Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Rasa ingin tahu


__ADS_3

Elang merangkul tubuh istrinya tanpa rasa canggung padanya.


"Bagaimana kabar di kampung? apakah masih sama seperti dulu?" tanya Elang berbasa-basi untuk mengajak istrinya mengobrol.


"Ya, masih sama seperti dulu. Kamu sendiri, kenapa tidak pernah datang menemui kakek dan nenekmu di kampung? apakah kamu tidak merindukannya?"


Elang menoleh pada istrinya, dan kembali menatap lurus ke depan. Tetap saja, masih memeluk istrinya.


"Untuk apa aku datang lagi ke kampung, kalau hanya membawa luka. Mendengar kabar kamu dari Burnan saja, sudah cukup bagiku. Kalau untuk nenek dan kakek, aku cukup melakukan panggilan Video untuk mengobati rinduku dengan kampung. Karena aku tahu, yang kamu rindukan bukan aku, tetapi lelaki lain." Kata Elang sambil menatap lurus ke depan, Anin menoleh pada suaminya.


Saat itu juga, Elang menoleh kearah istrinya dan tersenyum saat istrinya menatapnya.


"Ah ya, aku sampai lupa. Bentar, aku mau memberikan sesuatu padamu."


"Apa?" tanya Anin.


"Bentar, aku ambil dulu di saku jaket." Jawab Elang sambil merogoh saku jaketnya.


"Ini, punya kamu 'kan?" sambil menyodorkan benda kotak kecil milik istrinya.


Anin membulatkan kedua bola matanya saat suaminya menyodorkan kotak kecil miliknya.


"Kamu dapat dari mana kotak kecil ini?" tanya Anin saat menerima kotak liontin miliknya.


Elang kembali tersenyum. Bukannya menjawab, Elang merogoh miliknya.


"Aku juga punya, ternyata jodoh tidak kemana ya." Kata Elang sambil mengamati kotak liontin miliknya.


Anin semakin bingung dibuatnya, melihat dua benda yang sama.


"Kok samaan dengan punyaku? kamu ikut-ikutan, ya? ngaku."


"Punya kamu di buka dulu, tahunnya kan ada di situ." Kata Elang sambil menunjuk kotak kecil milik istrinya.


Anin yang sudah tidak sabar, segera memeriksanya. Takut, jika ada sesuatu yang dirubah atau diganti.


Dengan susah payah, Anin membukanya. Dan benar saja, semua masih utuh. Bahkan, tanggalnya serta bulan dan tahunnya pun masih sama. Tapi sayangnya, Anin tidak bisa membukanya. Yang jelas, butuh kunci liontin dari pasangan itu sendiri.

__ADS_1


"Ini, kalau kamu ingin membuka benda kecil itu. Karena kunci liontin itu, hanya aku yang punya." Ucap Elang sambil menyodorkan liontin miliknya.


Anin menoleh dan menatap wajah istrinya.


"Ini, pakailah jika kamu ingin membukanya." Kata Elang dengan anggukan saat memberikan liontin miliknya pada sang istri.


Anin yang menyimpan rasa penasaran, akhirnya menerima liontin dari suaminya. Kemudian, mencobanya untuk membuka liontin miliknya sendiri.


Alangkah terkejutnya saat liontin miliknya terbuka dengan sangat mudah. Anin mengamati liontin miliknya dan milik sang suami begitu lekat.


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini? jelaskan padaku. Jangan bilang, kalau kamu sengaja menduplikat liontin milikku."


"Untuk apa, dan apa untungnya aku menduplikat? jelas-jelas ini benda yang sama dan sama kunonya." Kata Elang memperjelas atas kejujurannya.


Anin masih bingung dibuatnya, semua diluar dugaan.


"Yang mengetahui arti liontin ini, hanya kedua orang tuaku. Kamu dan aku mempunyai masa lalu di masa kecil, dan orang tua kitalah saksinya." Sambungnya lagi.


"Maksudnya kamu, apa?"


'Apa! aku dan Didit masih mempunyai keluarga? benarkah? lalu, ada hubungan apa dengan liontinku dan liontin miliknya Elang. Mungkinkah ada artinya dimasa lalu kami? tapi, Ibu Ami tidak pernah bercerita tentang siapa aku dan juga Elang. Ah ya, nenek dan kakeknya Elang yang di kampung pasti mengetahuinya.' Batin Anin bertanya-tanya tentang siapa dirinya dan suaminya sendiri.


