Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Keputusan Didit


__ADS_3

Didit yang mendengarnya, pun masih mencoba untuk mencernanya.


"Kamu tidak perlu takut, putra Kami bukan orang jahat, hanya frustrasi saat kecelakaan dan dinyatakan lumpuh. Kalau kamu ingin melihat kondisinya, akan saya antar kamu untuk melihatnya langsung." Ucap Tuan Mawan.


"Tapi, saya tidak yakin jika kakak saya mau menerima tawaran ini, Pak. Pasti Bapak dan Ibu sudah tahu, belum lama ini kakak saya ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh seseorang yang dicintainya."


"Keputusan ada pada kamu, mau atau tidaknya itu, kamu yang menentukan. Coba pikirkan keadaan kakak kamu yang sekarang, apakah kamu akan tega membiarkan saudara sendiri tinggal didalam penjara dalam kurun waktu seumur hidupnya."


Didit masih diam, dirinya sejenak memikirkan keputusan yang akan dia ambil.


'Mana mungkin kak Anin mau menikah dengan lelaki yang lumpuh dan emosional, pasti sangat berat.


"Bagaimana, sudah ada keputusan yang mau kamu ambil? kamu tidak perlu khawatir, ada tempat tinggal untuk kamu, dan juga pekerjaan untuk kamu."


"Saya ingin membicarakannya dulu dengan kakak saya, karena saya tidak ingin memaksanya." Jawab Didit yang tidak ingin memaksa kakaknya.


"Baiklah, kami akan menunggu keputusan dari kamu sampai hari besok. Sekarang, akan kami perkenalkan kamu dengan putra kami lumpuh, agar tidak menjadi tanda tanya besar di dalam pikiran kamu."


Didit mengangguk.


"Ya, Pak, saya ingin melihat kondisi putra Bapak. Setidaknya saya sudah mengetahui lelaki yang akan menikah dengan kakak saya." Jawab Didit.


Kemudian, Didit diajak masuk ke kamar putra dari Tuan Mawan dan istrinya yang bernama Yenizar.


Dengan pelan, Tuan Mawan membuka pintu kamar putranya dengan lebar.


Kedua mata Didit terbelalak melihatnya, sungguh sangat terkejut saat melihat lelaki tengah bersandar di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Kak Elang." Sebut nama Elang seperti tidak percaya.


Kemudian, Tuan Mawan menutup kembali pintunya.


"Kamu sudah mengenalnya, bukan?" tanya Tuan Mawan, sambil mengarahkan untuk duduk di ruangan yang tidak jauh dari kamar putranya.


Didit diminta untuk duduk, dan berhadapan kembali dengan pemilik rumah. Saat itu juga, Didit mulai bingung dengan semuanya yang terjadi, seakan semakin besar permasalahannya.


"Elang putra kami satu-satunya, dan harapan kami tentunya. Naas, setelah pulang dari luar negri, Elang mengalami kecelakaan dalam perjalanan, dan menewaskan supir pribadi kami. Padahal, dirinya mempunyai rencana pulang ke kampung untuk bertemu Kakak kamu dan juga teman-teman yang lainnya. Tapi, kenyataan tak sesuai harapan, sudah dua tahun ini, Elang mengalami kelumpuhan dan setiap harinya selalu emosi dan mengurung diri di kamar." Ucap ayahnya Elang menjelaskan.


"Maka dari itu, sejak wajah kakak kamu muncul di media sosial dan layar televisi, kami memerintahkan anak buah kami untuk menyelidiki siapa kakak kamu sebenarnya. Dan benar saja, orang yang mirip di foto kamar anak kami, rupanya perempuan yang selalu muncul di kabar berita. Tidak menunggu lama, kami dapat menguak semuanya." Timpal ibunya Elang.


Didit benar-benar tidak menyangka, jika hilangnya kabar dari Elang adalah karena insiden kecelakaan yang mengakibatkan kelumpuhan.


