Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Tidak disangka


__ADS_3

Sampainya di ruangan acara, Anin tengah membawakan satu nampan yang terdiri beberapa gelas yang berisi minuman.


PYAAR!


Suara gelas terjatuh berhamburan, saat Anin terkejut melihat sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Tubuhnya yang gemetaran, membuat dirinya kesulitan untuk mencernanya sendiri. Pandangannya lurus ke depan, kedua matanya berkaca-kaca, sungguh seperti mimpi buruk.


Begitu juga dengan lelaki yang ada di hadapannya itu, sama halnya terkejut dan seperti mimpi.


"A-a-a-Aaaanin!"


"Andika." Ucapnya lirih dan dibarengi dengan tetesan air matanya.


Lara bingung dibuatnya. Sementara, calon tunangannya langsung melepaskan tangan milik Lara.


Dan, langsung memeluk Anin sangat erat.


"Anin! kamu, aku sangat merindukanmu." Ucapnya sambil memeluk tubuh kekasihnya.


Semua yang ada di ruangan tersebut, sontak dibuatnya kaget, termasuk Lara sendiri. Sungguh pemandangan yang benar-benar tak terduga, jika akan ada kejadian yang sangat menyakitkan.


Anin yang kesulitan untuk bernapas, sekuat tenaganya mencoba berlepas diri dari pelukan. Takut disangka perempuan tidak benar, itu sudah pasti.


"Lep-lep lepaskan!"


Andika langsung melepaskan pelukannya.


"Anin, maafkan aku." Ucap Andika, sedangkan yang lainnya menjadi pendengar dan saksinya.


"Tunggu! ada apa ini? apa maksud dari semua ini?"


Lara yang sudah emosi sampai ke ubun-ubun, langsung bertanya tanpa basa-basi.


Andika langsung meraih tangan Anin dan menggenggamnya erat.


"Kamu ingin tahu jawabannya dari dulu, bukan? perempuan yang ada di sebelahku ini adalah kekasihku. Tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan posisi dia di hatiku, sekalipun itu kamu."


Jawab Andika dengan terang-terangan, dan disaksikannya langsung oleh semua yang ada di ruangan tersebut, termasuk beberapa asisten rumah, yang tidak lain Didit, adik dari Anin.


Tubuh Anin masih gemetaran saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh kekasihnya uang yang tidak lain adalah Andika.

__ADS_1


Seseorang lelaki paruh baya berjalan mendekati Andika dan Anin.


PLAK!


"Anak tidak tahu diri, tidak tahu arti balas budi! dikemanakan otakmu itu, Dika." Bentak dari seorang ayah yang emosinya sudah meluap.


Andika menelan ludahnya dengan kasar, dirinya juga serasa tak ingin kalah untuk meluapkan segala emosinya. Tapi, di satu sisi dirinya berada di rumah orang. Tentu saja, Andika tidak ingin membuat keributan yang lebih besar.


Tapi, apa hendak dikata, jika emosinya sulit untuk dikendalikan.


"Papa bilang apa tadi? aku anak tidak tahu diri, Papa bilang? apa aku tidak salah dengar?"


"Andika, jaga ucapan kamu itu. Seharusnya kamu itu beruntung, akan menikah dengan Lara. Perempuan dari keluarga baik-baik, tidak seperti perempuan yang ada di sebelah kamu."


"Cukup! jangan hina Kakakku. Biarpun kami sangat miskin, Kakakku adalah perempuan yang baik-baik." Sahut Didit yang sudah merasa geram saat kakaknya mendapatkan hinaan.


Anin masih bingung dengan apa yang dihadapi, antara nyata dan mimpi.


"Malam ini juga, tidak ada lamaran apapun tentang diriku. Jika Papa tidak terima, aku akan kembali ke kampung mendiang ibuku. Dan aku tidak butuh dengan kemewahan apapun dari kalian, camkan! itu."


PLAK!


Lagi-lagi sang ayah menampar salah satu pipinya.


Saat itu juga, Ibunya Lara jatuh pingsan.


"Mama!" teriak Lara saat mendapati ibunya jatuh pingsan.


Semua kaget dibuatnya, dan segera membawa Beliau ke rumah sakit.


"Nyonya!" teriak Anin khawatir.


