
Elang masih dengan posisinya, duduk di kursi roda disebelah sang istri. Kemudian, ia meraih tangan istrinya, dan sedikit menarik tangannya. Lalu, diletakkannya pada dada bidangnya.
Anin masih mematung, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Nurut dengan sang suami lakukan, karena tidak ingin membuat emosinya kembali memuncak.
Keduanya sama-sama menatap lurus ke depan cermin, Anin maupun Elang dapat melihat ekspresi satu sama lain.
Gugup, cemas, bingung, yang tengah dirasakan Anin. Sambil menggigit bibir bawah, sebisa mungkin untuk tetap kelihatan tenang.
"Sesakit inikah aku mencintaimu, Anin. Bertahun-tahun lamanya, aku sudah mencoba untuk melupakan kamu, tetap saja aku tak bisa. Bayanganmu selalu hadir dalam ingatanku, aku tidak bisa memungkirinya, jika diri ini tetap dengan perasaanku yang ingin melabuhkan ke hatimu." Ucap Elang yang akhirnya berterus terang akan perasaannya.
Tak peduli jika harus mendapat penolakan dari istrinya, yang terpenting dirinya sudah memberanikan diri untuk berkata jujur akan perasaannya pada sang istri.
Di tolak, itu sudah menjadi resiko baginya.
__ADS_1
Anin masih terdiam, tak tahu harus menjawabnya apa. Ingin menolak, itupun tak mungkin dengan kondisi suaminya. Menerimanya, masih terasa berat dengan cintanya yang lebih besar pada mendiang kekasihnya.
"Kamu tidak perlu untuk memaksa diri kamu untuk mencintaiku, Lang. Sudahkah kamu mencintai perempuan lain? sampai kamu hanya fokus padaku."
"Aku tidak bisa untuk mencintai perempuan lain. Karena dari dulu sejak aku mengenalmu, aku sudah jatuh hati denganmu. Ya, aku tahu, dulu masih cinta monyet. Tapi, aku tak bisa untuk membohongi perasaanku ini. Bahwa aku mencintaimu, Nin." Jawab Elang yang seperti orang bo_doh karena cinta.
"Kamu terlalu cepat mengungkapkan perasaan, aku masih butuh waktu." Kata Anin yang tidak ingin memberi jawaban yang dapat membuat suaminya menjadi emosi.
"Terlalu cepat, kamu bilang? aku menahan perasaanku ini sudah bertahun-tahun, Nin. Aku selalu menyimpan rasa cemburuku pada Andika yang kamu cintai, sedangkan aku hanya menahan rasa sakit itu."
"Apa kamu masih ingat, siapa yang selalu mengirimkan bunga setiap malam minggunya?" tanya Elang mencoba mengingatkan.
Anin segera mengingatnya lagi, yakni dimasa lalunya dulu.
__ADS_1
"Kamu pikir, itu Andika? bukan. Andika tidak pernah mengirimkan bunga padamu, tapi itu aku. Yang selalu memberi ucapan manis itu, adalah karya tanganku sendiri." Ucap Elang yang akhirnya berkata jujur.
Tubuh Anin tiba-tiba mendadak lemas, benar-benar diluar prasangka dirinya. Anin hanya tahu, jika yang selalu mengirimkan bunga di malam minggu, adalah Andika.
"Terserah kamu, mau percaya atau tidak. Tapi aku hafal kata-kata yang aku kirimkan padamu." Sambungnya lagi, Anin mundur beberapa langkah dan berakhir duduk di tepi ranjang tempat tidur.
Elang memutar kursi rodanya dan mendekati istrinya yang tengah duduk termenung.
Kemudian, Elang mencoba meraih tangan istrinya.
"Nin, maukah kamu hidup bersamaku dengan cinta yang aku punya?" tanya Elang yang tidak ingin berlama-lama untuk memendam perasaannya.
Anin masih diam, tak tahu harus memberi jawaban apa.
__ADS_1
"Sudahlah, tak perlu kamu menjawab pertanyaan dariku. Tidak penting juga, lebih baik kamu istirahat saja." Ucap Elang yang akhirnya mengalihkannya ke topik lain.
"Maaf, aku belum bisa memberi jawaban untukmu." Jawab Anin, kemudian segera ke kamar mandi untuk cuci muka agar lebih segeran.