
Paginya, Elang dan Anin bangun pagi-pagi. Keduanya bergegas untuk membersihkan diri dan segera pulang ke rumah, dikarenakan Elang harus masuk ke kantor.
Selesai membersihkan diri, Elang dan istri mulai bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang, meski dengan keadaan badan terasa sakit. Tapi mau bagaimana lagi, Elang sudah mengatakan sendiri jika dirinya sudah siap untuk masuk ke kantor.
Tidak mungkin jika harus meminta izin, dengan alasan yang sebenarnya. Tentu saja, Elang tetap memperlihatkan sikapnya yang biasa-biasa nantinya, meski badannya terasa tidak karuan sekalipun.
Selama perjalanan, Anin dan Elang mulai akrab kembali seperti dulu. Keduanya tidak ada lagi rasa canggung, sama-sama terbuka ketika mendapatkan pertanyaan satu sama lain.
Sampainya di depan rumah, Elang dan Anin segera turun dari mobil. Kemudian, keduanya masuk ke rumah dan menuju ruang makan.
"Pagi, Pa." Sapa Anin dan Elang bersamsaan.
"Pagi juga, Nak. Ayo, kita sarapan pagi dulu.
"Loh, kalian berdua kok sudah pulang?" tanya ibunya yang baru saja keluar dari kamar menuju ruang makan.
"Ya, Ma. Hari ini kan, Elang mau masuk kerja. Jadi, Elang sempatkan langsung pulang." Jawab Elang sambil menarik kursi untuk istrinya.
Kemudian, Elang sendiri segera duduk bersebelahan dengan istrinya.
"Libur dulu juga tidak apa-apa, lagi pula ini hari cuma penerimaan karyawan saja. Kamu bisa berangkat besok, toh gak ada kerjaan yang padat di kantor." Timpal sang ayah ikut bicara.
"Tidak apa-apa kok, Pa. Hitung hitung Elang memperkenalkan diri dengan karyawan baru." Kata Elang disela-sela sambil menerima sarapan pagi yang diambilkan oleh istrinya.
"Ya udah, terserah kamu aja bagaimana baiknya." Ucap sang ayah.
"Ya, Pa. Oh ya, kata Mama, mau mempertemukan Anin dengan orang tuanya, kapan?" jawab Elang dan bertanya.
"Sabar ya, Mama harus atur waktu dulu. Takutnya, Mama dan Papa ada niat terselubung." Jawab ibunya, Elang mengangguk.
"Ya, Nak. Untuk mempertemukan istrimu dengan ibunya itu tidak mudah, lebih lagi sudah mempunyai keluarga baru, pastinya harus hati-hati. Kita mana tahu, jika ada yang tidak menerima kehadiran istri kamu." Kata sang ayah ikut menimpali.
__ADS_1
"Jadi, Nak Anin harus bersabar. Tenang aja, ibumu orang baik." Ucap ibunya Elang untuk meyakinkan, Anin mengangguk.
"Ya, Ma. Anin tidak begitu berharap, karena takutnya bertepuk sebelah tangan. Jika orang tua Anin masih mau menerima, alangkah bahagianya. Tapi, jika orang tua Anin tidak mau menerima, juga tidak akan menjadi kebencian."
Jawab Anin sebaik mungkin, meski perasaannya akan ada rasa sakit, jika ibunya tidak mau menerima kehadirannya, Anin mencoba untuk berlapang dada.
"Ya udah, kita sarapan dulu." Ajak ibunya Elang.
Tidak begitu lama untuk sarapan pagi, semua kembali ke kamarnya masing-masing untuk bersiap-siap berangkat bekerja. Tetapi tidak untuk Anin sendiri, dirinya akan tinggal di rumah, sedangkan ibu mertuanya sibuk dengan pekerjaannya juga.
"Kalau boleh tahu, kamu pulang jam berapa?"
"Kenapa, sayang? siang aku sudah pulang kok. Soalnya kata Papa, di kantor tidak ada kerjaan yang begitu padat, hanya penerimaan karyawan baru. Jadi, aku bisa pulang lebih awal. Tidak apa-apa, 'kan? aku bekerja demi masa depan kita, dan juga anak kita kelak." Jawab Elang sambil memegangi pundak istrinya, dan memeluknya.
