
Dirasa sudah mendingan dan tidak begitu penat dalam pikirannya, Anin sudah bisa melanjutkan pekerjaannya kembali bersama asisten yang lainnya.
"Nin, kamu seriusan sudah lebih baik? takutnya kamu kenapa-kenapa."
"Ya, Mbak Nana, saya sudah mendingan." Jawab Anin.
"Syukur deh kalau sudah mendingan, Mbak takutnya kamu memaksakan diri untuk bekerja." Kata Mbak Nana.
Sedangkan Anin, justru tersenyum.
"Kalian sedang ngapain? belum pada mandi ya? buruan gantian mandinya, bentar lagi tamunya akan pada datang. Nyonya Rahel meminta kita untuk pakai baju seragam, biar kelihatan rapi saat acara dimulai." Ucap Bi Asih memberitahu kepada asisten lainnya.
"Pakai baju seragam?" tanya Anin yang merasa tidak mempunyai baju seragam.
"Ya, Nak Anin, baju seragamnya sudah ada di kamar kalian masing-masing. Jadi, gantian mandinya." Jawab Bi Asih.
"Ya, Bi." Jawab Anin.
"Anin, mendingan kamu mandi aja dulu."
"Tapi, Mbak."
"Tidak ada tapi tapian, buruan mandinya." Kata Mbak Nana, Anin hanya bisa nurut.
Karena tidak ingin membuat masalah, dan sadar diri karena orang baru, Anin tidak bisa menolak untuk yang beberapa kali.
"Ya deh Mbak, kalau gitu saya mandi duluan ya, Mbak."
"Ya, jangan lupa dandan yang rapi. Tapi ingat, jangan menor menor."
"Ya, Mbak. Kebetulan, saya nggak bisa dandan." Jawab Anin, Mbak Nana mengangguk.
Setelah mendapatkan perintah dari Mbak Nana, Anin bergegas untuk membersihkan diri.
Ketika sudah berada dalam kamar, Anin cepat cepat mandi, karena tidak ingin yang lain menunggu giliran.
Selesai mandi, Anin mengenakan pakaian seragam yang sudah dibagikan di setiap kamar.
__ADS_1
Dengan lekat, Anin menatap dirinya sendiri lewat pantulan dari cermin.
"Anin, Anin. Kamu sekolah sampai sarjana, dan kamu berakhir sampai menjadi asisten. Nasib tidak ada yang tahu, apa yang dimiliki akan raib dengan sekejap. Apa ya, lelaki yang selama ini aku pertahankan dan aku jaga cintanya, tak akan bisa aku miliki. Lalu, apa artinya dengan kenangan masa laluku itu, jika hanya akan menjadi goresan luka." Ucapnya lirih di depan cermin.
Saat itu juga, Anin teringat jika dirinya hanya mempunyai waktu sebentar untuk bersiap-siap. Secepatnya, Anin sudah rapi dengan penampilannya.
Dengan langkah kaki yang terburu-buru dan dengan pakaian seragamnya, Anin kembali berkumpul dengan asisten yang lainnya.
Kemudian, satu persatu asisten yang lainnya mulai bergantian untuk membersihkan diri. Setelah semuanya sudah rapi dengan pakaian seragamnya, lelaki maupun perempuan, semua mulai bersiap-siap, lantaran tamu dari pihak laki-laki akan segera datang.
Lara yang sudah siap dengan penampilannya yang terlihat memukau, benar-benar terlihat sangat cantik.
Anin yang melihatnya saat menuruni anak tangga, dirinya terbayang jika nasibnya akan sama beruntung. Tapi, tiba-tiba nyalinya menciut untuk mengharapkan bertemu dengan kekasihnya.
Didit yang tidak jauh jaraknya dengan sang kakak, hatinya terasa sedih. Bagaimana tidak bersedih, melihat harapan sang kakak yang semakin lama telah memudar.
Impian yang sudah ditata rapi sejak dulu, seakan hanya mimpi belaka.
'Kasihan Kak Anin, yang seharusnya bahagia dengan lelaki yang sudah dipertahankan, kini masih diuji kesabarannya. Semoga saja, Kak Anin segera temui kebahagiaan seperti yang diharapkan, meski bukan dengan kak Andika.' Batin Didit yang merasa bersedih.
