Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Ketidaksabaran


__ADS_3

Anin yang masih berada di dalam kamar, ia merasa bingung harus ngapain. Duduk, sangat membosankan, pikirnya.


"Kamu ngapain mondar mandir begitu?"


"Eh, nggak. Aku cuma bingung aja, nggak tahu harus ngapain. Rumah kamu sih terlalu besar, aku sampai harus ngapain." Jawab Anin dengan asal, Elang tersenyum mendengarnya.


"Kok senyum sih, memangnya ada yang lucu denganku?"


Lagi-lagi Elang kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada yang lucu, ayo keluar temani aku ke taman belakang."


"Mau ngapain?" tanya Anin.


"Katanya kamu bingung mau ngapain. Ya sudah, kamu ikut denganku ke taman belakang. Sambil menunggu makan malam, kita duduk bersantai di belakang rumah." Ajak Elang, dan Anin mengiyakan.


"Nah, gini nih bikin adem lihatnya. Ngomong-ngomong, Den Elang sama Nona Anin mau kemana? udah sore ini loh."


"Kita mau duduk santai di belakang rumah aja kok, Bi."


"Oh, kirain Bibi mau pergi kemana." Kata Bi Narsih.


"Udah dulu ya, Bi, kita tinggal dulu."


"Ya, Non, silakan." Kata Bi Narsih sambil tersenyum senang, saat melihat majikannya tak seperti hari hari setelah insiden kecelakaan.


"Eh, Nyonya. Selamat sore, Nya, Tuan." Sapa Bi Narsih saat kedua majikannya baru keluar dari kamarnya.


"Sore juga, Bi. Barusan Bibi bicara sama Elang, bukan?"


"Ya, Nya. Barusan Den Elang sama Nona Anin keluar dari kamarnya, katanya mau duduk santai di belakang rumah."


"Oh, ya udah kalau gitu. Nanti kalau waktunya makan malam, sampaikan sama mereka berdua, kalau kita berdua mau pergi ada urusan. Jadi, mereka berdua suruh makan malam duluan aja." Ucap ibunya Elang berpesan, Bi Narsih mengangguk.


Setelah itu, kedua orang tuanya Elang segera berangkat.


Sedangkan Elang dan istri, kini sudah berada di taman belakang. Anin memandanginya dengan takjub.


"Ini mah buka taman, tapi kebun. Lihatlah, banyak tanaman buah-buahan daripada bunganya. Kamu dapat ide dari mana, apa ini kesukaan kedua orang tuamu, ibu kamu atau ayah kamu? ternyata bagian keluarga kamu suka tanaman juga ya."


"Aku dapat ide dari kamu, karena kamu adalah inspirasi dalam hidupku. Kamu selalu tegar saat menyemangati diri kamu sendiri, dan tidak pernah putus asa. Bukankah kamu pernah bilang, siapa yang tanam, maka si penanam akan menuai-nya."

__ADS_1


"Memangnya apa yang kamu tanam, dan apa yang kamu tuai? justru kakimu harus sakit seperti ini." Kata Anin, Elang justru tersenyum.


Seolah, tuduhan istrinya adalah karma baginya.


"Bantu aku dulu, aku mau berpindah duduknya. Aku merasa bosan duduk di kursi roda ini." Pinta Elang pada istrinya, Anin segera membantunya.


Ketika sudah duduk bersebelahan dengan sang istri, Elang meraih tangan istrinya.


"Kalau aku tidak sakit seperti ini, bagaimana mungkin aku akan temukan istri seperti kamu."


"Kamu ngomongin apa? jangan membicarakan yang aneh-aneh."


"Katanya kamu ingin tahu, apa yang aku tanam dan apa yang aku tuai. Karena aku tetap bertahan dengan perasaanku, meski dengan kondisiku yang seperti ini, kita masih dipertemukan kembali dalam ikrar janji pernikahan." Jawab Elang, lagi-lagi langsung mengambil kesempatan emas untuk men_cium bibir milik istrinya dengan lembut, disaksikan terbenamnya matahari dari barat, meski terhalang pepohonan dan gedung.


Anin tak bisa berbuat apa-apa dengan perlakuan suaminya, hanya bisa nurut serta ikut menikmatinya. Begitu juga dengan Elang terus menikmatinya sampai benar-benar puas. Kemudian melepaskan ciu_mannya, dan ia mengusap bibir milik istrinya karena ulah ketidaksabarannya ingin memiliki sang istri sepenuh hatinya.


Elang merangkul tubuh istrinya tanpa rasa canggung padanya.


"Bagaimana kabar di kampung? apakah masih sama seperti dulu?" tanya Elang berbasa-basi untuk mengajak istrinya mengobrol.


