
Di kediaman keluarga Vitton, istri dari Tuan Vitton sendiri tengah bersiap-siap untuk melakukan pertemuannya dengan kedua anaknya.
Sedangkan Tuan Vitton sendiri tengah sibuk di ruang kerjanya. Selesai membereskan kerjaannya, segera kembali ke kamar.
"Kamu mau kemana? pagi-pagi sudah dandan rapi."
Sang istri sangat terkejut saat suaminya mengagetkannya.
"Papa, ngagetin aja. Ini, Mama ada pertemuan untuk kumpul bareng sama rekan bisnis. Papa gak ngantor? kok belum siap-siap."
"Nggak, biar Tian yang akan pergi ke kantor. Papa juga ada pertemuan sama rekan bisnis dari Singapura, dan pertemuannya nanti sekitar jam sepuluh."
'Sia_lan, ternyata suamiku udah tahu kemana perginya aku. Baiklah, aku akan melakukan sesuai rencana yang sudah aku buat saat suamiku mulai mengawasi aku.' Batinnya sambil berpikir untuk mencari cara, agar bisa terlepas dari suaminya yang selalu mengawasinya.
'Pergilah, selagi nyawamu masih aman padaku.' Batin Tuan Vitton.
"Kenapa kamu melamun, sudah jam tujuh ini loh." Ucap Tuan Vitton kembali mengagetkan istrinya.
"Ah ya, aku sampai lupa. Tidak apa-apa kan, jika aku pergi untuk melakukan pertemuan? kalau Papa curiga sama Mama, Papa boleh ikut." Jawabnya yang tak. lupa untuk mengajak suaminya.
"Nggak perlu, Papa mau di rumah saja. Kalau tidak keberatan, kamu bisa ajak Lara untuk ikut." Ucapnya menolak, justru meminta istrinya untuk mengajak Lara, putrinya.
"Kalau Lara tidak bakalan mau ikut, dia punya kesibukan sendiri hari ini." Kata sang istri, Tuan Vitton mengangguk menandakan mengiyakan.
"Ya sudah kalau mau pergi, pergi saja." Ucap Tuan Vitton mempersilakan istrinya untuk berangkat.
"Baiklah, aku berangkat dulu." Jawab sang istri dan segera keluar dari kamar.
Tuan Vitton menyeringai saat istrinya keluar dari kamar.
Sambil berjalan, istrinya Tuan Vitton sedikit panik jika suaminya akan mengikutinya lewat orang suruhannya.
"Mama rapi banget, mau kemana?" tanya Tian saat mendapati ibunya yang terlihat sudah rapi.
"Mama ada perlu, ada pertemuan dengan rekan bisnis Mama." Jawabnya beralasan.
"Rekan bisnis, kirain ada acara penting apa."
"Ya, hanya rekan bisnis. Ya udah kalau gitu, Mama berangkat duluan." Ucap ibunya, Tian hanya mengangguk.
__ADS_1
Sedangkan Tuan Vitton tengah menghubungi seseorang yang selalu dijadikan orang suruhan serta orang kepercayaannya.
"Lakukan sesuai perintahku. Ingat, jangan sampai salah sasaran." Ucap Tuan Vitton memberi perintah kepada anak buahnya yang dijadikan orang kepercayaan sejak lama.
Setelah itu, Tuan Vitton memutuskan panggilan teleponnya.
Sedangkan di lain tempat, Didit yang sudah bersiap-siap sesuai perintah dari Tuan Mawan, dirinya hanya bisa nurut dengan saran yang diberikannya.
"Tuan, apakah sudah siap untuk berangkat?" tanya seseorang yang sudah ditugaskan oleh ayah mertua kakaknya.
"Sudah, tapi ..."
Didit tiba-tiba menggantungkan kalimatnya saat menjawab pertanyaan dari anak buah Tuan Mawan.
"Tapi kenapa, Tuan?"
"Tidak apa-apa, aku merasa ada kekhawatiran saja. Ya sudah kalau mau berangkat, ayo." Jawab Didit yang langsung menepis pikiran buruknya.
Sedangkan Anin dan Elang tengah menikmati kebersamaannya di pagi hari. Setelah sarapan pagi, keduanya tampak duduk santai di balkon sambil menikmati udara segar.
Pemandangan yang tidak jauh dari penglihatannya, Anin dapat melihat banyaknya mobil yang lalu lalang dari kejauhan. Sedangkan di sekitar kediaman keluarga Alexander, masih banyak pepohonan yang rindang.
