
Kemudian, Anin memberanikan diri untuk mendekati Lara yang tengah duduk sendirian. Sedangkan Elang berdiri tidak jauh dari jarak istrinya, takutnya ada sesuatu yang dikhawatirkan terjadi.
"Hai, Lara. Boleh aku ikutan duduk disebelah kamu? jika, tidak, aku tidak akan memaksa." Ucap Anin menyapa.
Awalnya Lara masih tidak merespon. Tapi, tiba-tiba dirinya mendongakkan pandangannya pada Anin.
"Duduklah." Kata Lara mempersilakan untuk duduk, Anin tersenyum mendengarnya.
Sebenarnya jiwanya rapuh, dan juga hatinya begitu sakit saat mengetahui kejamnya dari ayah Lara. Tapi, Anin tidak mempermasalahkannya pada Lara. Karena Anin sendiri tau, jika Lara tidak tahu apa-apa akan kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya.
Ketika mendapatkan izin dari Lara, Anin ikut duduk di sebelahnya. Elang yang melihat istri baik-baik saja, tetap dilakukan kewaspadaan terhadap perempuan yang ada di sebelah istrinya.
Kemudian, Anin memberanikan diri untuk bertanya. Tak peduli baginya jika Lara akan menjadi marah terhadap dirinya.
"Kenapa kamu tidak masuk kedalam? kamu kan, putrinya."
Lara langsung menoleh pada Anin, dan memandanginya dengan lekat.
"Kenapa kamu bertanya kepadaku? seharusnya aku yang bertanya padamu." Jawab Lara tanpa menunjukkan emosinya, Elang yang melihatnya masih bisa tenang.
Lagi-lagi Anin tersenyum pada Lara, yang disenyumin justru bingung dibuatnya.
"Kenapa kamu tersenyum? ada yang salahkah dengan pertanyaan dariku."
Anin menggelengkan kepalanya.
"Memangnya pertanyaan apa yang ingin kau berikan padaku, Lara?"
"Aku sudah mendengar semuanya, yakni obrolan ayah mertua kamu dengan ayahku. Jadi, aku tidak perlu untuk mengulang kembali kalimat yang mereka obrolkan. Jadi, kenapa kamu tidak segera masuk? kau kan, putrinya." Kata Lara dengan perasaannya yang berkecamuk, cemburu akan kebenaran.
Anin meraih tangan Lara, Kemudian menggenggamnya.
"Kalau gitu, kita masuk bareng, bagaimana?"
Ajak Anin, sedangkan Lara menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau." Jawabnya sambil menunduk.
"Kenapa?" tanya Anin.
__ADS_1
"Karena aku bukan putrinya, aku sendiri sudah mendengarnya langsung saat ayah tengah emosi dan berbicara sendiri di dalam ruang kerjanya pada saat itu. Jadi, lebih baik kamu yang masuk saja. Biarkan aku di luar. Aku tahu, kamu mempunyai momen yang sangat baik untuk hari ini. Maka, cepatlah masuk." Jawab Lara, tak disangka ia langsung menangis sesenggukan.
Anin yang mendengarnya, pun seperti tidak percaya akan jawaban dari Lara.
Perempuan yang yang terlihat keras kepala dan juga sombong, rupanya mempunyai hati yang rapuh, pikir Anin.
Anin segera memeluknya, Lara menolak dan menggeser posisi duduknya.
"Jangan lakukan itu, aku tidak butuh." Ucap Lara dengan nada menolak.
"Kalian? dimana yang lain?" tanya ibunya Elang saat keluar dari ruang rawat istrinya Tuan Vitton.
Anin dan Lara langsung bangkit dari posisi duduknya. Elang sendiri segera mendekat saat melihat ibunya baru saja keluar dari ruangan pasien.
"Mama, bagaimana keadaannya Ibu Rahel?" tanya Anin penuh khawatir.
"Keadaannya sangat kritis, kenapa di antara kalian tidak ada yang masuk? dari tadi, Mama menunggu kalian. Terus, dimana Papa dan Didit? kenapa tidak terlihat? ha."
"Maafkan saya, Tante. Ini semua karena saya, kalau gitu saya permisi." Jawab Lara yang langsung menyambar.
"Maaf, Ma, Papa baru saja datang. Tadi Papa sedang membantu Didit untuk mengobati lukanya, karena ulah dari Tuan Vitton." Sahut Tuan Mawan tak peduli jika di dekatnya ada Lara yang sedang berdiri disebelah menantunya.
