
Tuan Mawan menoleh ke arah Didit, dan beralih menatap menantunya yang juga tengah menatapnya. Kemudian, beliau mengatur pernapasannya yang terasa sesak akibat masalah yang dihadapinya itu cukup sulit untuk dijelaskan.
"Duduklah, Nak. Papa akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi, simpan kebencian kamu terlebih dahulu, Papa tidak ingin kamu bersikap gegabah dalam menilai sesuatunya. Satu hal yang harus diingat, setiap permasalahan pasti ada sebab dan akibatnya." Ucap Tuan Mawan kepada menantunya, yakni Anin.
Kemudian, Tuan Mawan menoleh kepada Didit.
"Dan kamu Didit, duduklah. Agar permasalahan ini segera di selesaikan, tidak untuk mengandalkan emosi atau hal yang dapat mencelakai dirimu dan kakakmu, seera yang lainnya." Ucap Tuan Mawan Pada Didit.
"Baik, Tuan." Jawab Didit dibarengi anggukan, dan segera segera duduk disebelah kiri kakaknya.
Sedangkan Elang, duduk di sebelah kanan istrinya. Takut, jika istrinya dikuasai emosi dan sulit untuk dikendalikan.
Tidak ingin berlama-lama karena harus melihat kondisi istrinya Tuan Vitton, langsung membicarakan pada inti topik yang akan dibahas.
Elang meletakkan tangan kirinya di bagian pundak istrinya.
"Tuan Vitton yang berstatus suaminya ibu kandung kalian berdua, adalah saudara anak angkat dari ayah kandung kalian. Karena perasaan iri dan dengki, Tuan Vitton menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Bahkan, tak segan-segan untuk memisahkan kalian. Sedangkan ibu kalian, terhipnotis dengan rayuan Tuan Vitton." Ucap Tuan Mawan menjelaskan cukup detail, meski belum sepenuhnya detail.
Didit dan Anin yang mendengarnya, pun terasa sakit. Bagaimana tidak merasa sakit hati, keluarganya harus terpecah belah karena keserakahan. Bahkan, harus kehilangan orang tua.
Saat itu juga, Didit langsung bangkit dari posisi duduknya. Hatinya terasa terbakar dengan rasa kebencian kepada Tuan Vitton atas perbuatannya terhadap kedua orang tuanya.
Sedangkan Anin, tubuhnya mendadak lemas dan seakan tak mampu untuk berdiri. Bagian dadanya yang terasa sesak untuk menghembuskan napasnya, Anin menelan ludahnya susah payah karena perasaan dongkolnya atas cerita tentang Tuan Vitton yang sudah begitu kejinya menyakiti keluarganya.
Tidak cuman kesal atas perbuatan dari Tuan Vitton, tetapi kepada keluarganya yang sudah menjadikan ibu kandungnya menjadi jembatan balas dendam.
"Tenangkan pikiran kamu, Nak Didit. Jangan kamu kendalikan dirimu lewat kebencianmu. Tetapi, coba tenangkan dulu pikiranmu itu." Ucap Tuan Mawan mencoba untuk mencegah nya.
Anin yang merasakan tubuhnya tak berdaya, susah payah untuk berdiri. Elang yang tidak tega, ia membantu sang istri untuk berdiri.
"Bagaimana kami bisa tenang, Pa. Mendapatkan kabar baik, justru menjadi kabar buruk." Jawab Anin dengan napasnya yang terasa berat.
"Saya tidak akan membiarkan Tuan Vitton lolos begitu saja, Tuan. Saya akan menjebloskannya ke dalam penjara, apapun caranya." Ucap Didit dengan geram, dan langsung pergi dari hadapan Tuan Mawan tanpa berpamitan.
Begitu juga dengan Anin, dirinya ikut menyusul adiknya dengan langkah kakinya yang cukup gesit. Elang yang kecolongan, ia langsung mengejar istrinya.
"Sayang! tunggu aku." Panggil Elang sambil mengejar sang istri dan juga adik iparnya.
__ADS_1
Dengan penuh emosi yang sudah tidak untuk dikendalikan, Didit langsung mencari keberadaan Tuan Vitton. Siap tidak siap, Didit akan melayangkan sebuah tinjuannya.
Didit yang mendapati Tuan Vitton yang hendak masuk ke dalam ruang rawat pasien, langsung menarik tubuhnya dan membalikkan badannya.
