Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Terbongkar


__ADS_3

Andika yang mendengar sang ayah terlihat memohon, hatinya tetap berkata tidak. Kemudian, sang ayah dipindahkan ke ruang rawat pasien.


"Andika, tolong percaya sama Papa." Ucap sang ayah dengan tatapan memohon.


"Aku harus memikirkannya lagi, Pa." Jawab Andika, dan sang ibu tiri masuk ke dalam.


"Pa, bagaimana keadaan Papa? baik-baik saja 'kan?" tanya sang istri yang terlihat begitu cemas. Andika yang dari dulu tidak menyukai keberadaan ibu tiri, selalu mengabaikannya.


"Sudah ada Ibu, aku pulang." Ucap Andika dengan tatapan tidak suka dengan ibu tirinya, dan langsung pergi begitu saja.


Setelah Andika keluar dari ruang rawat ayahnya, ibu tirinya mencoba untuk mengeceknya lagi.


"Aman, Pa." Kata istri dari ayah Andika.


"Bagaimana dengan aktingku? bagus, bukan? aku yakin, putraku bakal menerima permintaanku karena aku sudah member ancaman dan menakut-nakutinya. Bila sampai tidak mau juga, aku akan memberi kebohongan lagi padanya." Ucap ayah Andika.


"Aktingnya Papa benar-benar hebat, sempurna." Kata sang istri.


"Siapa dulu dong, Herman Putra Utama." Ucapnya dengan berbangga diri, tanpa diketahui rahasianya tengah disaksikan langsung oleh putranya sendiri.


PROK PROK PROK!


"Bagus! bagus sekali akting kalian berdua, hah. Lihatlah disudut ruangan ini, lihat itu dengan kedua mata kalian. Benar-benar melakukan, tetap saja, aku tidak akan pernah mempercayai satu katapun lewat mulut kalian berdua. Sekarang juga, aku akan pergi dari kehidupan kalian. Cuih!" Ucap Andika dengan emosinya, tak lupa meludah ke sembarangan arah.


Kemudian, Andika langsung pergi dari hadapan orang tuanya.


Sungguh di luar dugaannya, jika sang ayah begitu tega berakting demi rencananya untuk menjodohkan dirinya dengan perempuan yang sama sekali tidak dicintainya.


"Andika! tunggu!" teriak sang ayah yang langsung mengejar putranya dengan langkah kaki yang cukup gesit.


Andika tidak menghiraukannya, dan terus berjalan dengan langkah kakinya yang super gesit.


Dengan kecepatan tingginya laju kendaraan yang ditaklukkan oleh Andika, tengah memecahkan jalanan sepi di tengah malam.


Rasa kekecewaan saat mendapatkan kebohongan dari sang ayah, Andika semakin membencinya. Sudah cukup baginya untuk menuruti kemauan dari seorang ayah, tapi tidak untuk soal perjodohan. Andika benar-benar menentangnya dan memilih untuk kembali ke kampung halamannya, menikah perempuan yang sudah sekian lama ditunggu.


"Sia*lan!" umpatnya sambil menendang angin.


"Kamu sih Pa, kenapa juga tidak memerintahkan anak buah untuk berjaga-jaga. Kalau sudah begini, kita mau apa? gagal untuk menguasai dari keluarga Alexandra."

__ADS_1


"Sudah! diam! sekarang juga, ayo kita pulang." Bentak dari ayah Andika.


Sedangkan Andika sendiri sudah sampai di kediaman Alexan untuk menjemput kekasihnya.


"Mau apa kamu datang ke rumahku, Andika?"


"Tentu saja, aku mau menjemput calon istriku, Anindita." Jawabnya dengan tatapan sengit.


"Ku pikir mau mencari kakakku, rupanya perempuan miskin itu." Ucapnya mengejek.


"Tutup mulutmu itu, Tian! panggilkan calon istriku, atau aku yang akan masuk mencarinya sendiri." Jawabnya dengan nada yang cukup keras.


Bi yang mendengarnya saja, jantungnya berdegup cukup kencang.


"Sayang sekali, perempuan miskin itu sudah pergi dari rumah ini. Aku sudah mengusirnya, sepertinya menjadi gelandangan." Jawabnya dan tertawa lepas setelah kalimat terakhirnya.


