
Masih dalam perjalanan menuju lapas, Didit bersandar di jendela kaca mobil sambil melamun. Tidak terasa, mobil yang ditumpanginya telah sampai.
"Nak Didit, kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak ibunya Elang sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Didit tersadar dari lamunannya, kemudian langsung melepas sabuk pengaman.
"Ya, Bu." Jawab Didit yang masih terasa canggung jika berbicara dengan kedua orang tuanya Elang.
Saat sudah turun dari mobil, Didit teringat saat memasuki lapas bersama sang kakak yang dijadikan tersangka.
Sungguh benar-benar tidak menyangka jika orang tua Andika begitu keji dan tanpa berpikir lagi untuk memberi tuduhan pada kayaknya.
"Ayo, kita masuk kedalam. Kamu jangan takut, kakak kamu pasti akan bebas." Ucap Tuan Mawan selaku ayah Elang.
"Ya, Nak. Kamu jangan takut dah juga tidak perlu khawatir. Yang terpenting, kamu bisa membujuk kakak kamu untuk menerima tawaran dari kami." Timpal ibunya Elang, Didit mengangguk.
"Semoga ya, Bu, Pak. Saya akan mencoba untuk bicara baik-baik dengan kak Anin, semoga mau menerima ajakan saya." Jawab Didit sedikit ada rasa takut mengecewakan.
Pasalnya, kakaknya tidak mudah untuk menerima ajakan jika hatinya tak terpanggil.
Tuan Mawan dan istrinya tersenyum. Kemudian, mengajak Didit untuk masuk kedalam.
"Sekarang juga kamu bisa temui kakak kamu, dan bicaralah yang penting-penting saja. Kami akan memproses kakak kamu untuk keluar dari tahanan ini, jika kamu berhasil membujuk kakak kamu. Tapi, jika kakak kamu menolak, kami tidak bisa membantumu. Bukan kakak kamu saja yang terluka, tetapi kami juga ikut bersedih karena keadaan putra kami." Ucap ibunya Elang, Didit sendiri mengerti dengan kondisi antara Elang dan kakaknya.
Keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Yang satu kebebasan, dan yang satunya lagi butuh kesembuhan.
"Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu katakan, sekarang juga kamu bisa temui kakak kamu." Timpal Tuan Awam.
"Ya, Pak. Kalau begitu, saya permisi." Jawab Didit, kedua orang tuanya Elang mengangguk.
Didit yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang kakak, secepatnya untuk menemuinya.
"Semoga saja, Anin mau menerima tawaran dari kita ya, Pa. Mama sudah putus asa, hanya ini jalan satu-satunya untuk putra kita." Ucap ibunya Elang, Tuan Awam memeluk istrinya.
__ADS_1
"Kita doakan saja, Ma. Papa akui, cara kita memang salah, menolong dengan cara meminta imbalan. Tapi, mau bagaimana lagi, kita tidak mempunyai cara lain untuk melakukan cara demi kesembuhan Elang." Jawab Tuan Awam yang merasa bersalah saat memberi pertolongan harus meminta imbalan.
Ibunya Elang langsung melepaskan pelukan dari suaminya, dan menatapnya.
"Cara kita tidak salah, kita dan Anin sama-sama membutuhkan. Semoga saja, Anin bisa menjadi perantara untuk kesembuhan putra kita. Mama tidak mempunyai cara lain selain memberi tawaran padanya." Ucap ibunya Elang, Tuan Mawan langsung menc_ium kening milik istrinya.
Di posisi lain, Anin dapat tersenyum di depan teman-temannya.
"Tuh kan, berarti adik kamu baik-baik saja. Nyatanya datang, 'kan? aku doakan, semoga kedatangan adik kamu membawa keberuntungan." Ucap temannya yang juga ikut merasa senang ketika melihat Anin tidak terus-menerus bersedih dipojokan.
"Ya, semoga saja adikku membawa kabar baik untukku. Aku temui adik aku dulu, ya." Jawab Anin tersenyum mengembang.
"Ya, sana. Jangan lupa, salam buat adik kamu." Ucapnya, Anin tersenyum bahagia.
