
Selesai membersihkan diri dan juga sudah bersiap-siap, Didit segera keluar dari kamar. Tak lupa juga dengan jaket dan juga tas kecil yang akan dibawa.
"Kak, sarapan yuk." Ajak Didit saat sudah berada di ruang makan.
"Ya, tunggu sebentar. Kakak lagi siap-siap, kamu sarapan dulu juga tidak apa-apa." Sahut Anin dari dalam kamarnya.
"Nggak ah, tidak enak kalau makannya sendirian. Aku tunggu Kakak aja, lagian juga tidak buru-buru." Kata Didit sambil menunggu sang kakak, menyibukkan diri dengan ponselnya. Alih-alih membuka pesan masuk.
Anin yang sudah bersiap-siap untuk berangkat, segera keluar dan sarapan terlebih dahulu.
"Dah, ayo kita sarapan. Letakkan ponselnya dulu, nanti bisa kamu lanjutkan lagi." Ucap Anin sambil menarik kursinya.
Didit langsung mendongak, dan dilihatnya sang kakak yang sudah rapi dengan penampilannya.
"Kamu yakin, cuma makan roti aja sudah kenyang?" tanya sang kakak saat meraih selesai roti untuk mengoleskannya pada roti.
"Kenyang lah, Kak. Nanti kita juga makan lagi di sana." Jawab Didit sambil menyesap minuman tehnya.
"Sebenarnya kamu itu mau mengajak Kakak jalan-jalan kemana sih, Dit?" tanya Anin dengan rasa penasaran.
"Nanti Kak juga bakal tahu sendiri, yang jelas tempatnya belum pernah kita datangi. Penasaran, 'kan? yuk ah, kita sarapan pagi dulu. Habis ini, kita akan langsung berangkat." Jawab Didit sambil menikmati roti yang diolesi dengan selai.
"Awas ya, kalau sampai tempatnya tidak bagus. Pokoknya kamu harus ganti rugi sama Kakak."
"Ya deh, ya. Kakak tenang aja, pasti tidak bakal kecewa." Kata Didit sambil makan roti.
Selesai sarapan pagi, kedua kakak-beradik segera berangkat ke tempat yang sudah menjadi pilihan Didit.
"Kita naik motornya Kak Elang, tidak apa-apa 'kan? biarpun motornya udah tua, masih enak kok untuk dipakai. Jangan bilang, kalau Kak Anin merindukan kak Elang." Ucap Didit saat mengeluarkan motor milik Elang lewat samping rumah.
Seketika, Anin kembali teringat dengan sosok Elang yang selalu memberinya pertolongan dan juga selalu membantunya dalam kesusahan.
__ADS_1
"Kak Anin, ngelamun aja deh. Dah ah, yuk kita berangkat. Nanti kita kepanasan di perjalanan, bisa gerah kita, Kak." Ajak Didit yang tidak ingin membahas tentang Elang.
Anin yang juga tidak ingin liburan bersama adiknya terganggu, memilih untuk tidak bertanya tentang lelaki yang selalu ada waktu untuknya.
"Jangan kebut-kebutan ya, Dit, Kakak trauma." Ucap Anin memberi pesan pada adiknya.
"Ya, Kak, tenang aja." Jawab Didit sebelum melajukan motornya.
"Pegangan, Kak, ntar jatuh." Ucapnya, Anin nurut dan berpegangan di bagian pinggang adiknya.
Dengan kecepatan sedang dan terkadang menambahkan kecepatannya, Didit tetap harus hati-hati ketika mengendarai motornya. Terlebih lagi ada sang kakak yang dibonceng di belakang, tentu saja harus memikirkan keselamatan dirinya dan juga kakaknya.
Cukup lama menempuh perjalanan menuju tempat yang akan dituju, sesekali Didit menepikan motornya di pinggir jalan yang ada pohon besarnya..
"Kok berhenti sih, Dit. Memangnya da apa? masih jauh ya. Sini, biar Kakak aja yang mengendarai motornya. Gantian kamu yang duduk di belakang, udah sini biar Kakak aja."
"Tidak usah, Didit mau buka pesan masuk. Takutnya ada pesan dari Dani atau yang lainnya. Kakak tetap duduk di belakang, biar Didit yang bonceng Kak Anin."
