
Sedangkan di ruang kamar Tuan Mawan, sang istri baru saja menerima kirimin berkas serta barang berharga milik menantunya.
"Coba dibuka isinya, Ma. Jangan lama-lama bukanya, dan juga jangan bikin Papa jadi penasaran, sepertinya sesuatu yang sangat berharga didalam tas itu."
"Sabar dong, Pa. Ini juga baru mau Mama buka, palingan juga berkas biasa, ijazah sekolah mungkin." Jawab istrinya, ibunya Elang mulai merogoh dan mengambilnya dari dalam tas.
Kemudian, mulai dibuka isi dalam tasnya.
Lembaran demi lembaran telah di baca oleh Tuan Mawan bersama istrinya.
"Ini kartu keluarganya, tuh ada nama adiknya. Dan itu, sepertinya akte milik istrinya Elang. Satunya lagi ijazah sekolah keknya. Tunggu, tunggu."
Kata Tuan Mawan, dan langsung menyambar lembaran kertas yang menurutnya membuat penasaran dan ingin tahu. Kemudian, Beliau membacanya.
"Anin sarjana, Ma." Ucap Tuan Mawan saat mengetahui jika menantunya adalah seseorang yang berpendidikan.
Sang istri langsung menoleh pada Tuan Mawan, dan merebutnya dari suaminya.
Penasaran dengan sosok menantunya, langsung memeriksanya.
__ADS_1
"Anindita Rahtair Pratama." Ucap ibunya Elang seperti tidak percaya saat membaca nama asli milik menantunya.
Tuan Mawan yang melihat istrinya gemetaran saat membaca nama asli milik menantunya, Beliau langsung merebutnya dan mengoreksi. Takutnya, sang istri hanya terbawa halusinasi saja, pikirnya.
"Anindita Rahtair Pratama, benarkah? ini mungkin kebetulan yang namanya sama. Bukankah kedua anak Rahtair sudah meninggal bersamaan dengan Rahtair sendiri?"
Tidak hanya sang istri saja, ternyata Tuan Mawan sendiri juga seperti tidak percaya saat membacanya.
"Ma, ambil punya Didit." Perintah sang suami untuk mencocokkan milik Didit dengan menantunya, takutnya ada perbedaan diantara keduanya.
"Tunggu sebentar, Pa. Mama mau ambilkan punya Didit, soalnya kemarin itu tidak Mama cek." Jawab sang istri, dan segera mengambilnya.
Dengan tergesa-gesa karena tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya, ibunya Elang segera mengambilnya. Sedangkan Tuan Mawan mencoba merogoh kembali tas milik menantunya.
Seketika, kedua bola mata Tuan Mawan membulat dengan sempurna saat melihat benda kecil yang ada ditangannya.
"Kotak Liontin," gumam Tuan Mawan seraya tidak percaya saat memegangi kotak kecil dari dalam tas milik menantunya.
"Apa itu, Pa?" tanya sang istri sambil membawa berkas milik Didit.
__ADS_1
Kemudian, ibunya Elang langsung meraih benda tersebut dari tangan suaminya.
"Dari mana kotak ini, Pa? Papa ngambil punya Elang kah?" tanya sang istri saat mengamati bentuk kotak liontin.
"Aku ambil dari tasnya Anin." Jawab Tuan Mawan.
"Apa, punya Anin?" tanya ibunya Elang sambil mengamati kotak tersebut, antara percaya dan tidak percaya.
"Apakah benar, kalau Anin putranya Rahtair, Mama jadi penasaran. Dari mana Anin mendapatkan kotak ini? Mama harus menanyakan langsung pada Anin, Pa."
"Ya, Ma. Sekarang juga, Mama cek punya Didit." Pinta sang suami untuk mengecek yang satunya, yakni milik Didit.
Dengan rasa penasaran, ibunya Elang segera memeriksanya.
Sambil memikirkan kepunyaan Anin, Beliau mulai mengingat kembali masa lalu yang sudah begitu lamanya.
"Cepetan dibuka, Ma." Pinta Tuan Mawan yang sudah tidak sabar ingin melihatnya langsung.
Dengan seksama, ibunya Elang membacanya, tak ada satu katapun yang terlewatkan.
__ADS_1
Sungguh, semua di luar dugaannya.
"Aditya Rahtair Pratama. Masih sama, Pa. Berarti benar, mereka berdua anaknya Rahtair yang dinyatakan meninggal." Jawab ibunya Elang.