tengah menuju ruang kerjanya Burnan, untuk menyerahkan beberapa berkas yang harus di koreksi kembali oleh Burnan.
__ADS_1
Saat mengetuk pintunya, Nilam terasa malas untuk masuk. Tapi, apa daya yang baru menjadi karyawan, harus lebih semangat untuk kerja.
"Kalian."
"El ... eh, Bos Elang. Maaf, belum terbiasa."
"Gak apa-apa, masuk aja ke dalam." Jawab Elang dan langsung pergi dari ruangan sekretaris.
Nilam dan Ayun yang melihat sikap Elang yang dingin, sejenak mencernanya.
"Kalian berdua ngapain berdiri di depan pintu? mau masuk atau tidak nih."
"Masuk." Jawab Nilam singkat, dan menarik tangan Ayun untuk masuk kedalam ruang kerja Burnan.
Kemudian, Burnan kembali menutup pintunya dan berjalan mendekati kedua temannya.
"Burn, ini berkas yang kamu minta. Mohon untuk di koreksi lagi ya, takutnya masih banyak yang salah." Ucap Nilam sambil menyodorkan beberapa lembaran kertas yang harus kembali dikoreksi lagi.
"Ya, nanti." Jawab Burnan sambil menguap, lantaran kedua matanya seperti terhipnotis karena mengantuk.
"Boleh, memangnya kamu mau bertanya apa?" kata Burnan balik bertanya.
"Elang kok keknya berubah ya, maksud aku terlihat dingin dan gak seramah kemarin pss bertemu." Jawab Nilam yang akhirnya mengutarakan rasa ingin tahunya dengan perubahan Elang yang tidak pernah disangkakannya.
"Oh, soal Elang. Memang dia sengaja seperti itu, agar ada wibawanya. Nanti kamu juga bakal tahu sendiri, siapa sebenarnya sosok Elang. Ya udah, kembali ke ruang kerja kalian. Ini kantor, kamu harus bisa jaga sikap dengan atasan, termasuk dengan Bos kalian sendiri. Kalau di luar jam kerja, terserah mau panggil siapa atasan kamu sebagai teman gengmu." Kata Burnan memberi penjelasan.
Saat itu juga, Ayun dan Nilam baru mengerti saat mendapati Dinda yang begitu diacuhkan oleh Elang. Bahkan, sikap tegas pada Elang benar-benar tidak disangkanya.
Setelah mengantarkan berkas kepada sekretaris, Ayun dan Nilam kembali ke tempat kerjanya.
Sampai di dalam ruang kerjanya, Nilam mencoba untuk mencerna kembali pada setiap ucapan dari Burnan mengenai sikapnya Elang yang berubah.
Seketika, ingatannya tertuju pada Dinda yang telah diabaikan oleh Elang.
'Mungkinkah Elang sengaja melakukan semua ini agar dapat menghindari Dinda? sepertinya sih, memang iya. Semoga saja, Dinda bisa jera ketika Elang selalu mengabaikan dirinya.' Batin Nilam sambil melamun.
__ADS_1
"Yang bernama Dinda, diminta untuk masuk ke ruang kantor Bos, sekarang juga." Ucap seseorang yang ditugaskan untuk memanggilnya.
Dengan penuh rasa percaya diri, Dinda langsung bangkit dari posisinya. Sedangkan Nilam dan Ayun, mengarahkan pandangannya pada Dinda dengan penuh rasa penasaran.
"Kalian sudah mendengarnya sendiri, 'kan? kalau menurutku nih ya, Elang pasti tergoda dengan penampilanku ini. Kamu tahu, secara aku terlahir sudah cantik." Bisiknya di dekat Nilam, Ayun hanya mendengarnya dengan samar.
"Oh ya satu lagi, Nilam Hendawati juga diminta untuk menemui Bos Elang, sekarang juga." Ucap seseorang yang memanggil Dinda.
"Kamu dengar juga kan, bahwa aku juga dipanggil. Jadi, jaga mulutmu saat mau pamer." Jawab Nilam yang juga langsung bangkit dari posisi duduknya.
Kemudian, Nilam segera pergi ke ruang kerja Bosnya. Begitu juga dengan Dinda, mengikutinya dari belakang dengan perasaan penuh kekesalan dan juga dongkol.
Tetap dengan percaya dirinya, Dinda semakin mempercepat langkah kakinya. Tentu saja, tidak mau jika didahului oleh Nilam.
Saat sampai di depan pintu ruang kerjanya Elang, Dinda langsung menekan tombol pintu.
Nilam mundur satu langkah agar tidak berhimpitan dengan Dinda.
"Yang masuk duluan itu aku, bukan kamu. Jadi, minggir." Ucap Dinda dengan tatapan penuh kebencian.
"Silakan kalau mau masuk duluan, aku di belakang kamu." Jawab Nilam dengan santai.
Saat pintu terbuka dengan sendirinya, dengan percaya diri, Dinda segera masuk. Bahkan, Dinda sampai lupa dengan pesan dari salah satu pengawal Bosnya yang meminta untuk menjaga sikap kepada atasan maupun Bosnya sendiri. Lalu, diikuti Nilam dari belakang.
Berbeda dengan Nilam, memilih diam dan sedikit menundukkan pandangannya. Dirinya teringat akan pesan yang baru saja disampaikan oleh Burnan, yakni untuk membedakan kantor dan di luar jam kerja.
Dengan berani, Dinda langsung berkata.
"Memangnya ada apa sih Lang, kamu panggil kita berdua, sepertinya penting."
Elang menatapnya dengan serius, tak ada ekspresi layaknya teman dekat maupun teman geng.
"Kamu, kamu, niat kerja atau tidak, kenapa bisa salah begini? hah!" Ucap Elang sambil menatap satu persatu secara bergantian.
Dinda benar-benar merasa kesal saat pertanyaan darinya telah diabaikan. Nilam sepertinya ingin tertawa, tetapi ia menahannya agar tidak kena marah sama Bosnya.
__ADS_1