"Ya, sayang. Kamu terlihat sangat cantik, lagi pula tidak ada yang perlu dicemburui." Kata sang ibu yang tak lupa memuji anak perempuan satu-satunya.
"Cantik, tapi judesnya minta ampun." Timpal Tian yang baru saja turun dari anak tangga.
"Tian."
"Ya, Ma. Dah ah, Tian mau duduk di sana." Jawab Tian yang malas ikut berkumpul dengan kedua orang tuanya dan memilih untuk duduk dengan keluarga dari ayahnya yang baru saja datang.
Sedangkan Lara, dirinya tengah memasang muka masamnya.
"Sudah, tidak perlu kamu berdebat dengan adikmu, Tian memang begitu kan, sama kamu."
"Ya sih Ma, tapi bikin Lara jengkel." Jawabnya.
"Kalau kamu cemberut, nanti cantiknya bisa hilang. Kamu itu harus banyak senyum, biar calon suami kamu jatuh cinta denganmu." Ucap sang ibu memberi saran kepada putrinya.
"Ya, Ma." Jawab Lara dengan senyum.
__ADS_1
"Oh ya, sepertinya calon suami kamu sudah datang. Ayo, kita sambut mereka. Ingat, jangan pasang muka jutek-mu itu."
"Ya, Ma, ya." Jawabnya dan segera menyambut kedatangan calon suaminya bersama calon mertua.
Dengan langkah kakinya yang pelan, Lara di dampingi kedua orang tuanya untuk menyambut lelaki yang akan datang melamar Lara.
Dengan sambutan hangat, keluarga pihak laki-laki sudah masuk ke rumah dengan dekorasi yang terbilang sangat bagus dan elegan.
Seketika, calon suami Lara berhenti sejenak. Saat itu juga, Lara langsung melingkarkan tangannya di lengan calon suaminya.
'Sepertinya aku mengenali dekorasi perpaduan warna ini, tapi ... mungkin saja ini hanya kebetulan.' Batinnya.
"Kamu kenapa?" tanya Lara yang merasa heran saat calon suaminya berhenti sambil mengamati isi ruangan tersebut.
"Tidak ada apa-apa, siapa yang merancang ruangan ini?"
"Kata Mama, asiten baru di rumah ini. Katanya dari kampung bareng adik laki-lakinya, terus karena nyelamatin Mama dari jambret, diajak lah sama Mama dan ditawari untuk menjadi asisten rumah. Soalnya Mbak Duri sama suaminya mau menetap di kampung, jadi sekalian mencari penggantinya." Jawab Lara.
"Oh, kirain kamu yang merancang." Ucapnya, dan tentunya merasa risih saat lengannya berada di lingkaran tangan milik Lara.
Sedangkan di dapur, Anin sedang bersiap-siap untuk membawa nampan berisi beberapa gelas yang berisi minuman.
"Anin, yakin nih kalau kamu mau mengantarkan minumannya ke depan?memangnya tangan kamu sudah tidak sakit?"
"Tidak kok, Mbak. Lagian juga sudah di perban, tidak apa-apa kok." Jawab Anin meyakinkan.
"Ya loh Nin, kalau tangan kamu masih sakit, jangan kamu paksakan." Timpal asisten yang satunya.
"Ya, Nak Anin. Tangan kamu kan, terluka. Lebih baik kamu siapkan hidangan untuk makan malam aja, yang mengantarkan ke depan, biar Mbak Rara atau Mbak Nana aja." Ucap Bi Asih ikut menimpali.
"Tidak apa-apa kok, Bi. Tangan saya ini beneran sudah tidak sakit, awalnya terasa ngilu, lama-lama juga biasa aja. Bibi tenang aja, saya tidak apa-apa." Jawab Anin yang tetap bersikukuh untuk membawakan minuman ke depan, tepatnya ke para tamu yang datang.
"Baiklah, jika tetap nekad. Tapi ingat, kamu harus hati-hati bawa nampannya. Bibi hanya takut saja, jika kamu menahan rasa sakit pada jari tanganmu yang terkena pi*sau." Kata Bi Asih, justru Anin malah tersenyum.
"Ya udah ya, Bi, Mbak Nana dan Mbak Rara, saya mau antar minuman ini ke depan." Ucap Anin sebelum membawa nampan berisi beberapa gelas minuman.
Dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan jalan kakinya, Anin berjalan menuju ruangan yang dijadikan acara pertemuan untuk lamaran.
__ADS_1