Andika yang tidak percaya, dirinya memilih untuk mencari keberadaan kakak-beradik yang diketahuinya telah menjadi asisten rumah di kediaman Alexsan.


"Anin! dimana kamu, Anin! ini aku Andika. Anin, aku datang untuk menjemputmu." Teriak Andika sambil memeriksa keberadaan kekasihnya.


"Den Andika," panggil Bi Asih sedikit gugup.


"Di rumah Bibi. Ini, ada nomor Pak Tejo, suami Bibi, hubungi dia. Pergilah, kamu pasti sangat mengkhawatirkan Nak Anin." Jawab Bi Asih yang langsung menyelipkan lembaran kecil nomor ponsel milik suaminya.


"Terima kasih banyak, Bi." Kata Andika dengan lirih dan langsung pergi meninggalkan rumah milik orang tua Lara.


Setelan menerima lembaran kertas kecil dari Bi Asih, Andika langsung menghubungi. Dan benar saja, dirinya langsung mendapatkan alamat rumah dari Pak Tejo.


Tidak mungkin jika harus mengendarai mobilnya, Andika mencoba untuk menghubungi teman, sekaligus orang yang sudah menjadi kepercayaannya.


Sambil menunggu kedatangan seorang teman, Andika menyelidik disekitarnya.


["Masuklah kedalam mobilku, dan ingat dengan apa yang aku perintahkan padamu."] Ucap Andika lewat ponselnya.


Setelah memberi perintah, Andika bertukar posisi. Tak lupa, dirinya keluar dengan membawa satu paket kiriman. Entah apa motifnya, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Andika.


Saat sudah naik motor, Andika langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan mobil yang dikendarainya, bertukar posisi dengan teman sekaligus orang kepercayaannya selama berada di kota.


Sampainya di depan rumah Pak Tejo, Andika langsung masuk lewat pintu samping rumah Pak Tejo, seperti yang diperintahkan oleh Beliau.

__ADS_1


"Pak, dimana calon istriku?" tanya Andika yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.


"Ada didalam kamar, tadi Bapak memintanya untuk istirahat. Untuk adiknya, Bapak juga menyarankan untuk istirahat. Jika Den Andika ingin bertemu dengan Nak Anin, akan saya panggilkan. Ingat, jangan bikin gaduh di rumah ini." Jawab Pak Tejo yang tak lupa memberi peringatan pada Andika.


"Baik, Pak. Aku akan berhati-hati untuk bicara di rumah Bapak."


"Bagus, kamu bisa tunggu di ruangan sebelah." Perintah Pak Tejo sambil menunjuk ke arah ruangan yang dimaksudkan oleh Beliau.


Andika mengangguk, dan bergegas menuju ruangan tersebut.


Pak Tejo yang tidak ingin masalah semakin larut panjang, Beliau mencoba untuk membangunkan Anin. Berharap, semua akan baik-baik saja.


Dengan hati-hati karena takut mengagetkan, Pak Tejo mengetuk pintu. Anin yang sebenarnya sudah tidur pulas karena tidak ingin kepalanya terasa penat dan bisa jatuh sakit, memilih untuk tidur lebih awal.


"Ya, Pak, sebentar." Sahut Anin saat mendengar pintu kamar telah diketuk dari luar.


Anin segera bangun dan membuka pintunya.


"Pak Tejo, maaf." Kata Anin dengan malu, dan juga merasa tidak enak hati.


"Nak Anin tidak perlu meminta maaf. Justru Bapak lah yang harusnya meminta maaf, karena sudah mengganggu tidurmu." Jawab Pak Tejo.


"Kalau boleh tahu, ada apa ya, Pak? tanya Anin penasaran.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Jawab Pak Tejo.


"Ada yang ingin bertemu dengan saya, Pak?" tanya Anin sambil menunjuk pada diri sendiri dengan jari telunjuknya.


Pak Tejo mengangguk dan tersenyum.


"Ya, dia kekasihmu, Den Andika." Jawab Pak Tejo dengan senyumannya.


Anin sangat terkejut dengannya, benar-benar diluar dugaan dan seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Andika, maksud Bapak?"


Pak Tejo kembali mengangguk.


"Ya, Den Andika. Sekarang orangnya sudah menunggu Nak Anin di ruang sebelah sana, mari Bapak antar." Jawa Pak Tejo, Anin masih seperti tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2