"Lepaskan, aku harus meminta maaf dengan Nyonya." Ucap Anin pada Andika, dan berusaha untuk melepaskannya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu tidak tidak bersalah." Kata Andika yang tetap menggenggam tangan milik Anin, kekasihnya.


Sedangkan yang lainnya ikut pergi mengantar ke rumah sakit, termasuk ayah Andika sendiri.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ibuku, kau akan berurusan denganku." Ucap Tian memberi peringatan, serta ancaman kepada Andika.


"Aku tidak takut, karena bukan aku penyebabnya." Jawab Andika dengan enteng, sedangkan Tian sendiri langsung pergi begitu saja untuk mengejar ibunya yang dilarikan ke rumah sakit.

__ADS_1


Beberapa asisten yang lainnya, pun benar-benar tidak menyangkalnya.


"Aw!" pekik Andika saat tangannya mendapatkan gigitan dari Anin, kekasihnya.


Saat itu juga, Anin langsung berlari pergi ke luar.


"Anin!" teriak Andika saat kekasihnya kabur dari hadapannya, dan langsung mengejarnya.


"Kak Anin! Kak, tunggu!" teriak Didit yang juga langsung mengejar kakaknya.


Anin terus berlari, tidak peduli dengan jalanan yang dipadati banyaknya kendaraan yang lalu lalang.


Andika maupun Didit yang juga tidak berhenti untuk mengejarnya, karena perasaan khawatir.


Saat berada di tengah-tengah jembatan, Anin berhenti dan tidak ada henti-hentinya untuk menangis. Haruskah dirinya bahagia atau bersedih, Anin begitu sulit untuk memahami dirinya sendiri.


Dengan pikirannya yang terasa penat, Anin duduk di atas jembatan sebelah pinggir. Anin duduk meringkuk, menahan rasa penat di kepalanya.


"Anin, maafkan aku." Ucap Andika yang tiba-tiba langsung memeluk tubuh Anin yang sedang meringkuk.


"Lepaskan, jangan sentuh aku." Jawab Anin yang terus berusaha untuk berlepas diri dari kekasihnya.


"Aku bisa jelasin semuanya sama kamu, aku mohon dengarkan dulu penjelasan dariku. Ayo ikut aku, tidak baik jika kita bicarakan di sini." Ucap Andika berusaha merayu kekasihnya.


"Benar, Kak. Kalian berdua harus selesaikan permasalahan kalian, jangan seperti ini." Kata Didit ikut menimpali.


"Nin, ayolah bangun, selesaikan dulu masalah kita. Aku ingin menjelaskan semuanya sama kamu, dan juga Didit adikmu." Ucap Andika berusaha untuk merayunya.


Didit yang tahu bagaimana sifat kakaknya, dirinya memberi kode pada Andika untuk menyingkir.


Awalnya menolak dan tetap mengajak Anin untuk pindah tempat. Tetap saja, Anin sama sekali tidak mendapatkan respon darinya. Pada akhirnya, Andika nurut dengan apa yang diminta oleh Didit.


"Kak, kalau Kak Anin memang sudah dewasa, selesaikan masalah Kakak ini dengan tidak seperti anak kecil. Bukankah Kak Anin sudah berjanji denganku, bahwa Kak Anin akan siap menerima segala resikonya, 'kan? terus, janji Kakak mana? ayo kita pindah tempat dan selesaikan masalah Kakak dengan Kak Andika dengan baik-baik." Ucap Didit mencoba mengingatkan, Anin langsung mendongak.


Dengan penuh kasih sayang seorang adik pada kakaknya, Didit mengusap air mata sang kakak dengan ibu jarinya.


"Kakak tidak perlu takut, ada aku yang akan menjaga Kakak." Ucapnya lagi saat menghapus air matanya, Anin mengangguk.


Kemudian, Didit membantu kakaknya untuk berdiri. Lalu, mengajaknya ke suatu tempat yang kiranya bisa dijadikan tempat untuk mengobrol dengan leluasa. Andika sendiri mengikutinya dari belakang.


Ketika sudah berada di tempat yang kiranya cocok untuk mengobrol, Didit mengajak kakaknya untuk duduk.

__ADS_1


"Nah, di taman ini sepertinya cocok untuk kalian mengobrol. Silakan kalian selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin, jangan mengandalkan emosi kalian untuk merasa paling benar." Ucap Didit, sedangkan Andika mengiyakan, Anin hanya mengangguk tanpa bersuara.


__ADS_2