
Setelah mendapatkan tamparan keras dari suaminya, segera masuk ke kamarnya. Kedua anaknya yang saat itu menyaksikannya langsung, merasa kasihan melihat ibunya yang terus-menerus mendapatkan kekerasan pada ayahnya.
"Mau ngapain kalian berdua?" tanya Tuan Vitton kepada kedua anaknya yang mencoba untuk mencegah mereka berdua.
"Mau menemui Mama, Pa." Jawab anak laki-lakinya.
"Tidak Papa izinkan untuk kalian berdua, kembalilah ke kamar kalian masing-masing. Apa perlu, Papa memberi hukuman kepada kalian?"
"Tapi, Pa."
"Masuk ke kamar kalian, cepat."
"Pa, Mama sedang bersedih." Kata sang anak laki-lakinya.
"Nurut dengan perintah Papa, atau kalian berdua akan kehilangan semua akses kalian?"
Ancam Tuan Vitton penuh penekanan, kedua anaknya menyerah dan nurut dengan perintah ayahnya.
Sedangkan di tempat lain, Anin dan suami tengah menunggu kedua orang tua yang belum juga pulang. Tapi, tiba-tiba keduanya dikagetkan dengan orang tuanya yang baru saja pulang.
"Kok, Mama dan Papa baru pulang? tumben tumbennya. Memangnya kalian berdua dari mana? gak kek biasanya."
Tuan Mawan dan istri yang baru saja mencuci kedua tangannya, segera duduk bersama di ruang makan.
"Tadi, Mama dan Papa ada janjian dengan teman Mama. Oh ya, katanya teman kalian datang ke rumah, beneran datang, 'kan?"
"Ya, Ma. Tau gak Ma, mereka rupanya kerja di kantor Papa. Satu lagi, tadi Elang meminta teman Mama untuk menjadi sekretarisku. Kalian berdua mengizinkannya, 'kan? dia laki-lakinya kok Ma, Pa."
"Wah, jadi teman-teman kamu kerja di kantor Papa? dunia memang sempit, ya. Buktinya aja nih, kalian berdua juga dipertemukan lagi." Kata sang ibu.
"Kan, kalo jodoh tuh gak kemana. Jadi, tentu saja kalian berdua dipertemukan lagi." Timpal sang ayah ikut komentar.
"Hem. Ya in aja deh, kalau gitu." Jawab Elang sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
__ADS_1
"Oh ya, katanya, Mama sama Papa akan mempertemukan Anin dan Didit dengan orang tuanya, kapan?" tanya Elang yang sudah tidak sabar ingin melihat istrinya bertemu dengan ibunya.
"Kapannya, Mama tidak bisa memastikan. Yang jelas, Mama sama Papa sudah bertemu dengan ibunya Anin. Jadi, butuh waktu yang tepat untuk janjian. Bersabarlah, semua tak semudah membalikkan telapak tangan." Jawab ibunya tak lupa memberi penjelasan kepada anak dan menantunya.
"Yang dikatakan Mama kamu itu, ada benarnya. Bersabarlah, nanti juga bakal dipertemukan. Mendingan nih, kita makan malam dulu. Setelah itu, terserah kalian mau ngapain. Mau istirahat, keluar untuk mencari angin malam dan lain sebagainya, terserah kalian berdua." Timpal sang ayah yang juga ikut berkomentar.
"Ya, Pa. Tapi benar kan, istrinya Elang tidak akan dikecewakan? takutnya Papa dan Mama salah orang, hanya itu yang kami berdua khawatirkan." Ucap Elang memastikan, takutnya semua hanya rekayasa semata, pikirnya.
Kedua orang tuanya tersenyum mendengarnya.
"Tidak ada rekayasa apapun mengenai orang tuanya Anin, benar dan tidak ada kebohongan." Jawab Tuan Mawan meyakinkan anak dan menantunya agar mempercayainya.
"Ngobrolnya nanti lagi, sekarang kita makan dulu." Timpal ibunya, Anin dan Elang mengiyakan ajakan dari ibunya.
Setelah menikmati makan malam bersama kedua orang tua, Anin dan Elang kembali ke kamarnya. Begitu juga dengan Tuan Mawan dan istrinya, yang sama-sama masuk ke kamar untuk beristirahat setelan makan malam.
