Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Kehilangan


__ADS_3

Anin masih gelisah, lantaran sedari tadi masih menunggu hasil pemeriksaan untuk ibunya.


"Yang bernama Anin dan Didit, mana?" tanya seorang perawat sambil celingukan mencari dua orang.


"Kami berdua putra dan putri dari Ibu Ami, Sus." Sahut Anin dengan tanggap.


"Silakan masuk, Ibu kalian sudah menunggu." Ucapnya mempersilakan untuk masuk ke dalam ruangan.


Anin dan Didit yang sudah tidak sabar, segera ia menemui ibunya. Sampainya berada di dalam ruangan tersebut, Anin langsung mendekat bersamaan dengan Didit.


Anin langsung meraih tangan kanannya, sedangkan Didit, tangan sebelah kiri.


Keduanya menangis saat melihat kondisi ibunya yang begitu memprihatinkan dengan keadaan yang sedang tidak baik.


"Nak Anin, maafkan Ibu yang belum sempat membahagiakan kamu. Maafkan Ibu, Nak ...." Ucap Ibu Ami sambil menatap wajah sendu milik putrinya.


"Ibu jangan bicara seperti itu, Anin sudah sangat bahagia karena sudah dibesarkan oleh Ibu. Bahkan, Anin mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dan juga sempurna. Tidak hanya itu, sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikan Anin, Bu. Seharusnya Anin yang harus meminta maaf, jika selama ini Anin belum sempat membahagiakan Ibu. Maafkan Anin, Bu." Jawab Anin sambil menangis sesenggukan.


"Didit, kamu harus menjadi kelamin kuat dan bertanggung jawab ya, Nak. Ibu titip Kakak kamu, untuk menjaganya dari lelaki yang tidak bertanggung jawab. Maafkan Ibu, jika selama ini kasih sayang dari Ibu tidak adil untuk kalian berdua. Jujur, kalian adalah kesayangan Ibu." Ucap Ibu Ami pada Didit, putranya.


"Itu sudah pasti, Bu. Didit akan selalu menjaga Kak Anin dari lelaki yang tidak bertanggung jawab, dan akan selalu berada di dekat Kakak. Maafkan Didit ya, Bu. Jika selama ini Didit sering bikin Ibu kesal dan emosi. Didit janji, akan merubahnya lebih baik lagi." Jawab Didit dengan tatapan yang terlihat tengah bersedih.


Ibu Ami langsung memeluk Anin dan Didit bersamaan, meski dengan posisi berbaring di atas ranjang pasien.


Saat itu, tiba-tiba tubuh Ibu Ami berubah tak berdaya. Anin dan Didit langsung memeriksa ibunya karena tidak mendapatkan respon, melainkan kedua tangannya terjatuh.


"Ibu, Bu, Ibu, bangun, Bu." Panggil Anin sambil menangis dan menggoyangkan tubuh ibunya.


"Bu, bangun, Bu." Panggil Didit yang juga sama halnya menggoyangkan tubuh ibunya, berharap akan ada reaksi.


Karena sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari ibunya, Didit langsung menekan tombol.


Dengan cepat, seorang dokter telah datang ke ruangannya. Kemudian, memeriksa kondisi Ibu Ami yang sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Dari detak jantung, napas lewat hidung, dan terakhir ke denyut nadi.


Sang Dokter menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Ibu kalian sudah tiada." Ucap seorang dokter di hadapan Anin dan Didit.


"Apa Dok? tidak, pasti salah memeriksa kan Dok? coba Dok, periksa lagi Ibu kami." Kata Anin yang tidak percaya mendengar penuturan dari Sang Dokter.


"Benar, Ibu kalian sudah tiada." Jawab Dokter.


Anin dan Didit kembali menoleh dan tidak lagi melihat wajah ibunya karena sudah ditutup dengan kain.


"Ibu ...!" teriak Anin dan Didit bersamaan.


Keduanya kembali memeluk, tapi di tahan oleh kedua perawat. Sedangkan tetangganya yang ikut mengantar, diminta untuk menangani Anin yang masih belum percaya dengan kepergian ibunya.


Begitu juga dengan Didit, sama halnya di tenangkan oleh tetangganya, yakni suami yang tengah menenangkan Anin.


