Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Mengajak pergi


__ADS_3

Setelah memberi pekerjaan untuk teman-temannya, Didit berpamitan untuk pulang.


"Aku pulang duluan, ya. Kasihan Kakakku sendirian di rumah, lain waktu aku ikutan lagi kumpul seperti ini. Jangan lupa, besok datang ke rumah lebih awal." Ucap Didit berpamitan.


"Ya Dit, hati-hati dijalan. Salam ya, buat kakak kamu."


"Jangan mau, Dit, Edi pengangguran." Timpal teman yang satunya.


"Apaan sih kamu ini, siapa tahu aja aku dan Kakaknya Didit berjodoh." Jawabnya, Didit hanya tertawa kecil mendengarnya.


"Mimpimu itu terlalu kejauhan, noh si Markonah kesepian, pepet aja." Ucapnya


"Hem. Markonah kamu bilang, buat kamu aja." Jawabnya.


"Sudah ah, aku pulang duluan. Ingat ya, besok berangkat pagi." Ucap Didit dan segera pulang.


"Ya, Dit." Jawab semua temannya serempak.


kemudian, Didit meninggalkan tempat tongkrongan.


Tidak memakan waktu lama, Didit sampai di depan rumah. Dengan pelan karena takut mengganggu tidurnya sang kakak, Didit membuka pintunya.


Ketika motor sudah dimasukkan kedalam rumah, Didit kembali mengunci pintunya.


"Baru pulang, kamu?" tanya sang Kakak yang tiba-tiba mengagetkan.


"Kak Anin belum tidur?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari sang kakak, justru Didit balik bertanya.


"Kakak tanya sama kamu, kamu tidak minum 'kan?"


"Apaan sih Kak Anin ini, ya minum lah, tapi bukan yang beralkohol. Tenang aja, Didit masih bisa jaga diri. Kakak kenapa belum juga tidur?"

__ADS_1


"Tentu saja mengkhawatirkan kamu. Sudah hampir larut malam, buruan cuci muka dan tidur." Jawab Anin dan tak lupa selalu mengingatkan adiknya untuk beristirahat, agar tidak kebablasan bergadang.


"Terima kasih ya, Kak, selalu mengingatkan aku dan selalu memberi perhatian."


"Sudah jelas kamu itu adikku, tentu saja aku akan selalu memberi pengawasan ketat untukmu." Kata Anin yang terus memberi nasehat untuk adiknya.


"Adik, ya, adik. Baiklah, aku akan istirahat seperti yang Kak Anin perintahkan." Jawab Didit dengan tangan yang memberi hormat.


"Jangan ngelawak, buruan masuk kamar."


"Tambah galak aja sekarang mah, jiwa seorang ibu sepertinya sudah mau melekat pada diri Kakak. Buruan nikah geh, biar aku cepat punya keponakan. Setidaknya aku ada temannya ketika diomelin."


"Didit!"


"Ya, Kakakku sayang. Siap, Bos, siap." Jawab Didit dan langsung ngacir masuk ke kamarnya.


Setelah menyuruh adiknya untuk beristirahat, Anin kembali masuk ke kamarnya. Cukup menguras pikiran saat dirinya sendirian di tinggal adiknya nongkrong, Anin terus membaca ulang lembaran kertas dari ibunya.


Tidak ingin kesehatan dirinya terganggu, Anin kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Beberapa kali mencoba untuk memejamkan keduanya matanya, tetap saja hasilnya nihil.


"Siapa orang tua kami sebenarnya? kenapa begitu tega membuang kami? apakah Aku dan Didit ini anak pembawa sial? hingga orang tua kami rela mengabaikan kehadiran kami?" gumam Anin bertanya-tanya.


Semakin larut malam, Anin memejamkan kedua matanya dan memaksa diri untuk tidur. Berharap, tidurnya akan mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi seperti mimpi dan harapannya.


Begitu juga dengan Didit, sama halnya tidak dapat untuk tidur. Susah payah untuk memejamkan kedua matanya, yang ada hanya gelisah sendiri.


"Didit, ini sudah malam, ayo tidurlah." Gumamnya untuk memaksakan diri untuk tidur.


Rasa kantuk yang tidak dapat untuk ditahan, akhirnya menyerah dan tidur dengan sendirinya.


Bangun bangun ayam sudah berkokok, pertanda sudah pagi dan waktunya untuk bangun.