Ibunya Elang langsung tertuju pada Didit. Benar saja, kedua sudut bibirnya terdapat luka yang cukup terlihat lebam.
Anin maupun Didit, pun sangat kaget. Lantaran, golongan darah yang sama dengannya. Entah karena kebetulan atau memang benar jika dirinya adalah anak kandungnya, keduanya sama terkejutnya.
"Anin, Ma. Darah Anin sama, yaitu AB." Kata Anin ikut menimpali.
"Didit juga, sama seperti Kak Anin." Ucap Didit ikut menyahut.
"Elang juga, Ma. Bukankah golongan darah Elang sama seperti Papa, AB." Sahut Elang ikut menimpali.
"Ya, makanya dari tadi Mama itu menunggu kalian, tapi tidak ada satupun yang masuk kedalam." Kata ibunya.
"Karena tadi ada masalah, Ma."Jawab Elang.
"Ya udah, buruan temui Dokter." Perintah ibunya.
Sedangkan Lara, hanya bisa diam. Karena ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ibunya membutuhkan donor darah.
__ADS_1
'Benar, mereka berdua adalah anaknya. Lalu, aku anaknya siapa?' batin Lara dengan perasaan sedihnya.
"Baiklah, kita akan lakukan pengecekkan terlebih dahulu. Setelah mendapatkan izin, serta hasilnya positif dan diperbolehkan untuk donor darah, ayo kita temui dokter untuk lakukan donor darah." Ucap Tuan .
Anin dan Didit mengangguk, dan segera menemui dokter.
Kini, tinggallah Ibunya Elang dan Lara.
"Tante, bolehkah saya masuk kedalam?"
"Tentu saja, kamu kan, putrinya. Ayo, masuklah." Jawab ibunya Elang, dan mengajaknya untuk masuk.
"Bukan, saya bukan putrinya. Tetapi, Anin lah putrinya." Kata Lara dengan rasa cemburunya.
Meski sedikit ada keraguan atas sikap yang ditunjukkan oleh Lara, ada rasa kasihan terhadapnya. Tapi, tetap saja dilakukan kewaspadaan. Karena apa? karena kejahatan mempunyai segudang cara untuk dilakukan, termasuk melukai lawannya.
"Kamu dirawat dan dibesarkan, serta merta diberikan kasih sayang yang tulus. Kamu tahu? perasaan seorang ibu tidak akan tega untuk mengusir dan mencampakkan, meski tahu kebenarannya sekalipun. Jadi, ayo masuk kedalam dan temui ibumu." Ucap ibunya Elang menjelaskan, serta meyakinkannya.
Lara yang mendapatkan ajakan dari ibunya Elang, sejenak ia diam. Terasa kotor dirinya jika harus bertemu ibunya, yang ternyata bukanlah ibu kandungnya.
"Kenapa masih diam? ayo kita masuk."
"Ya, Tante." Jawab Lara disertai anggukan.
Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, ibunya Elang dan Lara segera masuk.
Dengan langkah kakinya yang pelan, Lara mendekati ibunya, yang ternyata bukanlah ibu kandungnya.
Sebenarnya Lara sudah mengetahuinya cukup lama, tapi dirinya tidak begitu memikirkan dengan kebenaran yang ia dengar lewat ucapan ayahnya yang tengah emosi dan berbicara dengan asal-asalan tanpa berpikir akan ada yang mendengarkannya.
Sedangkan Anin dan Didit, juga Elang bersama ayahnya, kini tengah bersiap-siap untuk di cek kesehatannya serta golongan darah sebelum melakukan donor darah.
Tiba-tiba Elang teringat sesuatu.
"Sayang," panggil Elang pada istrinya.
"Ya, ada apa?"
"Kamu serius, jika kamu beneran mau donor darah?" tanya Elang Elang yang tiba-tiba menanyakan hal yang menurut istrinya sangat aneh, begitu juga dengan ayahnya sendiri yang merasa aneh dengan pertanyaan putranya itu.
__ADS_1
"Ya, sayang. Bukankah tadi sudah jelas, jika golongan darahku itu, AB. Terus, kenapa kamu tanya seperti itu, memangnya kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, sayang. Aku hanya mengingatkan kamu, kita kan sedang program kehamilan kamu. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, bagaimana? aku takut akan hal itu terhadap kamu." Kata Elang yang khawatir akan kesehatan istrinya.