Karena sudah tidak sabar, Anin segera menemui adiknya.
Sedangkan Didit, kini tengah menunggu kakaknya keluar dari balik jeruji besi. Saat itu juga, Anin tengah berjalan untuk menemui adiknya yang sedari tadi sudah menunggu.
Didit yang melihat kakaknya tengah berjalan mendekatinya, langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Sama, Kakak juga khawatir dengan kamu. Syukurlah jika keadaan kamu baik-baik saja. Oh ya, kamu sudah makan atau belum? maafkan Kakak ya, kamu harus ikut menanggung akibatnya." Jawab Anin yang begitu khawatir dengan keadaan adiknya.
Berulang kali Anin terus memegangi wajah adiknya. Meski usia tidak begitu jauh jaraknya, Anin tetap menganggap Didit adalah adik kecilnya.
"Aku sudah makan, dan aku bertemu dengan orang baik."
"Benarkah kamu bertemu dengan orang baik? apakah bi Asih dan pak Tejo?" tanya Anin yang ingin tahu.
Didit menggelengkan kepalanya.
"Kalau bukan bi Asih dan pak Tejo, terus siapa?" tanya Anin kembali.
"Lebih baik Kak Anin duduk aja dulu, nanti akan aku beritahu sama Kakak." Jawab Didit mengajak kakaknya untuk duduk, sebelum membahas sesuatu yang penting.
__ADS_1
Anin nurut dan duduk berhadapan dengan sang adik.
"Waktu kita hanya sebentar. Jadi, cepetan kamu beritahu Kakak." Ucap Anin yang sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa orangnya yang sudah berbuat baik kepada adiknya.
"Kakak ingin tahu? nanti kalau Kak Anin mau menjawab pertanyaan dariku, aku akan memberitahunya kepada Kakak."
"Memangnya pertanyaan apa yang ingin kamu berikan pada Kakak, Dit?" tanya Anin lagi.
"Apakah Kakak ingin segera keluar dari lapas ini?"
Sekarang gantian Didit yang balik bertanya, Anin justru tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh dari adiknya.
"Tentu saja Kakak ingin keluar dari lapas ini, Dit. Memangnya siapa sih yang mau tinggal ditempat seperti ini? tidak ada, kecuali orang yang sudah bosan hidup, mungkin." Jawab Anin.
"Aku serius, Kak." Kata Didit.
"Ya Kakak juga serius, Dit" Jawab Anin merasa aneh dengan adiknya.
"Tapi ada syaratnya, Kak." Kata Didit sambil menatap sang kakak.
"Tentu saja, mana ada keluar dari tempat ini tidak ada syaratnya, Dit. Kalau bukan uang, tan bukti. Terkadang bukti saja masih butuh uang." Ucap Anin yang merasa mustahil untuk bisa keluar dari penjara.
"Tidak perlu uang, dan kita juga tidak perlu mencari bukti, Kak. Tapi, cukup dengan menerima tawaran." Kata Didit yang akhirnya berterus terang kepada kakaknya, tetapi belum memberitahu sepenuhnya.
Anin menatap adiknya bingung dan merasa mustahil untuk bisa keluar dengan cara gratis. Tentunya, tawaran yang akan dikatakan adiknya pun tidak akan mudah.
"Memangnya tawaran apa, Dit?" tanya Anin penasaran.
"Kakak harus menikah dengan lelaki lumpuh." Jawab Didit yang belum berani untuk mengatakan yang sejujurnya tentang lelaki yang akan menikah dengan kakaknya.
"Menikah dengan lelaki lumpuh? apa Kakak tidak salah dengar?"
"Tidak, Kakak tidak salah dengar. Aku sudah melihat dan bertemu orangnya, sangat tampan dan juga sangat baik."
__ADS_1
"Tahu darimana kalau orangnya baik, bertemu palingan juga tadi malam. Tidak, Kakak tidak mau. Mendingan juga tinggal di lapas, dari pada harus masuk ke kandang singa." Kata Anin yang sudah bergidik ngeri mendengarnya.
Bukannya sedih dan kecewa, justru Didit tertawa kecil saat melihat kakaknya bergidik ngeri.