"Maafkan aku, jika yang aku sampaikan ini membuatmu kesal, dan sulit untuk kamu mempercayainya. Entah kenapa, aku merasa bahagia jika memang ini kebenarannya." Ucap Elang sambil memegangi liontin miliknya.


Anin masih diam, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya. Bisa saja, semua sudah di rekayasa, pikirnya.


"Sudahlah, sekarang sudah gelap. Ayo, kita masuk ke dalam rumah. Jugaan sudah waktunya untuk makan malam, tidak baik jam segini masih duduk di luar."


Anin mengangguk dan membantu suaminya duduk di kursi roda.


Selesai makan malam, Anin dan Elang kembali masuk ke kamar. Kemudian, keduanya bergantian untuk mencuci muka serta ritual yang lainnya.


Tidak ada lagi drama ke kamar mandi, Elang masih duduk di kursi rodanya. Entah ada angin apa, bersusah paya dirinya untuk belajar berdiri, meski di atas kursi roda.


Dengan napas yang begitu berat, Elang mengangkat berat badannya sendiri agar kedua kakinya mampu menopangnya.


Anin yang baru aja menyisir rambutnya, langsung menggapai suaminya yang hampir saja terjatuh.

__ADS_1


"Bukan begini caranya, Lang. Kalau kamu jatuh, bagaimana? kamu bisa memanggilku untuk diminta bantuan. Tapi, buka sepertinya ini juga caranya." Ucap Anin sambil membantu suaminya untuk kembali duduk.


"Lalu, bagaimana caranya agar aku bisa berdiri? aku bosan harus duduk seperti ini terus." Kata Elang dan memukul kursi rodanya sendiri dengan tenaganya yang kuat.


"Jauhi kursi rodanya jika kamu mau belajar berjalan, kamu bisa menggunakan alat penyangga atau alat bantu yang lainnya." Jawab Anin, Elang mencoba untuk mencerna kalimat yang diucapkan oleh istrinya.


"Ya juga ya, bagaimana aku mau bisa berjalan, sedangkan aku sendiri ketergantungan dengan kursi roda. Lagi pula, kaki sebelah kiri tidaklah sakit, hanya kaki kananku saja." Kata Elang yang tersadar akan rasa sakit yang dirasakannya.


Anin tersenyum mendengarnya.


"Besok, kamu bisa menggunakan alat bantu itu. Tapi, harus bertanya terlebih dahulu dengan dokter. Tetap saja, harus ada saran dari dokter." Ucap Anin mengingatkan, Elang mengangguk dan tersenyum pada istrinya.


"Makasih ya, kamu sudah memberiku saran yang baik. Aku berjanji, aku akan berusaha untuk sembuh. Karena apa? karena aku ingin membahagiakan kamu, istriku." Jawab Elang dan meraih tangan istrinya, Anin sedikit gugup dibuatnya.


"Aku janji, aku akan membahagiakan kamu dengan caraku. Aku tahu, hati kamu berat, tapi aku tidak akan pernah berhenti sampai kamu menyerah." Sambungnya lagi, Anin mengangguk.


Kemudian, Anin duduk di tepi ranjang. Elang sendiri memutar balikkan kursi rodanya, dan keduanya saling berhadapan.


"Maafkan aku ya, Lang. Aku sudah egois, kedua mataku kurang jeli akan ketulusan kamu." Ucap Anin merasa malu.


Lagi-lagi Elang tersenyum mendengarnya, dan kembali meraih tangan istrinya.


"Tidak apa-apa, aku dapat memahaminya kok. Mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama, jika aku ada posisi kamu. Oh ya, sudah malam dan waktunya untuk istirahat." Jawab Elang, dan melepaskan tangan istrinya. Anin sendiri hanya bisa nurut apa kata suami.


Saat keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur, Anin dan Elang sama-sama menatap langit-langit kamarnya dengan lamunannya masing-masing.


Elang menoleh, dan menggeser posisi tidurnya. Anin dibuatnya kaget.


"Boleh kan, jika aku tidur memelukmu?" tanya Elang tanpa canggung.


Anin sendiri dibuatnya gugup dan tentunya malu, tidur dalam pelukan temannya sendiri. Meski sudah menjadi suami istri, tetap saja membuatnya gugup dan juga malu tentunya.


"Kenapa, kamu malu?"


"I-i-ya," jawabnya dengan gugup.


'Bo_doh sekali aku ini, kenapa aku mesti jawab iya.' Batin Anin menggrutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2