"Kamu yang sabar ya, Nak. Percayalah, semua ini sudah takdir. Kita tidak bisa mencegahnya, semua akan ada waktunya, dan kita tinggal menunggu giliran. Relakan dan terima semuanya dengan hati yang lapang, jangan terus-menerus untuk kamu tangisi. Doakan yang terbaik untuk Ibu kamu, Nak." Ucap Ibu paruh baya mencoba memberi nasehat kecil untuk Anin.


Sedangkan Didit, tengah duduk termenung ditemani oleh lelaki paruh baya, yakni tetangga sebelah rumah.


"Yang sabar ya, Nak Didit. Bapak bisa mengerti keadaan kamu saat ini, pasti sangat hancur. Tapi, kenyataan ini adalah takdir, dan kita tidak bisa mengelak maupun untuk menolak. Terima takdir ini dengan hati yang lapang, dan doakan yang terbaik untuk Ibu kamu." Ucap bapak tersebut menguatkan hati Didit yang tengah rapuh.


Sambil menunggu jenazah di urus sampai selesai, Anin maupun Didit tengah ditemani oleh tetangga rumahnya.


Agar tidak terburu-buru, bapak tersebut menghubungi salah satu tetangganya untuk dimintai pertolongan mengenai pengurusan pemakaman.


Cukup lama menunggu dan mengurus pemulangan jenazah, akhirnya dapat diproses dengan cepat.


"Nak Anin, ayo kita pulang." Ajaknya pada Anin.


Dengan tubuhnya yang terasa sempoyongan, sekuat mungkin untuk bisa berjalan. Begitu juga dengan Didit, terasa berat untuk menyangga berat badannya sendiri.

__ADS_1


Hancurnya ditinggal pacar pergi, lebih hancur ketika melihat ibunya yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Anin berjalan dengan sempoyongan, dan akhirnya naik dalam mobil. Cukup lama menempuh perjalanan pulang, rupanya sudah sampai di halaman rumahnya yang sudah di padati orang-orang yang melayat.


Semakin berderai air matanya saat melihat rumahnya menjadi tempat berkabung, hancur sudah perasaannya. Baru saja turun dari mobil, Anin jatuh pingsan.


Dengan sigap, orang yang kebetulan melihat Anin, langsung menangkap tubuhnya.


Secepatnya, langsung menggendong Anin sampai di dalam rumah.


Didit yang panik saat kakaknya jatuh pingsan, dirinya langsung mengejar masuk kedalam rumah.


"Kak, Kak Anin, bangun." Panggil Didit disebelah sang kakak.


"Tolong, ambilkan air putih dan minyak anginnya." Pinta seorang ibu-ibu yang tengah membantu untuk menyadarkan Anin yang jatuh pingsan.


Tidak lama kemudian, ketiga temannya yang perempuan telah datang bersamaan dan ditemani Burnan.


"Nin, bangun dong Nin." Panggil ketiga temannya yang mencoba untuk membangunkan Anin yang sedang tidak sadarkan diri.


Saat mendapatkan reaksi karena minyak angin, Anin diminta untuk minum air putih. Berharap, pikirannya sedikit tenang dan tidak terus-menerus menangis histeris.


Ketika sadarkan diri, Anin celingukan ke sana kemari. Terlihat jelas tengah mencari keberadaan ibunya, Anin masih saja meneteskan air matanya.


Didit meraih tangan kakaknya dan menggenggamnya erat.


"Kak, relakan Ibu pergi. Kita harus terima takdir ini, dan kita tidak bisa untuk menolaknya. Semua pasti akan kembali, tinggal menunggu waktu yang sudah ditentukan." Ucap Didit yang berusaha untuk menguatkan hati kakaknya.


Memang sangat rapuh untuk menerima kenyataan, tetapi kematian tetaplah kematian yang tidak bisa untuk menolak.


Anin masih menatap ke sembarangan arah, serasa tidak percaya jika ibunya sudah tiada begitu cepat waktu untuk memisahkan dirinya dengan ibunya.


Ketiga temannya langsung memeluk erat tubuh Anin, untuk menguatkan hatinya agar tidak rapuh terlalu dalam.

__ADS_1


__ADS_2