Didit cuma mengangguk saja, pandangannya masih tertuju dengan layar ponselnya. Tentu saja, Didit tengah memeriksa satu persatu pesan masuk.
"Sudah beres, kita lanjutkan lagi perjalanan kita ya, Kak." Ajak Didit untuk melanjutkan perjalanannya.
"Ya, jangan kebut-kebutan. Utamakan keselamatan kita, ingat itu." Jawab Anin yang tidak pernah bosan untuk mengingatkan sang adik.
Didit mengangguk dan melanjutkan perjalanannya.
Cukup capek dan juga letih, akhirnya Didit dan Anin telah sampai di tempat yang dijanjikan oleh adiknya.
"Rame banget sih, Dit. Apa tidak ada tempat yang tempatnya sedikit sepi, gitu. Biar tidak pusing melihat banyak orang yang ke sana ke mari."
"Kakak tenang aja, kita tidak akan disini. Kita ke sini itu, cuma parkir motor aja kok. Kalau kita parkirnya di sana, tidak akan diterima, karena di sana khusus mobil saja." Jawab Didit, dan tak lupa menunjuk ke arah yang dimaksudkan.
__ADS_1
"Oh, gitu ya."
"Ya, Kak. Yuk, kita ke sana. Tidak jauh kok, di sana tempatnya sangat bagus. Pokoknya bikin Kakak betah deh, yuk ah." Ajak Didit, sang kakak hanya nurut dan mengikuti langkah kaki adiknya.
Keduanya berjalan beriringan bak seperti sepasang suami-istri saja bagi yang tidak mengetahui hubungan diantara keduanya.
Saat itu juga, sampailah di tempat yang dijanjikan oleh Didit. Tempat yang begitu indah pemandangannya, dan juga tempat yang begitu bersih.
Anin langsung memejamkan kedua matanya, dan menghembuskan napasnya secara teratur. Kemudian, perlahan Anin merentangkan kedua tangannya.
Setelah itu, Anin kembali membuka matanya perlahan-lahan. Dilihatnya lautan biru yang begitu luasnya, hingga pandangannya tertuju pada pemandangan yang begitu menakjubkan.
Dirasa sudah cukup menikmati hembusan angin, Anin menurunkan kedua tangannya dan mengamati di sekelilingnya.
"Bagaimana? Kak Anin menyukai tempat ini kah?" tanya Didit yang sudah berdiri didekat sang kakak.
Anin menoleh pada adiknya.
"Kakak sangat suka dengan tempat ini. Kalau boleh tahu, kamu dapat peta dari mana? jangan bilang kalau kamu sudah datang ke sini dengan pacarmu." Jawab sang kakak dan balik bertanya, serta menebaknya.
"Pacar lagi, pacar lagi. Semua membahas tentang pacar. Sudah aku tegaskan, aku itu tidak mempunyai pacar. Aku tuh pernah ke sini bareng temanku, bareng teman-teman kuliah." Ucap Didit sejujur mungkin.
"Siapa tahu aja, kamu memang beneran sudah punya pacar. Kakak sendiri kan, tidak tahu. Mungkin aja kamu malu, atau apalah sama Kakak."
"Tidak ada yang aku tutup tutupi sama Kak Anin, aku serius. Nanti setelah Kakak menikah, baru aku berani untuk mendekati perempuan. Untuk saat ini, biarkan aku untuk membahagiakan Kakak." Ucap Didit sambil menatap kakaknya begitu serius.
"Tidak baik bicara seperti itu, menikah itu tidak harus menunggu yang lebih tua. Jika kamu sudah mampu, segerakan. Jangan sampai kamu menunda keinginan kamu, bisa fatal nantinya. Asalkan kamu bisa menafkahi diri kamu sendiri, tidak ada halangan untukmu menikah." Jawab Anin memberi penjelasan pada adiknya.
"Kakak tenang saja, yang jelas aku akan menepati janjiku ini. Kita hanya seorang kakak-beradik, dan aku tidak ingin membiarkan Kak Anin sendirian." Ucap Didit yang tetap dengan pendiriannya.
Anin tersenyum mendengarnya, sangat beruntung memiliki seorang adik seperti Didit pikirnya.
__ADS_1