"Sayang, bagaimana perasaan kamu hari ini?" tanya Elang sambil memeluk istrinya dari belakang.
Anin menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku pikiranku tidak tenang. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Didit maupun ibuku." Jawab Anin yang berusaha untuk tenang, meski sebenarnya sangat gelisah.
Entah karena kebetulan, atau karena perasaan gugup yang mana dirinya akan bertemu dengan ibu kandungnya sendiri.
"Kamu pasti banyak pikiran, sampai-sampai kamu gelisah begini. Percayalah padaku, tidak akan terjadi apa-apa kepada mereka. Kita doakan yang terbaik untuk mereka berdua, ibumu dan Didit." Ucap Elang meyakinkan istrinya, agar tidak bertambah cemas memikirkan ibunya dan adiknya.
Anin memutar balikkan badannya, dan menatap wajah suaminya.
"Aku akan berusaha untuk optimis, semoga tidak terjadi hal buruk apapun pada Ibu dan Didit." Kata Anin yang juga berusaha untuk tetap tenang, dan menepis pikiran buruknya.
Berbeda lagi di perjalanan, istrinya Tuan Vitton tengah mengemudikan mobilnya sendiri. Karena tak ingin jejaknya di ketahui oleh supirnya.
Masih teringat dengan masa lalu, yakni dengan mendiang suaminya dulu. Siapa lagi kalau bukan ayah dari kedua anak yang bernama Anin dan Didit.
__ADS_1
"Andai saja kamu masih hidup, aku tidak akan merasakan pahitnya kehidupan yang aku jalani ini. Tapi, takdir berkata lain. Semoga saja, aku bisa berkumpul dengan kedua anakku. Setidaknya aku bisa memeluk mereka berdua, dan menyembuhkan luka yang aku rasakan ini." Gumamnya sambil menyetir mobilnya.
Seketika, tiba-tiba merasakan sesuatu pada ban mobilnya.
"Ada apa dengan mobilku? kenapa ini? apa! remnya blong. Tidak, tidak mungkin. Aku pasti salah menginjak remnya." Ucapnya dengan panik dan sambil memeriksanya.
Tak lupa juga, istrinya Tuan Vitton melambaikan tangannya untuk dimintai pertolongan.
Didit yang pada saat itu kebetulan melihat mobil yang ada didepannya dengan keadaan yang tidak baik-baik saja, dan juga melihat lambaian tangan. Segera meminta supir ayah mertua kakaknya untuk mengejarnya.
Sedangkan istrinya Tuan Vitton sendiri sudah tidak bisa berbuat apa-apa, loncat saja tidak mungkin untuk dilakukannya.
Akhirnya.
"Tidak ...!" teriaknya cukup kencang.
Naas, mobil yang dikendarainya menabrak mobil depan dan seterusnya hingga terjadilah kecelakaan beruntun.
Semua berteriak histeris masing-masing yang berada dalam mobil saat mendapatkan musibah.
Didit yang pada saat itu hanya fokus dengan mobil yang di depannya, segera menepikan mobilnya untuk menghindari antrian.
Semua yang ada di lokasi kejadian, segera turun dari mobilnya masing-masing untuk melihat kejadian kecelakaan. Begitu juga dengan Didit, dirinya juga ingin sekali melihat kejadian, ia segera turun untuk melihat para korban kecelakaan.
"Tuan, waktu kita tidak banyak. Ayo kita kembali ke mobil, Tuan Mawan pasti sudah menunggu." Ucapnya yang sudah mendapatkan amanah dari Bosnya untuk tidak mengulur waktu saat menjemput Didit.
"Sebentar saja, aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan korban. Cepat, kamu hubungi ambulan untuk memberitahu bahwa ada kecelakaan di jalur AB.
"Baik, Tuan."
Karena rasa penasaran ingin melihat para korban, Didit segera turun dari mobil.
Saat itu juga, tiba-tiba Didit penasaran dengan korban yang melambaikan tangannya yang terlihat meminta tolong. Tapi naas, belum sempat ada yang menolong, mobilnya melaju sangat kencang karena dalam posisi jalanan yang menurun.
Cepat-cepat untuk melihatnya.
Seketika, Didit sangat terkejut melihatnya.
Didit menyebut namanya cukup keras.
__ADS_1