Kemudian, Didit melayangkan tinjuannya tepat pada bagian rahang milik Tuan Vitton.
BUG!
BUG!
BUG!
Atas perbuatan Didit, kedua sudut bibir Tuan Vitton langsung mengeluarkan darah segar.
"Brengs_ek! kau Tuan Vitton."
BUG!
Didit kembali menonjok pada sudut bibir milik Tuan Vitton, dan melesat tepat pada bagian rahangnya. Tentu saja, rasanya sangat sakit. Ditambah lagi sampai mengeluarkan darah segar.
"Kurang ajar kau, manusia tengil."
BUG!
BUG!
Didit langsung membalasnya dengan segala kekuatannya, tentu saja dengan emosinya yang sudah memuncak.
BUG!
"Aw!" pekik Tian saat dirinya mendapatkan pukulan pada bagian tengkuk lehernya.
Untungnya, tidak sampai cidera dan berakibat fatal. Didit menatap tajam pada Tian dengan penuh kebenciannya. Bahkan, Didit tidak peduli dengan sudut bibirnya yang juga mendapatkan serangan dari Tian hingga membuat pada salah satu sudut bibirnya terluka dan mengeluarkan darah segar.
Didit masih mengepalkan kuat pada kedua tangannya, sedangkan Tuan Vitton tak berdaya karena mendapatkan serangan dari Didit yang cukup kuat.
Begitu juga dengan Tian, dirinya merasa kesakitan saat tengkuk lehernya mendapatkan pukulan dari Didit.
__ADS_1
"Didit, sudah! hentikan. Jangan sampai perbuatan kamu ini menjadi perkara yang bisa menjadi masalah besar." Ucap Elang yang berusaha untuk menghentikan Didit yang terlihat akan menyerang kembali kepada Tuan Vitton maupun Tian.
Tuan Vitton dan Tian yang sedang menahan rasa sakit pada bagian yang terluka, memilih untuk pergi dari hadapan Tuan Mawan, maupun Didit dan yang lainnya.
Begitu juga dengan Lara, sama halnya memilih untuk pergi. Tetapi, tiba-tiba dirinya teringat dengan kondisi ibunya, terasa berat untuk pulang bareng ayah dan kakaknya.
Lara memutar balikkan badannya, dan segera masuk ke ruang pasien untuk menemui ibunya tengah dirawat.
Tapi, niatnya diurungkan. Lara memilih untuk tidak masuk ke dalam, lantaran merasa malu.
Anin masih berdiri ditemani sang suami, sedangkan Didit mengatur pernapasannya agar emosinya tidak semakin memuncak.
Entah kenapa, tiba-tiba pandangan Anin tertuju pada Lara yang sedang duduk sendirian sambil termenung di depan ruang rawat ibunya.
"Lepaskan tanganmu." Ucap Anin sambil melepaskan tangan suaminya yang tengah menggandeng tangannya.
"Kenapa?" tanya Elang.
"Aku ada perlu dengan Lara, hanya sebentar." Jawab Anin tanpa menatap suaminya, dan pandangannya masih fokus pada Lara.
"Nanti kalau Lara menyakiti kamu, bagaimana?" tanya suaminya yang khawatir.
Anin menggelengkan kepalanya.
"Tidak akan, percaya saja denganku. Sepertinya dia sama seperti Ibunya, yang menjadi imbas dari perbuatan ayah dan kakaknya." Jawab Anin yang tidak ingin berprasangka buruk.
Karena dirinya mendapati Lara saat hendak pergi untuk meninggalkan rumah sakit, niatnya pun diurungkan.
Elang yang tidak bisa menghalangi istrinya, hanya bisa nurut dengan pasrah.
"Baiklah, hati-hati. Karena orang jahat mempunyai segudang cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya." Kata Elang menasehati, Anin langsung menoleh pada suaminya, dan menatapnya dengan senyum.
"Aku bukan anak kecil, aku tahu bagaimana caranya untuk berjaga-jaga. Sekalipun dia hanya berpura-pura, dengan mudah aku akan mengetahuinya setelah aku berbicara dengannya." Jawab Anin meyakinkan istrinya.
"Belajar dari mana kamu, sok tahu. Sudahlah, cepat kamu temui Lara. Aku akan menunggumu disini." Ucap Elang, Anin mengangguk.
Sedangkan Tuan Mawan mengajak Didit untuk mengobati luka yang terdapat pada bagian sudut bibirnya yang terlihat butuh pengobatan.
__ADS_1