Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Dilema


__ADS_3

Sampainya di rumah, Anin celingukan mencari keberadaan sang adik.


"Kamu sedang mencari siapa, Nak?" tanya ibu mertua saat melihat menantunya seperti tengah mencari keberadaan seseorang.


"Anin tidak mencari siapa-siapa kok, Ma." Jawab Anin beralasan.


"Oh, Didit ya? kamu tidak perlu khawatir, Didit baik-baik saja. Yang jelas, adikmu tidak tinggal di rumah ini, melainkan di rumah lain, yakni tinggal bersama sekretarisnya Papa." Ucap ibu mertua yang akhirnya dapat menangkap apa yang tengah menantunya pikirkan.


"Maafkan Anin ya, Ma, sudah merepotkan Mama dan Papa." Jawab Anin merasa malu, lantaran dirinya selalu merepotkan, pikirnya.


Sedangkan Elang hanya menjadi pendengar setia ibunya dan sang istri.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu dan adikmu sudah menjadi bagian keluarga kami. Jadi, kamu tidak perlu sungkan dan canggung, kita sudah menjadi keluarga. Mulai sekarang ini, kamu tidak perlu khawatir dengan pekerjaan adikmu. Karena mulai besok, Didit sudah bisa masuk kerja di kantor." Timpal ayah mertua ikut angkat bicara.


Anin yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dirinya masih terdiam dan mencoba menggabungkan kalimat demi kalimat agar tidak salah saat berucap dengan ayah maupun ibu mertuanya.


"Sudah sore, waktunya kalian berdua kembali masuk ke kamar dan beristirahat. Untuk makan malam, kalian tidak perlu turun, nanti Bi Narsih yang akan mengantarkan makan malamnya pada kalian." Ucap Ibunya Elang.


"Ya, Ma." Jawab keduanya bersamaan.


"Ya sudah, masuklah ke kamar." Perintah ibunya Elang.


Anin mendorong kursi roda menuju jalan pintas masuk ke kamar.


Tuan Mawan dan istrinya dapat tersenyum lega, lantaran putranya menikah dengan perempuan yang sangat dicintainya secara diam-diam oleh Elang.


"Andai saja putra kita dari dulu mengungkapkan perasaannya, mungkin mereka berdua tidak akan menjalin hubungan pernikahan seperti ini." Ucap Ibunya, Tuan Elang tersenyum mendengarnya sambil memperhatikan bayangan anak dan menantunya tak terlihat lagi.


"Justru dengan cara seperti ini, mereka berdua akan mendapatkan ujian yang begitu indah. Yang pastinya, mereka akan melewati seperti halnya tidak saling mengenal dan akan saling mengenal kembali satu sama lain. Kita cukup memantau hubungan mereka berdua, dan tak perlu untuk ikut campur. Sekalipun mereka ada masalah, kita cukup memberi nasehat, jika mereka datang pada kita. Percayalah, putra kita mampu untuk menjalaninya, begitu juga dengan Anin."


Jawab Tuan Mawan yang percaya akan kesungguhan hubungan pernikahan putranya dengan perempuan yang bernama Anin.


"Semoga saja, kita hanya bisa mendoakan dan berharap semuanya akan baik-baik saja."


"Ya sudah, ayo kita kembali ke kamar dan beristirahat." Ajak Tuan Mawan, sang istri mengiyakan dan keduanya masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Sedangkan Anin dan Elang baru saja masuk ke kamar. Malu, bingung, gelisah, takut, cemas, itulah yang tengah dirasakan oleh Anin dengan keringat dingin pada kedua telapak tangannya.


Begitu juga dengan Elang, dirinya ikut merasa bingung. Ditambah lagi harus mandi, tentu saja membuat keduanya dilema dengan pikirannya masing-masing.


"Kamu kalau ingin mandi, mandi aja dulu. Untuk pakaianmu, ada di lemari sebelah itu." Ucap Elang sambil menunjuk pada lemari pakaian yang ditunjuk oleh jari telunjuknya.


"Aku masih gerah, mendingan kamu aja dulu yang mandi." Jawab Anin dan melempar balik ucapan suaminya.