"Ya, masih sama seperti dulu. Kamu sendiri, kenapa tidak pernah datang menemui kakek dan nenekmu di kampung? apakah kamu tidak merindukannya?"


"Untuk apa aku datang lagi ke kampung, kalau hanya membawa luka. Mendengar kabar kamu dari Burnan saja, sudah cukup bagiku. Kalau untuk nenek dan kakek, aku cukup melakukan panggilan Video untuk mengobati rinduku dengan kampung. Karena aku tahu, yang kamu rindukan bukan aku, tetapi lelaki lain." Kata Elang sambil menatap lurus ke depan, Anin menoleh pada suaminya.


Saat itu juga, Elang menoleh kearah istrinya dan tersenyum saat istrinya menatapnya.


"Ah ya, aku sampai lupa. Bentar, aku mau memberikan sesuatu padamu."


"Apa?" tanya Anin.


"Bentar, aku ambil dulu di saku jaket." Jawab Elang sambil merogoh saku jaketnya.


"Ini, punya kamu 'kan?" sambil menyodorkan benda kotak kecil milik istrinya.


Anin membulatkan kedua bola matanya saat suaminya menyodorkan kotak kecil miliknya.


"Kamu dapat dari mana kotak kecil ini?" tanya Anin saat menerima kotak liontin miliknya.


Elang kembali tersenyum. Bukannya menjawab, Elang merogoh miliknya.


"Aku juga punya, ternyata jodoh tidak kemana ya." Kata Elang sambil mengamati kotak liontin miliknya.

__ADS_1


Anin semakin bingung dibuatnya, melihat dua benda yang sama.


"Kok samaan dengan punyaku? kamu ikut-ikutan, ya? ngaku."


"Punya kamu di buka dulu, tahunnya kan ada di situ." Kata Elang sambil menunjuk kotak kecil milik istrinya.


Anin yang sudah tidak sabar, segera memeriksanya. Takut, jika ada sesuatu yang dirubah atau diganti.


Dengan susah payah, Anin membukanya. Dan benar saja, semua masih utuh. Bahkan, tanggalnya serta bulan dan tahunnya pun masih sama. Tapi sayangnya, Anin tidak bisa membukanya. Yang jelas, butuh kunci liontin dari pasangan itu sendiri.


"Ini, kalau kamu ingin membuka benda kecil itu. Karena kunci liontin itu, hanya aku yang punya." Ucap Elang sambil menyodorkan liontin miliknya.


Anin menoleh dan menatap wajah istrinya.


"Ini, pakailah jika kamu ingin membukanya." Kata Elang dengan anggukan saat memberikan liontin miliknya pada sang istri.


Anin yang menyimpan rasa penasaran, akhirnya menerima liontin dari suaminya. Kemudian, mencobanya untuk membuka liontin miliknya sendiri.


Alangkah terkejutnya saat liontin miliknya terbuka dengan sangat mudah. Anin mengamati liontin miliknya dan milik sang suami begitu lekat.


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini? jelaskan padaku. Jangan bilang, kalau kamu sengaja menduplikat liontin milikku."


"Untuk apa, dan apa untungnya aku menduplikat? jelas-jelas ini benda yang sama dan sama kunonya." Kata Elang memperjelas atas kejujurannya.


Anin masih bingung dibuatnya, semua diluar dugaan.


"Yang mengetahui arti liontin ini, hanya kedua orang tuaku. Kamu dan aku mempunyai masa lalu di masa kecil, dan orang tua kitalah saksinya." Sambungnya lagi.


"Maksudnya kamu, apa?"


"Kamu dan Didit masih mempunyai keluarga, kata kedua orang tuaku. Kalau kamu ingin mengetahui kebenarannya, tunggu mereka pulang."


'Apa! aku dan Didit masih mempunyai keluarga? benarkah? lalu, ada hubungan apa dengan liontinku dan liontin miliknya Elang. Mungkinkah ada artinya dimasa lalu kami? tapi, Ibu Ami tidak pernah bercerita tentang siapa aku dan juga Elang. Ah ya, nenek dan kakeknya Elang yang di kampung pasti mengetahuinya.' Batin Anin bertanya-tanya tentang siapa dirinya dan suaminya sendiri.


"Maafkan aku, jika yang aku sampaikan ini membuatmu kesal, dan sulit untuk kamu mempercayainya. Entah kenapa, aku merasa bahagia jika memang ini kebenarannya." Ucap Elang sambil memegangi liontin miliknya.


Anin masih diam, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya. Bisa saja, semua sudah di rekayasa, pikirnya.


"Sudahlah, sekarang sudah gelap. Ayo, kita masuk ke dalam rumah. Jugaan sudah waktunya untuk makan malam, tidak baik jam segini masih duduk di luar."


Anin mengangguk dan membantu suaminya duduk di kursi roda.

__ADS_1


__ADS_2