Saat sudah berada di dalam kamar, Ibunya Elang segera membersihkan diri dengan cara bergantian. Sesudah mandi, keduanya duduk santai di sofa sambil menyibukkan diri dengan ponselnya maupun laptopnya.
"Mama tidak perlu cemas, semua akan terbongkar siapa Anin dan Didit. Bukankah Vitton dari dulu masih licik? makanya, kita harus hati-hati dengannya." Jawab Tuan Mawan sambil menatap layar laptopnya, dan sekilas menatap istrinya.
"Semoga saja, kita bisa membongkar kejahatan Vitton yang sudah dipertahankan bertahun-tahun lamanya." Ucap ibunya Elang yang sudah merasa geram dengan sosok Vitton yang sudah bertahan lama dengan kejahatannya.
"Kamu tidak usah terlalu banyak pikiran, jaga kesehatan kamu." Kata Tuan Mawan mengingatkan akan kesehatan istrinya.
"Ya, Pa. Kalau gitu, Mama mau istirahat lebih awal." Ucap ibunya Elang.
"Ya, tidur lah." Jawab Tuan Mawan disertai dengan anggukan. Kemudian, sang istri berbaring di atas tempat tidur dan segera beristirahat.
Sedangkan di kamar satunya, Elang dan Anin masih belum tidur. Keduanya duduk berpangku di atas tidur sambil bersandar, dengan posisi Elang yang tidur di atas pangkuan istrinya.
Dengan lembut, Anin mengusap ujung kepala suaminya dengan rambut yang tebal dan hitam yang mengkilat.
"Kamu kenapa sih, sayang? aku lihat sejak keempat teman kamu pulang, terlihat sekali jika kamu itu gelisah."
__ADS_1
Anin menggelengkan kepalanya.
"Tidak kenapa-kenapa denganku, aku hanya kepikiran jika kamu berada di kantor. Terus, Dinda mendekatimu." Jawab Anin yang akhirnya berterus terang.
Elang yang mendengar kecemburuan istrinya, tersenyum senang melihat ekspresi sang istri yang begitu khawatir akan hubungan pernikahannya.
Elang langsung mengganti posisinya, dan duduk di sebelah kanan sang istri.
"Jadi, dari tadi itu, kamu sedang memikirkan aku? aku sangat senang sekali, melihat kamu cemburu." Kata Elang dengan senyum menggodanya.
Saat itu pula, Anin langsung menoleh padanya.
"Hem. Salah ya, kalau aku cemburu sama Dinda." Ucap Anin dengan ekspresi datar.
Elang langsung menyerobot bibir manis milik istrinya, dan menc_iumnya dengan lembut. Setelah itu, ditatapnya sang istri dengan lekat.
"Tidak ada yang salah sama sekali, justru aku sangat senang mendengarnya. Karena apa? karena sebentar lagi aku akan berhasil membuatmu jatuh cinta denganku." Jawab Elang dan tersenyum bahagia, Anin langsung memeluk suaminya, dan bersandar di dada bidang milik sang suami.
"Bagaimana aku tidak jatuh cinta denganmu, perhatian kamu tidak pernah berubah dari dulu. Bahkan, sekarang aku merasa nyaman berada di dekatmu. Tidak hanya itu saja, aku sangat takut kehilangan kamu."
Ucap Anin sambil memeluk suaminya, dan mendongak menatapnya dengan perasaan khawatir, jika harus kehilangan suaminya.
Elang mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Aku janji, tidak akan pernah meninggalkanmu kamu, apapun alasannya. Karena cintaku, hanya melekat dengan sosok dirimu." Ucap Elang yang juga ikutan memeluk tubuh istrinya itu.
Kemudian, keduanya sama-sama merenggangkannya.
"Sudah malam, ayo kita tidur. Besok, aku harus memulai aktivitasku di kantor." Sambungnya lagi untuk mengajak istrinya beristirahat.
Anin mengangguk, dan tidur dalam pelukan suaminya. Terasa nyaman dan bahagia saat dirinya mendapatkan cinta yang begitu sempurna dari suaminya.
Rasa kantuk yang mulai menguasai keduanya, telah tertidur lelap lewat mimpi-mimpinya. Sampai tidak terasa, mentari hangat di pagi hari tengah menyambut mereka berdua.
__ADS_1