Didit kembali teringat akan semua kebaikan dari Elang, dan selalu membantu keluarganya saat mendapatkan kesusahan. Bahkan, motor pemberian dari Elang, pun masih ada dan masih terawat dengan baik.


Tidak mungkin baginya untuk menolak, tapi bagaimana dengan kakaknya, pikir Didit yang mulai bingung dengan keadaan yang begitu rumit untuk dipecahkan.


"Bagaimana, apakah kamu akan menemui kakak kamu dulu? atau kamu akan memberi keputusan langsung pada kami."


Didit yang merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari ayah Elang, mencoba untuk memikirkan kembali.


'Aku harus menjawabnya apa, kasihan juga dengan kak Elang. Ya, aku sudah tahu dari dulu, jika kak Elang menyukai kak Anin. Tapi, ternyata keduluan kak Andika yang lebih dulu mendekati dan menyatakan cintanya langsung pada kak Anin." Batin Didit sambil berpikir.


"Bagaimana keputusan kamu, Nak Didit?" tanya Tuan Mawan.


Didit yang tidak ingin ambil pusing, akhirnya nekad untuk memberi keputusan.

__ADS_1


'Semoga, keputusanku ini tidak salah.' Batin Didit yang sudah bulat dengan keputusannya, dan tidak peduli jika sang kakak akan marah besar, setidaknya bisa bebas, untuk langkah selanjutnya, dapat dipikirkan kembali, pikirnya.


"Saya menyetujui tawaran dari Bapak dan Ibu, saya terima jika kakak saya harus menikah dengan putra Bapak dan Ibu." Jawab Didit yang akhirnya memberi keputusan sendiri..


Tidak peduli baginya, jika sang kakak harus menikah dengan lelaki pilihannya.


"Kamu serius? jika keputusan kamu sudah bulat, maka besok juga, kakak kamu akan langsung menikah dengan putra kami."


"Saya serius dengan keputusan yang saya berikan, Pak." Jawab Didit yang akhirnya memberi keputusan.


"Baiklah. Karena ini sudah malam, dan waktunya untuk makan malam, kamu boleh menginap di rumah ini, besok kita akan berangkat bersama ke kantor polisi untuk membebaskan kakak kamu." Ucap ibunya Elang.


"Tapi, benar kan, Bu. Kalau kakak saya akan dibebaskan, dan tidak akan lagi masuk ke dalam sel tahanan. Karena saya tidak ingin keputusan saya hanya akan dimanfaatkan oleh Ibu dan Bapak."


"Untuk apa memenjarakan kakak kamu, kalau pada akhirnya anak saya bahagia."


"Saya tidak bisa menjamin, jika kakak saya akan luluh dan jatuh cinta dengan kak Elang. Justru saya takut, jika kakak saya menaruh curiga dengan kak Elang, tentang kematian kak Andika." Kata Didit tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Kedua orang tua Elang tersenyum mendengarnya.


"Kamu tidak perlu takut, dan juga cemas. Kamu cukup mendukung kakak kamu menikah dengan putra kami, yaitu Elang."


"Kalau Bapak dan Ibu mengizinkan, saya ingin bertemu dengan kak Elang. Sudah lama kami tidak pernah bertemu dan juga mengobrol."


"Boleh, tapi kamu harus hati-hati jika berbicara dengannya. Karena Elang yang kamu kenal, bukan Elang yang kamu kenali seperti dulu. Bahkan, dia akan terlihat sombong di hadapan kamu. Apakah kamu sudah siap untuk berteman dengannya? jika ya, kamu boleh menemuinya. Yang kami takutkan, kamu akan merasa kesal saat bertemu dengannya." Ucap ibunya Elang mencoba untuk memastikannya.


Didit yang penasaran akan perubahan sosok Elang yang dikenalinya dulu, akhirnya mengiyakan untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


"Ya, Bu, saya siap untuk bertemu dengan Kak Elang." Jawab Didit penuh yakin.


"Baiklah, kamu boleh menemuinya sekarang." Ucap ibunya Elang, Didit mengangguk dan langsung bangkit dari posisi duduknya.


__ADS_2