"Kalau sampai aku yang mandi duluan, terlalu lama kamu menungguku sampainya selesai mandi."


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa kok, jika harus mandi malam."


Anin langsung teringat jika suaminya tidak bisa melakukan apapun, dikarenakan dengan kondisi kakinya yang cidera karena kecelakaan dua tahun yang lalu.


'Apa ya, aku yang membantunya untuk mandi? tidak, mana aku bisa. Tapi, dia sudah menjadi suamiku. Mana mungkin juga Mama akan menyuruh orang untuk membantunya mandi, tentu saja aku.' Batin Anin yang merasa dilema sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kamu kenapa masih diam aja disitu? buruan mandi, ini sudah malam. Takutnya, kamu kurang istirahat."


"Tit-tidak, aku cuma bingung aja." Jawab Anin yang tiba-tiba gelagapan.


"Bingung kenapa?" tanya Elang sambil meninggikan satu alisnya.


Sedangkan Elang hanya menggelengkan kepalanya.


'Das*ar! dari dulu tidak pernah berubah.' Batinnya dengan senyum tipisnya.


Saat sudah berada di kamar mandi, Anin sejenak memikirkannya lagi.


"Kalau aku yang mandi duluan, basah lagi dong, kalau aku membantunya untuk mandi." Gumamnya, dan langsung keluar dari kamar mandi.


"Kenapa keluar? kamu nggak jadi mandi?"


"Buk-bukan, itu."


"Itu apaan?" tanya Elang yang merasa aneh dengan tingkah istrinya.

__ADS_1


"Kamu duluan aja deh yang mandi. Soalnya jika aku yang mandi duluan, tentu saja bajuku akan basah." Jawab Anin sambil menggigit bibir bawahnya.


"Baju kamu basah, kenapa?"


"Ya bantu kamu mandi, memangnya siapa lagi kalau bukan aku." Jawab Anin sambil menunjuk diri sendiri dengan jari telunjuknya, Elang justru tertawa.


"Kok tertawa, ada yang lucu ya?"


"Memangnya kamu sudah siap mau bantuin aku mandi?"


Anin melotot dan membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena benar-benar merasa malu.


"Sudah sana, mandi duluan aja kamu. Nanti biar pak Ratno yang akan bantu aku mandi, aku tidak akan memaksamu." Ucap Elang, Anin menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Bingung, malu, itu sudah pasti. Katanya seorang istri, tapi tidak berbakti, pikir Anin yang dilema. Lagi-lagi Anin teringat pada ibu dan ayah mertuanya akan tahu jika dirinya tak mau membantu suaminya untuk membersihkan diri.


"Kok malah bengong, sana mandi. Badan kamu bau tuh, cepetan mandi. Tidak usah takut dan bingung, cepetan sana mandi."


Anin masih bengong, dirinya terus memikirkan jika dirinya akan mendapat marah dari mertuanya.


'Kalau sampai mama dan papa tahu, bagaimana? istri macam apa aku ini. Ah, kenapa juga harus pakai drama begini sih.' Batinnya bingung.


"Kalau kamu masih tidak mau mandi juga, lebih baik kamu panggilkan pak Ratno dibawah."


"Tidak perlu, baiklah aku yang akan membantumu untuk mandi." Jawab Anin dengan berani, entah dari mana keberaniannya itu datang.


Elang mengernyit.


"Sudahlah sana kamu mandi, nanti aku bisa minta tolong sama pak Ratno. Jangan sampai aku marah padamu, cepat sana mandi."


"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan kok."


"Bandel, kamu ya."


"Ya deh, ya, aku mandi duluan." Jawab Anin yang langsung masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


'Bod*ohnya aku, mau ditaruh dimana muka aku ini. Kenapa begitu pedenya mau mandiin dia, nanti disangkanya aku ini mesum, lagi.' Batin Anin ngomongin dirinya sendiri.


Karena tidak ingin berlama-lama didalam kamar mandi, Anin secepatnya membersihkan diri dan segera keluar.


__ADS_2