Bangun pagi-pagi sudah menjadi kebiasaan Anin, Didit, dan ibunya. Karena apa? karena tuntutan untuk melakukan aktivitasnya masing-masing yang sudah mendapatkan tugas sendiri-sendiri.

__ADS_1


Meski keduanya sama-sama kuliah, tidak menjadi hambatan untuk membantu ibunya bekerja. Sampai saat ini, Anin maupun Didit, keduanya tetap bertanggung jawab dengan tugasnya masing-masing.


"Kak Anin udah bangun?" tanya Didit yang hendak mau masuk ke kamar mandi, dan mendapati sang kakak yang sudah sibuk di dapur.


"Pagi ini, Kakak tidak usah membuat sarapan. Cukup pengganjal perut aja, karena aku mau mengajak Kakak untuk liburan. Sudah lama sejak Ibu meninggal, Kakak tidak pernah liburan. Sekalian, merayakan kelulusan Kakak di kampus." Sambungnya lagi, Anin langsung menoleh ke arah sang adik.


"Liburan? liburan kemana?" tanya Anin penasaran.


"Liburan kemana aja, yang penting bisa menghilangkan kejenuhannya Kakak. Selama ibu meninggal, aku tidak pernah mengajak Kak Anin jalan-jalan. Jadi, apa salahnya jika kita jalan-jalan seperti dulu. Meski tidak ada ibu, setidaknya kita tetap seperti dulu." Jawab Didit menjelaskan, dan berharap kakaknya tidak akan menolak ajakannya.


"Tapi, Dit, Kakak lagi tidak ingin kemana-mana, lain kali aja ya. Lagi pula, hari ini pekerjaan Kakak sangat padat." Ucap Anin menolak ajakan adiknya.


"Kakak tidak perlu memikirkan pekerjaan, aku sudah mengatasinya. Semalam aku keluar itu, mencari pekerja yang mau mengganti posisi kita. Mereka semua teman-teman aku, dan nanti aku yang akan memberi arahan dah penjelasan kepada mereka." Jawab Didit dengan jujur.


"Tapi, Kakak tidak bisa percaya begitu aja sama teman-teman kamu, Dit. Kalau ternyata mereka tidak bisa di andalkan, bagaimana? nanti barang-barang yang akan dikemasi tidak sesuai yang biasa mereka pesan, gimana?"


"Kakak tenang aja, mereka juga kerjanya mengemasi, dan juga mengurus kebon buah. Jenis buah-buahan apa saja, mereka sudah sering melakukan pekerjaan itu." Jawab Didit dengan memberi penjelasan kepada kakaknya, Anin hanya bisa nurut sama adiknya.


"Apa tidak sebaiknya liburannya kita tunda dulu? gimana kalau kita cari waktu yang tepat."


"Waktunya yang tepat itu, kapan lagi, Kak? nunggu aku lulus kuliah? kelamaan. Ujung-ujungnya nanti bakal Kakak tolak lagi, yang inilah, itulah, akhirnya gagal. Sudah ah, aku yang akan bertanggung jawab semuanya. Pokoknya Kak Anin hanya nurut aja denganku, itu saja." Kata Didit yang tidak bisa diganggu gugat atas keputusannya.


"Ya deh, ya. Terus, pagi ini kamu mau sarapan sama apa?" jawab Anin dan bertanya.


"Teh tawar sama sisa roti yang kemarin juga bisa, cuma untuk pengganjal perut aja." Jawab Didit.


"Ya sudah, kamu mandi aja dulu." Kata Anin.


"Mandinya nanti, kalau teman-teman aku sudah datang. Karena aku harus membagi tugas untuk mereka bertiga, karena akan ada yang mengawasi di kebun. Takutnya ada kelupaan saat buah di panen. Setidaknya tidak ada buah busuk atau yang lainnya tertinggal dibawah pohonnya." Jawab Didit yang memilih untuk menunggu ketiga temannya datang.


"Ya udah, Kakak mau beresin gudang dulu."


Ucap Anin untuk menyiapkan segala kebutuhan yang mau digunakan untuk mengemasi barang dan memisahkan barang yang super dan yang standar.

__ADS_1


Didit yang sudah tidak sabar, dan juga takut jika temannya lupa, segera menghubungi ketiga temannya.


__ADS_2