Anin segera melepaskan pelukan dari suaminya, dan menatapnya dengan lekat.
"Tidak kenapa-kenapa, cuma tanya aja."
"Nggak perlu, aku percaya kok sama kamu." Kata Anin dibarengi dengan senyumnya yang manis."
"Makasih ya, sayang. Kalau gitu, aku berangkat ke kantor. Jika kamu merasa jenuh, kamu bisa minta temani Bi Narsih."
"Ya, hati-hati diperjalanan." Ucap Anin, dan mencium punggung tangan milik suaminya. Dilanjutkan lagi, Elang mencium kening milik istrinya.
Setelah berpamitan untuk berangkat ke kantor, Anin mengantarkan suaminya sampai di depan rumah. Ketika bayangan mobil tak tampak lagi, Anin masuk ke rumah.
Kemudian disusul oleh ayah dan ibu mertuanya berangkat bekerja di tempat kerjanya masing-masing.
"Anin, Mama tinggal dulu ya. Kalau kamu jenuh, kamu bisa minta temani asisten yang ada di rumah." Ucap Ibu mertuanya saat hendak berangkat kerja.
"Ya, Ma. Hati-hati di perjalanan." Jawab Anin dengan anggukan.
__ADS_1
Ketika anggota keluarga sudah pergi berangkat kerja, Anin memilih ikut bergabung dengan asisten rumah. Awalnya menolak, karena Anin terus memaksa, akhirnya diperbolehkan.
"Non, kalau Tuan Elang tahu, Bibi bisa kena marah." Ucap Bi Narsih merasa tidak enak hati, saat istri majikannya ikut beres-beres membantunya.
"Tidak apa-apa kok, Bi. Suami saya sudah tahu bagaimana saya ini, Bibi tidak akan kena marah kok, percaya deh, Bi." Jawab Anin sambil membereskan sesuatu yang tergeletak di atas meja maupun di tempat lainnya untuk dibersihkan.
"Ya sih, Non. Tapi kan, Bibi gak enak aja. Nanti dikiranya tuh, Bibi yang ngajak." Kata Bi Narsih.
"Gak deh, Bi. Percaya aja sama saya."
"Ya deh Non. Kalau Nona kecapean, bilang aja sama Bibi."
"Ya, Bi." Jawab Anin dan tersenyum ramah.
Sedangkan di perjalanan, tidak lama kemudian, Elang telah sampai di kantor. Semua karyawan dibuatnya kaget, jika kantor kerjanya akan kedatangan Bos baru.
"Mbak, kok keknya sibuk gitu, memangnya ada acara apa ya?" tanya Dinda penasaran.
"Ini loh Mbak, bentar lagi Bos baru kita mau datang. Jadi, kita mempersiapkan kehadirannya di kantor ini. Secara, kantor ini milik ayah Bos baru." Jawab salah satu karyawan yang tengah disibukkan dengan tugasnya untuk menyambut kedatangan Bos baru.
Saat itu juga, langsung meninggalkan Dinda yang tengah bersama kedua temannya.
"Sudah deh Din, gak usah kepo gitu." Kata Ayun.
"Bukannya kepo, tapi over kepo. Aku juga penasaran, siapa Bos di kantor ini. Jadi gak sabar pingin bertemu, pasti ganteng kalo cowok."
"Hem, harapanmu itu terlalu tinggi. Katanya mau ngejar Elang, eee udah mau kepincut dengan calon Bos kita. Aku kasih tahu nih ya, Bos itu nyarinya yang sepadan, tidak mungkin mencari istri yang dibawahnya. Ya setidaknya tuh, dari keluarga yang terpandang. Memangnya dunia novel, yang mana jodohnya itu berbanding terbalik." Timpal Nilam ikut bicara.
"Hem, tidak apa-apa sekali-kali menghayal. Berdoa aja, kita di terima di kantor ini." Jawab Dinda dengan percaya dirinya.
"Sudah ah, ayo kita ke sana. Tempat kita bukan disini, tapi di sana. Karena ini babak terakhir interview, jadi harus lolos." Ucap Ayun, kedua temannya nurut dan pindah tempat.
__ADS_1